Langsung ke konten utama

Postingan

Titik-titik

Ketakutan ini kembali hadir. Sebab diriku terlampau silau dalam kenyamanan, dan tiba saatnya aku harus melangkah sendirian, aku harus terjerembab dalam ketakutan. Mungkin tak ada yang bisa ku jelaskan lagi perihal rasa, ada kecemburuan menguar dengan bijaksana.  Entahlah,  mungkin kau tak akan pernah membaca ini. Namun yang ku tahu kau tak akan pernah lagi menempatkan namaku pada urutan pertama perempuan terdekatmu, sebab yang ku rasa ialah yang terbaik. Yang bisa mengisi dengan indah hari-hari dalam sendumu.  Aku akan tetap menjadi yang kau butuhkan, aku akan tetap menjadi orang yang selalu kamu datangi. Lelucon kita akan tetap sama. Aku akan terus menertawai apa yang kau sebut lucu. Aku sedang merasa sedikit kehilangan sosokmu yang selalu ada, yang selalu dapat ku andalkan tanpa harus aku minta. Permintaanku terwujud lucu, sebab kembali ku ingat saat-saat awal kita menamai diri sebagai sahabat baik. Aku mengerti pasti kan ada hal yang tak kit...

Patung Sentini

Ilustrated put on google. Tubuhku diremas-remah. Sejadinya. Nafasku terengah-engah seperti terhimpit sebuah benda yang berat. Tangannya terus menepuk-nepuk tubuhku. Sesekali sebuah belati tajam menggoreskan lurik yang indah di atas tubuhku. Tangannya seperti becek dan basah, beberapa tetes lumpur mengalir hebat dari tangannya. Sebuah patung sepertiku tak layak untuk berucap. Tugasku hanya menikmati perlakuan majikanku sebagaimana ia akan membentuk tubuhku. Seperti sedianya patung yang lain, kami para patung ingin sekali berucap. Berteriak. Menangis. Namun, kami tak bisa. Jangankan untuk menangis, untuk berucap pun kami harus menunggu majikan kami membuatkan mulut. Tangannya terus bergerilya menyusuri tiap jengkal yang ada di tubuhku. Tonjolan dada yang indah, serta pahaku yang sintal. Sebuah patung perempuan agaknya ku akan dibuatnya. Percikan-percikan air membasahi dinding tubuhku. Tangannya terus mengaduk-aduk campuran gypsum dan semen itu lalu menumpuknya tepat di atas t...

Goresan Tak Selesai

Penantianku mungkin akan berujung sebuah entah. Dari berjuta bias kata-kata, mungkin aku akan menang. Menang untuk diriku sendiri. Aku terus belajar, dan menikmati kebodohanku. Menjadi yang terus bodoh hingga merasa aku harus tahu. Jutaan kata dan teori masih sempat aku pelajari. Aku menikmati segalanya. Pada awalnya, aku menulis hanya untuk mengerti seberapa besar kebodohanku. Seberapa penting tulisan itu mengubah seseorang. Dan kini, aku mulai mengerti. Seberapa berartikah diriku atas diriku sendiri? Aku terperanjak.. Saat bahasa melilit tubuhku. Memaksaku untuk mengerti tanpa pernah ku ingini Penantian itu berujung akan jawaban.  Namun, langkahku terseok. Aku tergelincir akan kebingunganku sendiri.  Jemariku mengudara. Tanganku menari-nari sekenanya. Entah berapa juta orang menertawakan kebodohanku itu. Aku tak peduli. Mereka mungkin tak akan pernah tahu, seberapa berharganya tulisan itu dimataku. Yang mereka tahu hanyalah kegagalanku menjadikannya sebuah buku. Sungguh, beg...

Perempuan Tak Kasat Mata

Ilustrasi foto oleh Azzah Zulfa Maula Kakimu yang jenjang terus menapaki hutan. Berjalan kian kemari dengan membawa sebuah pot bunga kesayanganmu. Salamah mengerlipkan matanya yang ayu ketika melihat sebuah kupu-kupu yang terbang di dekatnya. Bilur dalam hatinya mungkin masih jelas terlihat. Namun, tidak dengan senyumnya yang manis. Kupu-kupu itu hinggap tepat di atas jari telunjukmu. Kau tiupi perlahan dan serangga cantik itu terbang meninggalkanmu. Raut wajahmu tak lagi menggigil ketakutan. Seperti ketika kau menyeringai karena anakmu tertelan ombak itu, atau ketika kau tahu bahwa suamimu hilang di tengah laut. Kau hanya ingin menikmati alam. Itu sebabnya kau menjajakan tubuhmu di sana. Kau memilih untuk menemani pohon kecubung itu tumbuh dengan baik. Kau mengerti pot kecil itu tak sanggup lagi untuk menampung pohon kecubung yang kau tanam. Kau ini tidak gila, kau hanya ingin mengasihi pohon kecubung itu layaknya anakmu sendiri. Sebab dulu kau ambil tanah kuburan anakmu ya...

Rasuk

Malam kembali mengerjapkan mata. Seperti ada yang bergerak keluar dari hidungnya. Meleleh dan menetes di pangkal bibir atasnya. Ia seka secepat kilat. Berbau anyir, seperti darah. Matanya tak nampak apapun, benar saja, penerang ruangan sengaja dimatikan. Darah itu terus mengalir dari hidungnya menuju leher dan dada, deras sekali. Seperti para korban kecelakaan yang fatal. Entah mengapa hidungnya bisa berlumuran darah sebanyak itu, lagi pula fisiknya sehat-sehat saja. Bukan seperti sedang terserang penyakit. Tak kuasa menahan darah yang terus mengalir, ia menerangkan lampu. Dan berlari ke sudut ruangan untuk berkaca. Sialnya, darah-darah itu menghilang. Lenyap seketika. Yang terpantul hanyalah sorot mukanya yang sehat, dengan rambut yang rapih. Kemana perginya darah-darah itu. Tengkuknya merinding, seperti ada suhu rendah yang menjalar tepat di lehernya. Ia raba lagi dan lagi. Kini, pandangannya tertuju pada rak buku di sisi kanan kaca lalu mengambil sebuah buku. Buku tebal, lusuh, dan ...

Ibu dan Satu September

Siang ini begitu terik. Udara begitu panas. Sumringah. Gembira.  Mengulang hari dan tanggal di tahun yang berbeda. Sama persis dengan hari ketika aku dilahirkan. Satu September, begitu acapkali ku dengar. Setiap tahunnya, mereka menyebutnya hari ulang tahunku. Ucapan mengalir deras dari semua teman dekat, dan beberapa sanak saudara. Jam terus berdetak, sore pun tak kuasa ingin berganti tugas dengan siang. Tak lupa mentari pun ingin memicingkan sinarnya. Ku tunggu deringan telpon genggam. Menanti seseorang menelpon dan mengucapkan hal yang sama. Ibu. Tapi lama tak kunjung pula seseorang itu menelpon. Apa gerangan ia lupa tentang hari ini? Hari pertambahan usia, yang bagiku ini hari spesialku. Tak kuasa menunggu, akhirnya ku putuskan untuk menelpon terlebih dahulu. "Hallo, Buk." "ya, Din, ada apa?" Suara khas yang selalu ku rindukan, yang selalu bisa membuatku tertidur nyenyak.  Mengapa tak kau ucapkan hal yang sama dengan yang lain? Kau hanya diam dan membuat durasi ...

Dini Hari Yang Retak

Denting jarum jam masih begitu nyaring berbunyi.  Tik tok tik tok menaungi seluruh ruangan, di sisi ruangan ada suara tangis menderu-deru, meraung-raung penuh pilu.  Ada apa gerangan? Pagi belum sempat menyapa, malam pun sudah terlanjur sirna. Namun, suara tangis itu semakin kencang semakin menjerit. Ada apa? O, ataukah hanya suara nadir hidup yang baru saja terlepas? Atau? O, ataukah suara hati yang sedang bergeming sebegitu kuat? Meneriakkan raut ketakutan akan semarak gegap gempita dunianya, oh, yang katanya gulita. Malam yang hampir sirna belum bisa menerjemah suara apa yang menaungi denting jamnya.  Ah, apa mungkin suara hantu-hantu kenangan malam yang selalu tak ingin indahnya pagi.  Ah, mungkin saja hanyalah jeritan-jeritan luka yang dulu kini kembali lagi.  Ah, apa mungkin juga isakan-isakan pagi yang ingin menjadi malam yang damai.  Ah, apa lagi? Suara apa lagi?  Tangisan siapa lagi? Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca. Pyaaaar! Porak-poran...