Langsung ke konten utama

Postingan

Monolog: Makhluk dari Neraka

Genjrengan pertama, Apa benar yang kutemukan adalah ketenangan.. genjerengan kedua, Apa benar yang kutemukan adalah kedamaian.. Gigil tersudut sepi pada temaram senjakala, sedangkan ini masih pagi dan belum tentu semuanya bahagia. Sebab mentari sudah tiba namun luka belum sepenuhnya binasa. Ada aku dan gitarku yang tak punya senar satu. Bisa jadi pagi tidak lagi biru, serta malam tidak lagi kelabu. Sebab seluruhnya baru tak seperti asal mula kau dahulu. Dan kemudian aku disebutnya perempuan dari neraka, sebab aku tak pernah ikut-ikutan berjejer dan bersujud di hadapan Tuhannya. Padahal aku selalu mengindahkan kasih sayang sesuai dengan ajarannya, tapi tetap saja aku adalah perempuan dari neraka. Yang tidak menutup tubuhnya dengan kain perca sebab aku perempuan dari neraka. Kemudian mereka menyandingkan aku dengan seluruh makhluk berdosa yang siap disiksa sampai binasa. Ya, ya, ya, ingat bahwa aku adalah makhluk dari neraka. O, Tuhan! Sungguh! aku tak hendak mangkir dariMu tapi ...

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...
Menafsirkan ialah merancang ulang pemikiran. Dalam uaran asap kretekmu, aku memahami. Ada yang tak bisa disatukan. Lebih mengganjal dibandingkan kertas yang terlipat di bawah lemari yang miring dan oglek.  Di sana sudut mataku mengunci, pura-pura diam namun tetap memperhatikan. Setiap bara yang kau isap ialah kesepian. Dan aku bukanlah perempuan yang kau hisap sepinya.
"Kamu belum boleh menangis sebelum aku memalingkan wajah, jangan anggap lantas aku tega meninggalkanmu secepat ini." Secarik kertas itu terlipat rapi di atas buku-buku yang beserak. Di ruang kerja itu, ia bisa menapak tilas seluruh yang dipelajarinya hari ini. Maka tak segan ku tinggalkan di sana. Semula aku mengerti, pergi ialah bukan pilihan terbaik. Namun, apalagi yang dapat dilakukan oleh seorang yang disorientasi keputusan? Seperti jelaga yang diuarkan oleh kobar api para petani yang membakar batang-batang padi, mereka menguar pada lapisan bumi paling jauh. Tidak ada lagi pilihan selain pergi, dan berlari.  Lantas aku akan berhenti untuk mencintai, sebagai Putri Padi aku tetap mencintai seorang petani. Sayangnya, aku tak mampu memantaskan diri. Surat itu bertengger manis di atas sebuah buku yang pernah kita baca bersama. Manakala hujan begitu deras mengguyur kota, serta mata yang tak hendak terpejam kala temaram mulai menggenggam mentari yang padam. Buku itu syara...

Tegur Sapa #1

Hallo, anak-anak Ibu Peri! Semoga kesehatan merengkuh tubuh kalian semua ya. Semoga kesadaran juga tenga berada dalam benak dan mengungkap pikiran kita semua, sehingga kebaikan terus menghampiri. Lalu masih adakah yang mengganjal dalam hati kalian? Bulan puasa suda tiba-tiba nih, betapa cepatnya waktu bergulir dihadapan kita ya? Dengan begitu, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kawan-kawan yang menjalankan. Dan juga, saya ucapkan banyak terimakasih bagi kawan-kawan yang masih membaca dan menjadi pemirsa rutin blog ini.  Antusiasme itu memberikan kekuatan yang telak bagi saya untuk terus berbagi perihal keseharian saya. Nah, dalam postingan kali ini sebenarnya hanya untuk   menyapa para pengunjung blog. Masih ada beberapa cerita pendek yang akan diposting setelah ini, semoga cepat selesai, ya. Akhir-akhir ini jadwal menulis lepas agak padat hingga membuat semua daftar tulis mendadak tergeser, kemudian bukan lagi garapan sesuai dengan urutan pad...

Surat dari Kakak pada Adiknya

Teruntuk adik-adik perempuanku,  semoga kalian membaca surel ini dari rumah.. Berpuluh-puluh kilometer jarak tangan ini kembali berpelukan dengan udara Jarak yang jauh, serta rindu yang semakin riuh Sengaja ku kirimkan sebuah tulisan hangat dari jemari yang giat mengetik ini kepada kedua adikku yang jauh di pelupuk mata  Dari sana, Dik, aku mengerti betapa kelam dunia di perantauan. Ingin sedikitnya aku bercerita, ketika kelam malam membasuh tubuh ini. Seringkali aku kelimpungan dan seperti hendak jatuh. Ada kuasa dalam diriku yang seperti tidak mau dipaksakan untuk tenang dan diam.  Tepatnya adalah hati. Ia seperti gaduh dan hendak copot. Seringkali pula pada siang hari, aku merasa sendiri dalam keramaian. Sendiri dalam butiran peluh setiap kali aku hendak menyebrangi batas diriku sendiri. Aku seperti kelimpungan dan kehilangan arah. Tidak ada pedoman, maupun acuan yang jelas bagaimana dayaku harus berpijak. Sebab aku sendiri di sini, tanpa du...

Simposium Kereta: Putri Padi dan Petani

"Plaak!" Telapak tangan hangat yang selalu kurindukan itu menghantam pipi kiriku. Lantas ia mengepal. Seperti ada raut sesal dari pendar punggung tangannya. Diam dan menciut. Redam namun membara. Dalam sela-sela penyesalan itu, ada berjuta ladang padi yang terhisap habis oleh kemarau. Memberangus dengan perlahan, tak sejuk lagi. Wajahku. Dengan sisa sakit tamparan itu, aku diam memandanginya dengan geram. Gulita bersemayam. Aku tak kuasa, air mata itu kemuncak lepas meleleh. Berharap sesaat air mata mencoba menyejukkan ladang padi yang tandus itu. "Aku benar-benar sudah tak mengenalimu." Isak mulai cair, ludah yang kutelan mulai terasa pahit. Gelap dan tandus. Ia meraih tubuhku, berusaha mencari celah untuk mendekap. Pendar sesal itu ikut meluap dalam bibirnya. Seperti luberan air yang membludak keluar dari dalam belanga yang penuh. Ia kwalahan, ladang padi itu sudah berubah menjadi hamparan tanah yang kering dan retak.  "Maafkan aku." Ia te...