Langsung ke konten utama

Perempuan Tak Kasat Mata

Ilustrasi foto oleh Azzah Zulfa Maula


Kakimu yang jenjang terus menapaki hutan. Berjalan kian kemari dengan membawa sebuah pot bunga kesayanganmu. Salamah mengerlipkan matanya yang ayu ketika melihat sebuah kupu-kupu yang terbang di dekatnya. Bilur dalam hatinya mungkin masih jelas terlihat. Namun, tidak dengan senyumnya yang manis. Kupu-kupu itu hinggap tepat di atas jari telunjukmu. Kau tiupi perlahan dan serangga cantik itu terbang meninggalkanmu. Raut wajahmu tak lagi menggigil ketakutan. Seperti ketika kau menyeringai karena anakmu tertelan ombak itu, atau ketika kau tahu bahwa suamimu hilang di tengah laut. Kau hanya ingin menikmati alam. Itu sebabnya kau menjajakan tubuhmu di sana. Kau memilih untuk menemani pohon kecubung itu tumbuh dengan baik. Kau mengerti pot kecil itu tak sanggup lagi untuk menampung pohon kecubung yang kau tanam. Kau ini tidak gila, kau hanya ingin mengasihi pohon kecubung itu layaknya anakmu sendiri. Sebab dulu kau ambil tanah kuburan anakmu yang mati tenggelam itu untuk kau tanamkan pohon kecubung. Apa salahnya seorang ibu menyayangi putranya? Apa salahnya juga membiarkannya tumbuh kembali menjadi sebuah pohon? Dengan begitu kau kembali dapat memeluk tubuhnya yang hangat melalui dahan-dahan yang tumbuh. Kau pun dapat pula mengasihi dan merawatnya melalui pohon kecubung itu. Tanganmu begitu mulus untuk merawat pohon seindah itu. Sebagian orang mengira bahwa kau ini gila.

Salamah terus berjalan, menapaki jalanan hutan. Berkelok-kelok terjal serta berduri. Ia tak lagi peduli dengan suara ceracau burung yang terus memanggilnya. Kau melihat sebuah pancuran air yang jernih, kau serta-merta menghampirinya dengan langkah tegas. Menampungnya dengan cawan yang ada dalam bakul yang kau gendong. Cawan itu penuh berisi air jernih, kau ambil sedikit dalam tengadah tanganmu. Lalu kau hirupnya beberapa tetes dengan mulutmu yang kering, agaknya kau kehausan setelah perjalananmu menuju kemari. Cawan itu terus kau sunggi berapa lama sembari kau berjalan. Hingga sampailah kau pada tujuanmu. Tempat di mana kau mencurahkan kasih sayangmu. Tempat di mana matamu tak mampu berhenti berkedip, tempatmu berkeluh kesah, tempat di mana kau mencurahkan segala kerinduan pada anakmu. Pohon kecubung kecintaanmu. Pohon itu tampak mendayu-dayu, sepertinya ia kehausan. Kau mengelus dahannya yang hijau, serta memetik bunganya yang berwarna putih susu itu dengan lembut. Mengalung-alungkannya ke udara. Seperti waktu kau menggendong putramu yang masih balita. Atau bahkan seperti ketika kau mengelus-elus kepalanya dan membuat rambutnya berantakan. Kau tersenyum kegirangan, dan membuat bunga indah itu menari-nari kian kemari. Sinar matahari menjadi saksi, betapa besar kasih sayang seorang ibu pada putranya. Kau mengerti bagaimana caranya untuk menghilangkan bilur di dadamu itu. Kau tahu betul.

Dahulu, kau sempat memutuskan untuk menikah lagi. Kau mengenal lelaki itu saat kau tengah menjual hasil lautmu. Lelaki itu seperti bekas pejuang, tubuhnya tegap, suaranya pun lantang. Wajahnya juga rupawan, serta yang terpenting ialah dompetnya tak setipis dompetmu. Yang kau inginkan hanya untuk menyambung hidup. Dengan menikahinya hidupku kan sentosa, pikirmu. Dan akan memiliki berpuluh anak lelaki seperti putramu. Namun, kau takut bahwa ia tak mengasih pohon kecubung yang kau cintai itu. Kau takut tak bisa lagi memeluk dan memberinya kasih sayang. Kau takut dirimu benar-benar melupakan jagoan lamamu. Lelaki itu kemudian meninggalkanmu, dengan alasan sama, kegilaanmu terhadap pohon kecubung itu.
Akhirnya kau putuskan untuk tinggal di hutan. Tempat di mana pohon kecubung itu kau tanam dan kau besarkan. Tak ada orang yang mengerti apa yang kau kerjakan di sana. Setiap hari kau membawakan secawan air itu untuk kau sirami. Memeluknya, dan membiarkan lingkungannya bersemi sebagaimana layaknya.



Salamah sungguh mencintai putranya, dan lagi ia mencintai pohon kecubung itu. Kasih sayangnya tak pernah disangsikan. Tak akan ada seorang pun yang mengerti alasannya. Salamah terus membiarkannya menjadi misteri bagi orang-orang terdekatnya. Lagi pula tak ada lagi yang harus ia hidupi. Semuanya mati tertelan ombak, belum lagi kerabatnya pernah memberikannya pilihan. Untuk memasungnya atau pergi dari rumahnya sendiri. Mungkin bilur itu terus merambah, namun tak seorang pun tahu dan melihatnya. Seberapa besar kini bilur itu mencabik hati Salamah. Yang ia tahu, ia masih mencintai pohon kecubung itu.

Kau tak ingin mengenangnya sebagai putramu yang mati, kau hanya ingin merawat roh putramu yang ada dalam pohon kecubung itu. Tak hanya itu kau juga merawat lingkungan sekitar pohon kecubung itu dengan kasih sayang dan tanganmu yang lembut. Kau ingin merawat tempat hidup putramu. Kau tahu betul putramu akan hidup tenang apabila sekitarnya pun demikian. Kau agaknya seperti para ekofeminis yang sok peduli akan lingkungan. Bukan itu maksudmu, kau hanya ingin anakmu tumbuh dan hidup kembali.
Melalui tanganmu yang lembut, alam ini akan amerta.

 ***


Terimakasih telah mengapresiasi tulisan ini. Pembaca yang budiman, senang rasanya bagi saya dapat menuliskannya. Lalu Anda membacanya serta merta mengerti akan maksud yang saya inginkan. Tulisan ini sebenarnya ialah lanjutan kisah dari prosa yang sebelumnya saya buat yang berjudul Perempuan Pembawa Pot Bunga dan juga cerpen yang berjudul Bilur. Dua karya analekta saya ini menceritakan tentang seorang perempuan feminis yang hidup sebatangkara dan berjuang untuk tetap hidup, dalam cerpen Bilur perempuan tersebut kehilangan putranya yang sedang melaut. Tragedy tersebut membuatnya bertingkah tak lazim. Pada prosa Perempuan Pembawa Pot Bunga sang perempuan menanam biji kecubung kedalam sebuah pot bunga dengan tanah kuburan anaknya yang mati tenggelam.
Nah, dalam analekta atau kumpulan ketiga tulisan yang saya buat ini, saya mencoba untuk mengangkat beberapa macam isu. Yang pertama ialah isu kesetaraan gender, di mana dalam cerpen dan prosa sebelumnya saya menggambarkan Salamah (nama tokoh perempuan) menghidupi anak dan suaminya yang lumpuh dengan bekerja sebagai pelaut. Kerap kali perempuan mengalami subordinasi dalam struktur kehidupannya, baik sosial maupun ekonomi dan bahkan politik. Tokoh Salamah yang feminis juga mengajarkan kita untuk terus memperjuangkan hak dan suaranya, walaupun ia tahu adat setempat berkata lain.
Kehidupan Salamah yang keras membuatnya tegar dan siap melakukan apa saja untuk menghidupi anak dan suaminya. Sayangnya, dalam cerpen Bilur saya menaikan konflik dengan tenggelamnya anak dan suami Salamah. Ini juga meluas pada isu kemanusiaan dan psikologi.
Dalam cerpen yang berjudul Perempuan Tak Kasat Mata ini saya mencoba untuk mengambil isu ekofeminisme. Di mana saya mengibaratkan bahwa dengan kasih sayang seorang perempuan, seorang ibu alam ini akan terawat dan abadi. Ecofeminism berangkat dari sebuah asumsi bahwa eksploitasi dan hegemoni atas alam berpengaruh pada kasus yang terjadi pada perempuan. Seperti yang saya contohkan bahwa pelaut miskin yang merupakan suami Salamah akan kalah dengan para eksportir ikan yang merauk laut dengan tekhnologi andalannya. Dalam konsteks ekologis, ekofeminisme acapkali diartikan sebagai teori dan gerakan etika lingkungan yang meletakan perempuan menjadi aktor utamanya. Selain itu, menurut yang saya tahu, ekofeminis juga meneruskan anggapan mengenai laki-laki sebagai pusat dalam pola kehidupan. Ekofeminisme mengibaratkan kelembutan alam yang asri juga dimiliki oleh kaum perempuan.
Terimakasih telah menjadi pembaca dan apresiator tulisan saya. Yang terus saya lakukan ialah belajar dan belajar. Tulisan ini juga menjadi bukti akan kecintaan saya dengan dunia sastra. Semoga tulisan ini menginspirasi pembacanya. Pembaca ialah konsumen karya sastra, tulisan ini akan menjadi karya sastra apabila dibaca oleh konsumennya. Apresiasi ialah bonusnya, namun dalam berkarya saya tak banyak mengharapkan apresiasi. Saya hanya ingin berbagi hasil dari proses berpikir saya ketika menulis, serta menelaah seberapa besar kualitas tulisan saya. Biasanya saya temukan dalam seberapa besar animo pembaca terhadap tulisan saya. Terimakasih. Salam!



oleh Dinie Wicaksani


Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.