Langsung ke konten utama

Postingan

Haur Duka

Sebongkah asap terbang, ia terpaku menunjukkan diri di depan mataku  Wajahnya pucat pasi  Sepertinya duka lara ialah tubir hidupnya Aku tak mendengar apa-apa Tiba-tiba, aku ikut menangisi kepedihannya  Ternyata, begini rasanya Memanusiakan yang bukan manusia "Cambuk terperih ialah luka hati, ia abadi, dalam wujud menakutkan" Ucapnya. —Dinie Wicaksani

#OpiniRakyat Apa Mulai Dibatasi?

  Musabab tulisan ini tidak diperkenankan di upload oleh Ins**g*m, berkali-kali diunggah tapi gagal, dengan alasan adanya tagar opini rakyat, maka kita abadikan di sini saja.. "Anjirlah dibego-in negara lagi!" Celetuk kita di dalam hati, ketika membaca berita harian di sosmed. Makin hari, negara ini makin lucu ya? Mulai dari kebijakan-kebijakan ambisius yang penerapannya kurang jelas, korupsi, monopoli kekuasaan, sampai pada penindasan terhadap kebebasan berekspresi.  Kita bahkan sangsi, apakah nanti anak cucu kita masih akan mengalami keterpurukan semacam ini atau tidak. Yang jelas, negara telah menjanjikan kedaulatan dan kesejahteraan. Namun, dalam penerapannya, justru membuat rakyat hancur berkeping. Kenapa ya, dalam setiap rezim pemerintahan ini selalu terjadi? Gue jadi ingat sama pemikiran ahli logika modern, Bertrand Russel, tentang kepercayaan diri. Seseorang yang bodoh akan selalu percaya diri, sedangkan orang yang cerdas akan selalu ragu. Jika keduanya diberikan keku...

Jikalau Rindu Kadaluarsa

Entah dalam konteks apa, kepalaku tiba-tiba menangkap sinyal yang tak biasa. Seperti ingin mencari-cari hal yang telah hilang, atau sekedar mengorek sesuatu yang telah usang terkubur, kepalaku hingar menemukan pertanyaan yang cukup aneh. "Akankah rindu akan kadaluarsa?" Ya, memang terdengar seperti remaja labil yang sibuk melucuti kebodohannya sendiri dalam romantisme cinta monyet.  Terdengar seperti bayangan semu yang digurat secara sengaja, cinta monyet dan romantisme remaja itu seringkali membawanya pada rindu yang enggan berkesudahan, katanya.  Meskipun, tedeng alih seperti romantika teenlit khas generasi akhir 90-an, rindu yang jatuh pada keningku, mungkin mampu dirasakan oleh semua makhluk. Benar saja, sebab ini bukan sembarang rindu, tetapi rindu yang telah digariskan. Seperti garis nadi yang diciptakan melingkar pada tangan, rindu bisa saja jatuh dalam takdir yang sama. Seakan-akan terlihat tidak mampu ditolak, atau diacuhkan begitu saja. Rindu menjelma seperti rina...

Memori-memori Tua dalam Segelas Papua Wamena

Entahlah, lagi-lagi aroma kembali menyudutkanku pada memori-memori usang yang bahkan telah dikubur dalam-dalam. Aroma seperti genderang yang membangunkan seluruh penduduk yang tidur, dan seperti angin muson Timur yang memanggil puluhan nelayan untuk berlayar.  Aroma menyeruak seakan berjuta neuron dalam otak bersatu padu menguak 'sebendel' dokumen di laci-laci memori.  Sesaat setelah kubuka kain goni berisi kopi ini, aroma yang tak asing menghampiri. Betapa hingar, aroma Papua Wamena ini menyeruak pelan. Bebungaan dan citrus memapas hidungku. Rasa masam dan pahit yang kukenali, telah memenuhi langit-langit mulut. Ia mengingatkanku kepada novel-novel fiksi, cat-cat akrilik, puluhan buku-buku tua, serta puisi-puisi yang berserakan. Aroma tak asing ini juga membawaku kepada dengan riang kulukisi dinding-dinding lapuk itu hingga penuh, kembali terlintas idealisme-idealisme usang yang dengan teguh kudekapi.   Aroma yang tak asing ini seakan membawaku kepada diriku yang me...

If it doesn't go away by the time I turn thirty, I beat myself.

 

I am going to be exile since now.

My head bowed for the last train in Jogja,  These songs played over and over "I listen to the last message that you left, t hen the voice from the suicide hotline.  So come on, come on, dark star, been loving you and I" The words disputable turning around my head,  "Oh, Dark Star!" they screamed Many signs I ignores, it brought you up clearly  The pulchritudinous dusk in front of our eyes disappear, but you 

Tak Terduga

  "Aku nggak nyangka bisa mendengarkan lagu Jupiter sama kamu, lho..". Kemudian, Dua senyum kecil,  Empat mata terbuka,  Memaut.. Jogja, 4 November 2023.

Simpul yang Asing

Derau menelisik masuk ke sela-sela jendelaku, mereka menebarkan derap yang lirih dari balik kaca.  Dan lagi, di luar, mataku memapas liarnya air-air bumi yang jatuh.  Sendu.  Jutaan cahaya matahari menguar ke dalam kamarku yang sempit, memintal bias-bias kecil pada cermin-cermin yang menggantung. Lamunan berkeliaran di tepi-tepi dahan, aku dan kepalaku yang hingar, serta derau yang masih berusaha menembus jendelaku. The Trees dan The Wild berdenting pelan, sesaat hati seseorang mengalungkan bunga-bunga ke awan. Menari-nari membentuk simpul yang berbeda-beda.  Simpul abstrak, ekspresionis, minimalis, hingga terdapat satu simpul yang asing di mataku.. Terangkai bunga itu menyambung simpul baru,  Di antara derau hujan dari fajar dan lagu The Trees and The Wild yang mengalung-alung Sebuah simpul rindu terpintal.. Jogja, 4 November 2023

Kupu-kupu Malam Minggu Part. 1

Sudah malam minggu lagi. Sebagai dahan, aku bersiap untuk membuka diri untuk berbagai jenis kupu-kupu. Yang paling pasti, cinta tidak akan menemukan dirinya pada situasi yang serba terburu-buru. Ketika yang malam bertemu pagi, atau yang pagi beranjak malam hari.  Menilik senyum yang menguar pada kupu-kupu tua yang hinggap pada dahan yang kusiapkan. Perlahan namun pasti mereka hinggap dengan antusiasme yang berbeda.  Ada yang bersolek dan mewangi, kepak sayapnya seperti mengunci pandangan hingga tiada sesiapa pun memalingkan garis matanya. Soleknya manis dan harum mewangi. Pada setiap motif dalam sayapnya, aku hafal betul, ia akan terbang ketika pagi menjelang. Gurat dalam bulunya yang tipis, masih membekas. Serbuk yang mendesak tenggorokan hingga keluar batuk, serta hisapan perlahan pada mahkota yang meruas di bawahnya. Kupu yang lain akan pergi ketika malam menjelang. Ia gagah dan berani ambil resiko. Berjibaku dengan aturan-aturan kebugaran. Manis senyumnya seperti helaian b...

Ming

  "Siapa yang bilang bahwa aku masih peduli? Usah berlagak seperti orang yang tak berkuasa, di balik topeng-topeng penderitaan rakyat yang kau resapi ternyata banyak api yang kau tutupi." Ucapnya dengan lantang dan gagah berani. Kernyit alisnya mendadak melonggar. Bibir itu tersenyum dengan lihai. Sedikit meringis. Namun, tak nampak giginya. Ia berjalan pelan menuju pintu yang terbuka itu, sesaat terdengar suara ujung kayu yang terbanting. Tangannya masih menggenggam setelah gagang pintu itu ia hempaskan begitu saja. Raut wajahnya mendadak hitam, pitam yang diredam tak nyana tersulut jua. Lelaki itu kemudian berdiri dan berlari ke arah sudut ruangan. Suara demi suara seakan mulai mneghantui telinganya.  "Ming, jangan asal bicara!"  Ucapnya perlahanp-lahan. Namun, semakin lama suara itu semakin keras. Merasuki dan berputar-putar di dalam kepala lelaki itu.  "Jangan asal bicara, bangsat!" "Jangan asal bicara, setan!" Sesaat kemudian, lelaki itu mul...

The Pages

  FROM THE PAGES THAT TORN OUT BY; #1 CODEPENDENCE It's always be an empty paper, isn't it? Like an author fooled by her stories It must be codependence and special,  But it feels like, s he woke up sweaten and look up to the leak roof While heavy rain drenched her garden #2 SHINING ARMOR Same dresses and perfumes on  She keeps bleeding on to lived the pages grow She might be scares to torn apart anyhow These pages was brag in a cold resintment The tint, the stories, the memories, still  fooled on by "This pages was shining armor", she said #3 NEW MOON She ended up and forget the pages "It is strange to think, I haven't see it for months" , she sighed "Look at my eyes! Look at my face! I am happy to see the new moon!", she said twice Wildly and constantly Her books dropped and all the paper scattered out "New moon! Sunsets! Sunrises!" She smitten to dance

Keping 1: Virtual

Kota selalu menjejalkan gue dengan carut marut jalanan yang macet. Desakan kendaraan yang saling memberi komunikasi penuh amarah. Kalau bukan klakson, sudah pasti teriaknya si supir yang sebal dan tidak sabar menghadapi macet. Namun bukan jalanan saja yang macet, kota juga menyuguhkan gue berbagai kemacetan lainnya. Seperti tagihan macet, misalnya. Tapi ada satu hal menarik yang bisa gue temui dalam gaya hidup masyarakat kota-kota besar. Ya, kehidupan virtual love, karena.. Setiap kali gue berbicara tentang cinta, pasti ada saja hal-hal yang gue ingat dan semuanya bikin sebal. Jantung gue seakan lebih berdesir dibanding biasanya, mata gue seperti membelalak.  ‘Ya, pokoknya kesel deh!’.  Bagaimana tidak, di saat semua teman-teman seusia gue mulai asyik berduaan dan bercumbu dari balik Instastory mereka dengan pasangan sahnya. Mempertontonkan kemesraan mereka secara virtual. Ada yang update keuwuan dengan caption, ‘ Sayang, semalem semriwing kan, aku goyangnya muter-muter begitu...

You Tore Out Her Pages

The music got loud when somebody whisper to her chest She written over  Overrated books to her mind She still sleepin' too early,  She kinda feelin' to cry about Loses, cries, tires, and all the cripplin' stuffs breaking down the presents  So, if that's all it was She barely left him the first She'd be the only one whom to be mean She giving in She giving up The wind start to murmur while she sinkin' in,  It's heard and felt like there's no left her inside She wish, she always does and she was scared to losing all control the guts tried to rolls like a trol Could you pinch her, like now? Pardon her to caught out the crossfire The book's so good, aren't you? 'Till you tore out the pages

Satir Tipis-Tipis

Tuhan hilang dalam riuh kota yang ramai. Ia  memilih menelusuri jalanan desa yang hening dan lebat pohonnya.  Tidak ada aspal yang panas, debu-debu yang terbang, suara klakson memburu, atau sekedar peluh-peluh pemulung nasib yang jatuh pada tanah yang gersang. Tuhan enggan menyapa orang-orang yang keluar masuk rumah sakit, dicolok-colok hidungnya, dicatat-catat namanya, dihitung-hitung jumlahnya.  Tiap hari, tiap bulan, tiap tahun.  Tuhan juga malas menerka setiap doa yang terbisik dari mereka yang dengan pongah membuang plastik ke pantai. Hingga ratusan hiu, lumba-lumba, atau penyu tersedak dan memilih bunuh diri. Laut-laut akan marah, mereka harus berlomba mengubur ikan-ikan penghasil 'fitoplankton' itu demi menjaga ekosistem. Tuhan juga risih menyaksikan hutan-hutan dihancurkan demi pembangunan, yang, ah mantaaap.. *slebew Tuhan bahkan malas menyaksikan ributnya suasana 'meeting kejar target' para pekerja lepas yang dibayar murah oleh perusahaan agensi...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Menyala

MENYALA Berdansalah dengan nyala api yang kubawa dengan resah, Dan tiuplah dengan hingar Rayakan dengan keganasan yang menyerang tepat di dasar dahagamu  Yang juga berseberangan dengan raut keluh mendayu pada sore-sore yang gemericik Yang ada juga riuh sorak-sorai untukmu yang memilih menjauh Dalam gegas, berkemas, hingga berlayar.. Lautan tangis yang jatuh satu demi satu Larungkan satu demi satu pecahan hati,  yang terjatuh pada saat kita sedang cinta-cintanya Dengarlah dengan mantap,  Ada suara setiap malam yang gaduh dalam telingamu Berdetak dan berseru Tepat di jantungmu, yang ada aku, atau tidak? Yang dalam diam selalu ku nyanyikan doa setiap malam Atau ketika merupa kaset kusut yang tersimpan dalam laci Merekam jelas dalam remang Kala seperti sihir dua bibir kita beradu di pagi buta, Merayu anggun empat mata yang malu-malu Pipimu merah bunga sepatu Bogor, 3 September 2021

Keping Waktu dalam Revolusi: Sebuah Anasir Refleksi dari Fisika Kuantum

Mekanika klasik Newtondan yang menjelaskan gerak dinasmis pada benda-benda makrospis mengelaborasi teori reduksionisme dalam sains menjadi suatu hal yang pasti. Seperti halnya intuisi fisis yang memberikan celah bahwa gelombang dan partikel bebas merefleksikan angka gelombang yang kontan, maka gelombang tersebut tidak memiliki informasi tentang posisi partikel di dalam suatu ruang. Namun nyatanya, dalam gerakannya, partikel, gelombang, dan ruang juga membutuhkan komponen waktu untuk melaju. Atau justru berhenti dan menderu prinsip ketidakpastian Heinsberg hingga akhirnya emisi radiasinya melompat dari satu orbit stasioner ke orbit stasioner lainnya. Ya, berevolusi. Sama adanya. Kehidupan dan segala tabir di dalamnya selalu erat kaitannya dengan waktu. Waktu menjadikan suatu indikator utama dalam mengklasifikasikan setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi. Kesenangan, kesedihan, kemarahan, kebimbangan, kebingungan dan segala emosi manusiawi yang lainnya. Hal tersebut dikelompokkan de...

Sebuah Perayaan

Nyala Kita masih Dan ku bawakan lagi,  Nyala-nyala yang penuh dalam ruanganmu.. Biar aku bersaksi,  Matamu adalah kening yang panas Senyummu adalah detak yang cepat Bibirmu adalah nafas yang memburu  Dekapmu adalah matahari yang jatuh di punggung laut Diammu adalah mantra-mantra yang angkuh merayu  Dan aku masih bersaksi,  Bahkan sampai detik ini Aku akan merasuki jauh dalam jantungmu, Aku akan melenyap bersama sukmamu  Ada perayaan kekalahan di dalam tepi hatiku Yang tidak habis-habisnya memberimu tepuk tangan yang lirih Dan menertawai tangisan-tangisan yang jatuh dari keping mataku Sekali lagi, nyala Aku masih Untuk perayaan patah hati

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.

Cerbung: Dark Explosion Part 2

Suasana duka masih menggelayut di rumah Baran. Semua orang seperti tengah menyiapkan tangisnya dengan sigap. Menunduk dan terus merapal doa-doa. Ada satu lilin yang menyala tepat di hadapan peti itu. Tak lupa sebuah salib yang berdiri di dekat bebungaan putih yang dipintal. Serta isak tangis yang menyeru di udara. Di antara barisan pelayat yang duduk, Ruth menunduk dengan diam. Ia tak lagi dapat membuka suaranya. Lagi dan lagi suara it uterus berbisik di kepalanya. Mengapa engkau pergi? Mengapa sekarang? Baran, tolong jawab aku! Isak tangis itu kian menjadi. Selasar rumah itu menjadi kian biru, ada lautan benang yang disangkutkan justru hendak membuatnya terasa menyakitkan dan mengharukan.             “Baiklah, Saudaraku! Mari kita renungkan dan doakan anak Bapa Kami Tony Albaran ini, supaya tenang selalu Bersama Kasih-Nya.” Ucap Romo Sangkir membelah lautan isak tangis para pengunjung. Di sampingnya, seorang...