Langsung ke konten utama

Cerbung: Dark Explosion Part 1


 

2001

           Dalam pantulan cermin itu, wajah yang bersedih mungkin akan menjadi satu bayangan yang paling suram dari peristiwa manapun. Mata yang sembab serta mulut yang bisa terkunci dengan rapatnya. Di depan cermin itu, sebuah meja dan puluhan alat rias sudah hilang berserak di atas lantai. Tiada satupun yang masih tegak berdiri, atau bahkan berbaris rapih di sudut meja. Ruth hanya diam. Entah berapa lama suara bising dalam kepalanya itu akan berhenti. Setiap sudut kamarnya mungkin menyisakan pantulan suara yang amat menggusarkan. Dalam bising suara itu, Ruth mengangkat tangannya ke atas. Dan.. pyar! Cermin itu retak. Genggaman tangannya mulai mengalirkan darah segar, namun suara bising itu masih saja belum pergi. Kemarahan demi kemarahan, menyeruak dalam dadanya. Seperti anjing malam yang kehilangan mangsanya, Ruth kelimpungan. Tubuhnya berduyun, kakinya gemetar dan lemas. Jemarinya yang luka kini tidak dapat diam. Ia terus merapal membentuk detak-detak pada dinding. Dalam duyun tubuhnya, Ruth terus menghentak-hentakkan kepalanya ke tembok itu. Jarinya terus bermain dan membentuk irama yang tidak beraturan.

           “Aku tidak percaya! Selama ini kita hanya bisa berdiam diri, tanpa membenahi apapun.” Ucapnya dalam hati. Suara itu terus berbising, kian lama kian berangsur cepat. Degup jantung Ruth mulai enggan beraturan. Nafasnya mulai sesak, tubuhnya mulai merunduk dan jatuh terduduk di samping meja rias itu.

           “Mana bisa, Sayang? Kita tidak bisa memaksakan kehendak Tuhan! Satu-satunya cara ialah saling meninggalkan.” Benak Ruth terus meronta. Dalam legam hatinya, ia lantas teringat betapa jauh dirinya melangkah Bersama lelaki itu. Bagaimana dengan janji-janjinya? Hari-hari tanpanya mungkin akan menjadi hari-hari yang tidak lagi membahagiakan. Atau barangkali, memulai pagi tanpanya tidak akan membangkitkan gairah lagi. Dari sudut ruangan, Ruth menangis. Tangisannya kemudian terdengar begitu dalam. Betapa lelaki itu ialah satu-satunya orang yang bisa ia gantungkan.

           “Setelah ini, mungkin tidak ada lagi bayang-bayangmu. Matilah kamu dengan tenang.” Isaknya terus merapal benang-benang pahit yang ia sangkutkan di antara pijar lampu yang menyala. Di kamar itu, Ruth seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Menangis sendirian. Masih terbayang betapa perih Tuhan mengambil lelaki itu di hadapannya.

Bersambung..

Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.