Langsung ke konten utama

Postingan

Teruntuk yang lalu

Adakah kau mengingat ketika kita saling dipertemukan oleh waktu?  Tawa dan canda seolah berseteru dengan masa waktu yang terus mempersempit sisanya. Kau pernah berkata, jika senyumku ialah debar candu yang menelusup seperti kupu-kupu yang menggelikan perutmu. Ada debar yang menyenangkan sebelum terlumat habis oleh kerisauan, jikalau tak bertemu seberapa lama hujan menggenangkan. Tersebut rindu serta toreh sendu seujung kuku dalam kalbu. Kau pun pernah berkata, jikalau kecupku ialah cannabie paling sadar. Melayangkan diri semacam embun udara pagi serta debu tengah hari.  Sementara itu,  katamu,  kenangan tentangku ialah materi paling sulit dari segala macam ujian yang ada. Sebab tiada yang mudah bagi rasa yang masih ada untuk meleburkannya begitu saja. Tanpa pandang bulu, seharusnya kau tinggalkan aku sejak dulu. Kini kau menangis pilu di samping sembilu. 

Bak Bayi Mungil

Berulang kali imaji, berulang kali perilaku sudah kau tampakkan ke permukaan.  Ia seperti menjadi budaya yang dengan mudah diwariskan pada anak cucu yang tak tahu apa-apa. Mendarah daging serta sulit dilepaskan. Mereka hanya mampu meniru tanpa menimbang, atau barangkali sesekali memikirkan baik atau buruknya. Namun, sebaik-baik kebiasaan adalah apa yang telah dilakukan berulangkali. kau selalu berujar bahwa jangan menjadi manusia yang sok kritis. Keresahan akan menghampiri orang-orang yang tak mau menjalankan aturan. Itu normatif sekali. Selalu begitu. Jangan-jangan kau diajarkan ketika membela diri ketika tidak bersalah adalah perilaku tercela. Orang tua macam apa yang mengajarkan anaknya untuk tidak memiliki hak jawab atas dirinya sendiri? Tubuhnya saja yang tua, namun tidak dengan pemikirannya.  Bak seorang bayi mungil yang terlahir tanpa dusta, seseorang berjalan sempoyongan dan sekenanya. Seperti tak memiliki kumpulan dosa yang harus siap sedia digantikan pada sa...

Tips saat influenza

Sudah terlampau lebih dari dua hari pada saat-saat malam hingga mentari berujung pada penerbitan dirinya, lampu tetap menyala. Ia tetap terjaga. Bukan seperti malam-malam lainnya, yang harus gelap. Ya, kamar ini harus gelap di malam hari. Jikalau tidak, lagi dan lagi aku tak bisa memejamkan diri. Namun, berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Ya, aku tidur terang-terangan. Tidak! Bukan karena ada "sesuatu" yang sedang singgah dan bercerita. Tetapi, nasib tubuh sedang gentar dari virus influenza. Ya Tuhan!!! Aku pilek! Ya, tak jadi apa memang karena layaknya musim pancaroba serta dal penghujung hari-hari ujian akademis. Entah kenapa sedari dulu pada minggu terakhir ujian, tubuh ini selalu kalah pertahanannya. Ujian apapun. Duh! Kebetulan memang minggu ini ialah minggu terakhir ujian tengah semester. Hm.. Pada awalnya, terasa sangat gatal pada hidung sebelah kanan. Entahlah, aku juga bingung ke apa harus sebelah kanan. Padahal aku tak bisa belok kanan jikalau mengendarai s...

Dini mulai gila?

Melanjutkan tulisan sebelum ini, masih perihal malam yang terjaga. Barangkali saya ingin menceritakan ini pada teman-teman semua. Pabila kalian mengerti dan atau tahu sesuatu boleh kiranya ucapkan pada saya. Saya sudah mulai gila. Itu yang sempat saya rasakan beberapa waktu yang lalu. Saya lupa kapan tepatnya kejadian ini, namun sekitar beberapa minggu yang lalu.  Saat itu, aktivitas saya berjalan seperti biasanya. Mulai dari mentari menyongsong hingga bahkan kemudian menenggelamkan diri. Hari itu sungguh melelahkan, sampai-sampai pada pukul sepuluh malam saya sudah terlelap dalam mimpi. Namun, saya ingat betul. Sebelum terlelap, saya merasa mual tanpa sebab. Jelas saja, hari itu saya tidak sempat makan yang aneh-aneh. Seperti seblak dengan level kepedasan tinggi ataupun telat makan. Jadi seharusnya saya tidak akan merasakan mual pada perut saya malam itu. Nah, ketika sedang terlelap. Tiba-tiba saya terbangun. Terduduk. Terkejut bukan kepalang. Seperti ada yang membangunkan. Kirany...

Sasakala Ibu

Anakku!  Jangan menceracau.. serta liar dalam derai hujan Akan aku dongengkan hikayat Putri Jembawati yang didua suami Pada seorang perempuan jelita yang lakunya tak tahu diri Hancurlah hati jadi berkeping sejadinya Dan anakku! Sasakala menelisik sunyi pada tubuh tertahan kalang hangat  Serta sela jemari yang hangat saling terpaut oleh dua lengan lalu terkapai-kapai  Berbudilah! Jadilah perempuan muda yang tak takut mati Walau dunia ripuhnya bukan kepalang Ada ibu dalam ruang usang Menunggumu pulang, duduk bersama rantang berisi ikan cakalang setengah matang Yang dimasak dengan api peraduan senang Tak apa!  Seekor krustasea yang ku pancing telah aku buang Musabab hidupnya ialah teman nasi untuk makan siang penguasa jalang Seharusnya mereka peduli pada bumi yang kian kerontang Habis dihisap para pialang Mereka ialah suruhan para penguasa berang yang dengan gentar ingin merauk segala macam hasil tambang Sehingga hutan-hutan meragang Kisruh pemberontak datang  Samp...

Cornelio (bagian 1)

Barangkali dalam satu waktu, kau hanya duduk memangku satu kaki dengan tangan memeluk mesra gitar tua yang kau beli jauh-jauh hari. Memakai kamisa andalan yang kau punya, tanganmu sedang asyik mengapit sebatang rokok Malrboro merah yang kau beli siang tadi. Menyemburkan asap pekat yang aromanya sama sekali tak kusenangi. Ia dapat merusak indera penciumanku, bahkan seketika alergi menyerang hidungku hingga bersin dan tersumbat sepanjang hari. Namun, kala itu yang berbeda. Kau tersenyum, seperti menggelayutkan semangat dan kerinduan tertanamkan dari sana. Jari-jemari itu kemudian memetik beberapa senar dengan lembut.. "Aku sering ditikam cinta.." Kau bersenandung. Suara itu mendamaikan, terkadang ada pula yang terpeleset pada nada yang tidak seharusnya. Namun kau tetap melanjutkannya. Aku hanya tersenyum sembari melihat tingkahmu yang canggung ketika nada fals itu bersautan dari bibirmu sendiri. Menggemaskan sekali.  Kau bahkan tetap percaya pada dirimu sendiri ketika ...

Kidung Bhanu

(Ilustrasi foto oleh Sunnu Faizal) Berulang kali imaji.. Kau sapu bersih aksara.. Hisap habis hingga kerak.. Memungut jiwa yang berserak.. Umat manusia, panahan bumi astungkara Lila..lila sirna ing wengi.. Gumlathak laku lan atine.. Awujud binarung kidung Bhanu.. Ngalor ngidul mlaku njur mlayu Tumapak sinajan panguripan Seenggok cerita mengenai imajinasi serta makhluk tak kasat mata sudah pernah saya ulas dalam beberapa tulisan sebelum ini. Bila teman-teman ingat, pada tulisan saya yang berjudul Oneironaut dan juga cerpen yang berjudul Rasuk di situ banyak sekali cerita yang bertopik demikian. Entahlah, akhir-akhir ini saya selalu memikirkan hal tersebut.  Masa kanak-kanak ialah masa paling menyenangkan dalam hidup seseorang. Mereka memiliki imajinasi yang sangat lucu, energik, dan inovatif. Hal tersebut kemudian merambah pada tingkah dan juga perilaku anak tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan masa kecil Dimpi. Ya, Dimpi adalah nama panggil...