Langsung ke konten utama

Dini Hari Yang Retak



Denting jarum jam masih begitu nyaring berbunyi.
 Tik tok tik tok menaungi seluruh ruangan, di sisi ruangan ada suara tangis menderu-deru, meraung-raung penuh pilu. 
Ada apa gerangan?
Pagi belum sempat menyapa, malam pun sudah terlanjur sirna. Namun, suara tangis itu semakin kencang semakin menjerit. Ada apa? O, ataukah hanya suara nadir hidup yang baru saja terlepas? Atau? O, ataukah suara hati yang sedang bergeming sebegitu kuat? Meneriakkan raut ketakutan akan semarak gegap gempita dunianya, oh, yang katanya gulita.

Malam yang hampir sirna belum bisa menerjemah suara apa yang menaungi denting jamnya. 
Ah, apa mungkin suara hantu-hantu kenangan malam yang selalu tak ingin indahnya pagi. 
Ah, mungkin saja hanyalah jeritan-jeritan luka yang dulu kini kembali lagi. 
Ah, apa mungkin juga isakan-isakan pagi yang ingin menjadi malam yang damai. 
Ah, apa lagi? Suara apa lagi? 
Tangisan siapa lagi?
Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca.
Pyaaaar!
Porak-poranda.




Ttd,
Dinie W. Wicaksani



Terimakasih telah membaca tulisan ini, sajak ini tentang sebuah jeritan hati di malam hari. Sang penulis merasa bahwa disepertiga malam menuju pagi, ia selalu merasa sendiri dan ada dalam benaknya yang ingin ia teriakan dengan lantang. Namun di sisi lain, teriakan itu ekspresi sang penulis yang sebenarnya ia membenci pagi. Penulis melambangkan malam di sini adalah sebagai kebahagiaan (di mana ia merasa bahwa di malam harilah ia merasa semuanya adalah miliknya) lalu melambangkan pagi adalah sebagai usaha (di mana ia merasa  di pagi hari yang penuh aktifitas kehidupan adalah usahanya menuju sebuah kebahagiaan menuju "malam").
Entah dari sudut pandang mana, kalian menilai tulisan ini. Namun, untuk gambar yang diposting dalam tulisan kali ini. Benar adanya bahwa bukan hanya sebuah nama Dhini yang retak, namun jauh dibenaknya ada jeritan-jeritan yang memecah malamnya sendiri diantara pagi-pagi yang telah ia lalui. Salam!

Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.