Sebongkah asap terbang, ia terpaku menunjukkan diri di depan mataku
Wajahnya pucat pasi
Sepertinya duka lara ialah tubir hidupnya
Aku tak mendengar apa-apa
Tiba-tiba, aku ikut menangisi kepedihannya
Ternyata, begini rasanya
Memanusiakan yang bukan manusia
"Cambuk terperih ialah luka hati, ia abadi, dalam wujud menakutkan"
Ucapnya.
—Dinie Wicaksani