Langsung ke konten utama

Titik-titik


Ketakutan ini kembali hadir.
Sebab diriku terlampau silau dalam kenyamanan, dan tiba saatnya aku harus melangkah sendirian, aku harus terjerembab dalam ketakutan.
Mungkin tak ada yang bisa ku jelaskan lagi perihal rasa, ada kecemburuan menguar dengan bijaksana. 

Entahlah, 
mungkin kau tak akan pernah membaca ini. Namun yang ku tahu kau tak akan pernah lagi menempatkan namaku pada urutan pertama perempuan terdekatmu, sebab yang ku rasa ialah yang terbaik. Yang bisa mengisi dengan indah hari-hari dalam sendumu. 
Aku akan tetap menjadi yang kau butuhkan, aku akan tetap menjadi orang yang selalu kamu datangi.
Lelucon kita akan tetap sama.
Aku akan terus menertawai apa yang kau sebut lucu.

Aku sedang merasa sedikit kehilangan sosokmu yang selalu ada,
yang selalu dapat ku andalkan tanpa harus aku minta.
Permintaanku terwujud lucu, sebab kembali ku ingat saat-saat awal kita menamai diri sebagai sahabat baik.
Aku mengerti pasti kan ada hal yang tak kita inginkan sesuatu terjadi pada diri kita. Setidaknya kau masih sering menyapa tanpa harus aku yang memulai, jangan hanya diam dan seolah-olah kita sedang berada dalam lingkaran yang berbeda.
Mungkin, aku tak bisa membatasi lagi perihal rasa ini. 
Aku sedang menyayangi.
Namun, aku mulai kehilangan.

Sungguh berat,
semoga kau tidak membaca ini, sahabatku.


Dn.


Postingan populer dari blog ini

The Pages

  FROM THE PAGES THAT TORN OUT BY; #1 CODEPENDENCE It's always be an empty paper, isn't it? Like an author fooled by her stories It must be codependence and special,  But it feels like, s he woke up sweaten and look up to the leak roof While heavy rain drenched her garden #2 SHINING ARMOR Same dresses and perfumes on  She keeps bleeding on to lived the pages grow She might be scares to torn apart anyhow These pages was brag in a cold resintment The tint, the stories, the memories, still  fooled on by "This pages was shining armor", she said #3 NEW MOON She ended up and forget the pages "It is strange to think, I haven't see it for months" , she sighed "Look at my eyes! Look at my face! I am happy to see the new moon!", she said twice Wildly and constantly Her books dropped and all the paper scattered out "New moon! Sunsets! Sunrises!" She smitten to dance

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Oneironaut #2

 Yang pasti, terlalu banyak cerita yang dibuat oleh kepalaku sendiri. Berbagai cara sudah sering kulakukan untuk menghapus cerita-cerita itu. Kuhitung jari-jemariku, Kucubit lenganku, Dan.. ku pikirkan sebuah pintu. Namun tetap saja, Hasilnya sama.  Aku tidak sedang bermimpi. Sama seperti malam-malam panjang yang kutempuh dengan mimpi sadar yang elok alurnya, pikir sadarku juga. Entah seperti, selalu aktif. Berbelit-belit. Seperti benang-benang berutas-utas yang saling terlilit.