Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama
makin menyeruak.
Di
dalam kepalaku, Sayangku, Baran
Engkau
masih mentari
Perlahan-lahan
ia membakar tubuhku
Mentari
itu gelap sekali,
Ia
meledak lagi
Kepergianmu,
Ialah
riuh dan diam yang saling menyahut
“Sebelum jasad Baran
kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak
Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.