Langsung ke konten utama

Kupu-kupu Malam Minggu Part. 1


Sudah malam minggu lagi. Sebagai dahan, aku bersiap untuk membuka diri untuk berbagai jenis kupu-kupu. Yang paling pasti, cinta tidak akan menemukan dirinya pada situasi yang serba terburu-buru.

Ketika yang malam bertemu pagi, atau yang pagi beranjak malam hari. 

Menilik senyum yang menguar pada kupu-kupu tua yang hinggap pada dahan yang kusiapkan.

Perlahan namun pasti mereka hinggap dengan antusiasme yang berbeda. 

Ada yang bersolek dan mewangi, kepak sayapnya seperti mengunci pandangan hingga tiada sesiapa pun memalingkan garis matanya.

Soleknya manis dan harum mewangi. Pada setiap motif dalam sayapnya, aku hafal betul, ia akan terbang ketika pagi menjelang. Gurat dalam bulunya yang tipis, masih membekas. Serbuk yang mendesak tenggorokan hingga keluar batuk, serta hisapan perlahan pada mahkota yang meruas di bawahnya.

Kupu yang lain akan pergi ketika malam menjelang. Ia gagah dan berani ambil resiko. Berjibaku dengan aturan-aturan kebugaran. Manis senyumnya seperti helaian bunga sepatu yang jatuh ke lantai, ketika malam aku menjumputi mereka. Kupu tua ini berlenggak dengan kaca mata hitamnya, menyambut lift yang terbuka sembari membawa sepasang baju olahraga. Barangkali dalam negeri kupu, ia ialah pasukan terkuat yang mampu terbang menukik sepanjang hari. 


Postingan populer dari blog ini

The Pages

  FROM THE PAGES THAT TORN OUT BY; #1 CODEPENDENCE It's always be an empty paper, isn't it? Like an author fooled by her stories It must be codependence and special,  But it feels like, s he woke up sweaten and look up to the leak roof While heavy rain drenched her garden #2 SHINING ARMOR Same dresses and perfumes on  She keeps bleeding on to lived the pages grow She might be scares to torn apart anyhow These pages was brag in a cold resintment The tint, the stories, the memories, still  fooled on by "This pages was shining armor", she said #3 NEW MOON She ended up and forget the pages "It is strange to think, I haven't see it for months" , she sighed "Look at my eyes! Look at my face! I am happy to see the new moon!", she said twice Wildly and constantly Her books dropped and all the paper scattered out "New moon! Sunsets! Sunrises!" She smitten to dance

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani