Langsung ke konten utama

Matahari Mati Lampu





Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal. 

Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu.

"Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu". Ucapmu dari balik pesan itu. 

Blurppp...

Tiba-tiba mataku gelap gulita. Ini kan siang, mana bisa matahari mati lampu? Sesuatu jatuh menggelinding dari balik kemejaku. Bulat dan kemudian pecah di aspal. Sial, jantungku.. Ku kepal dan cubit tangan ini, masih sakit. Benar, aku masih hidup. Ku rogoh sisi tengah dada, kosong. Ternyata hatiku yang pecah di aspal.

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...