Langsung ke konten utama

Postingan

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Menyala

MENYALA Berdansalah dengan nyala api yang kubawa dengan resah, Dan tiuplah dengan hingar Rayakan dengan keganasan yang menyerang tepat di dasar dahagamu  Yang juga berseberangan dengan raut keluh mendayu pada sore-sore yang gemericik Yang ada juga riuh sorak-sorai untukmu yang memilih menjauh Dalam gegas, berkemas, hingga berlayar.. Lautan tangis yang jatuh satu demi satu Larungkan satu demi satu pecahan hati,  yang terjatuh pada saat kita sedang cinta-cintanya Dengarlah dengan mantap,  Ada suara setiap malam yang gaduh dalam telingamu Berdetak dan berseru Tepat di jantungmu, yang ada aku, atau tidak? Yang dalam diam selalu ku nyanyikan doa setiap malam Atau ketika merupa kaset kusut yang tersimpan dalam laci Merekam jelas dalam remang Kala seperti sihir dua bibir kita beradu di pagi buta, Merayu anggun empat mata yang malu-malu Pipimu merah bunga sepatu Bogor, 3 September 2021

Keping Waktu dalam Revolusi: Sebuah Anasir Refleksi dari Fisika Kuantum

Mekanika klasik Newtondan yang menjelaskan gerak dinasmis pada benda-benda makrospis mengelaborasi teori reduksionisme dalam sains menjadi suatu hal yang pasti. Seperti halnya intuisi fisis yang memberikan celah bahwa gelombang dan partikel bebas merefleksikan angka gelombang yang kontan, maka gelombang tersebut tidak memiliki informasi tentang posisi partikel di dalam suatu ruang. Namun nyatanya, dalam gerakannya, partikel, gelombang, dan ruang juga membutuhkan komponen waktu untuk melaju. Atau justru berhenti dan menderu prinsip ketidakpastian Heinsberg hingga akhirnya emisi radiasinya melompat dari satu orbit stasioner ke orbit stasioner lainnya. Ya, berevolusi. Sama adanya. Kehidupan dan segala tabir di dalamnya selalu erat kaitannya dengan waktu. Waktu menjadikan suatu indikator utama dalam mengklasifikasikan setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi. Kesenangan, kesedihan, kemarahan, kebimbangan, kebingungan dan segala emosi manusiawi yang lainnya. Hal tersebut dikelompokkan de...

Sebuah Perayaan

Nyala Kita masih Dan ku bawakan lagi,  Nyala-nyala yang penuh dalam ruanganmu.. Biar aku bersaksi,  Matamu adalah kening yang panas Senyummu adalah detak yang cepat Bibirmu adalah nafas yang memburu  Dekapmu adalah matahari yang jatuh di punggung laut Diammu adalah mantra-mantra yang angkuh merayu  Dan aku masih bersaksi,  Bahkan sampai detik ini Aku akan merasuki jauh dalam jantungmu, Aku akan melenyap bersama sukmamu  Ada perayaan kekalahan di dalam tepi hatiku Yang tidak habis-habisnya memberimu tepuk tangan yang lirih Dan menertawai tangisan-tangisan yang jatuh dari keping mataku Sekali lagi, nyala Aku masih Untuk perayaan patah hati

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.

Cerbung: Dark Explosion Part 2

Suasana duka masih menggelayut di rumah Baran. Semua orang seperti tengah menyiapkan tangisnya dengan sigap. Menunduk dan terus merapal doa-doa. Ada satu lilin yang menyala tepat di hadapan peti itu. Tak lupa sebuah salib yang berdiri di dekat bebungaan putih yang dipintal. Serta isak tangis yang menyeru di udara. Di antara barisan pelayat yang duduk, Ruth menunduk dengan diam. Ia tak lagi dapat membuka suaranya. Lagi dan lagi suara it uterus berbisik di kepalanya. Mengapa engkau pergi? Mengapa sekarang? Baran, tolong jawab aku! Isak tangis itu kian menjadi. Selasar rumah itu menjadi kian biru, ada lautan benang yang disangkutkan justru hendak membuatnya terasa menyakitkan dan mengharukan.             “Baiklah, Saudaraku! Mari kita renungkan dan doakan anak Bapa Kami Tony Albaran ini, supaya tenang selalu Bersama Kasih-Nya.” Ucap Romo Sangkir membelah lautan isak tangis para pengunjung. Di sampingnya, seorang...

Cerbung: Dark Explosion Part 1

  2001            Dalam pantulan cermin itu, wajah yang bersedih mungkin akan menjadi satu bayangan yang paling suram dari peristiwa manapun. Mata yang sembab serta mulut yang bisa terkunci dengan rapatnya. Di depan cermin itu, sebuah meja dan puluhan alat rias sudah hilang berserak di atas lantai. Tiada satupun yang masih tegak berdiri, atau bahkan berbaris rapih di sudut meja. Ruth hanya diam. Entah berapa lama suara bising dalam kepalanya itu akan berhenti. Setiap sudut kamarnya mungkin menyisakan pantulan suara yang amat menggusarkan. Dalam bising suara itu, Ruth mengangkat tangannya ke atas. Dan.. pyar! Cermin itu retak. Genggaman tangannya mulai mengalirkan darah segar, namun suara bising itu masih saja belum pergi. Kemarahan demi kemarahan, menyeruak dalam dadanya. Seperti anjing malam yang kehilangan mangsanya, Ruth kelimpungan. Tubuhnya berduyun, kakinya gemetar dan lemas. Jemarinya yang luka kini tidak da...