Langsung ke konten utama

Ming

 





"Siapa yang bilang bahwa aku masih peduli? Usah berlagak seperti orang yang tak berkuasa, di balik topeng-topeng penderitaan rakyat yang kau resapi ternyata banyak api yang kau tutupi."

Ucapnya dengan lantang dan gagah berani. Kernyit alisnya mendadak melonggar. Bibir itu tersenyum dengan lihai. Sedikit meringis. Namun, tak nampak giginya. Ia berjalan pelan menuju pintu yang terbuka itu, sesaat terdengar suara ujung kayu yang terbanting. Tangannya masih menggenggam setelah gagang pintu itu ia hempaskan begitu saja. Raut wajahnya mendadak hitam, pitam yang diredam tak nyana tersulut jua. Lelaki itu kemudian berdiri dan berlari ke arah sudut ruangan. Suara demi suara seakan mulai mneghantui telinganya. 

"Ming, jangan asal bicara!" 

Ucapnya perlahanp-lahan. Namun, semakin lama suara itu semakin keras. Merasuki dan berputar-putar di dalam kepala lelaki itu. 

"Jangan asal bicara, bangsat!"

"Jangan asal bicara, setan!"

Sesaat kemudian, lelaki itu mulai menangis dan meraung. Terisak dalam sudut kamarnya yang tertutup. Seluruh benda-benda mewah tak jadi apa, mereka hanya bisa mematung menyaksikan tuannya dikejari rasa bersalahnya sendiri. Dalam sudut kepala yang jauh, sepintas demi sepintas, memori lelaki itu sampai pada saat dengan gagahnya ia bersumpah jabatan. Di bawah kitab suci. "Aku bersumpah.." katanya dengan tubuh dan suara yang bergetar pelan. Usut punya usut, sumpah jabatan itu berkilah dan tak lagi jadi apa. Persis, seperti benda-benda dalam ruangan ini, mereka mematung menyaksikan lelaki itu bersenda gurau dengan ketakutan. 


Tak lama berselang, sebuah dering telfon berbunyi. 

"Ya, halo! Ada masalah apa?"

"Media sudah tahu, Pak. Surat izin tambang itu telah sampai ke tangan KPK. Mereka menyeret nama Bapak!"

Lelaki itu terpaku dan tercekat. Seperti benda-benda itu, ia ikut mematung.


"Ming, jangan asal bicara..." gemingnya dalam hati, lagi.

 

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...