Langsung ke konten utama

Bak Bayi Mungil


Berulang kali imaji, berulang kali perilaku sudah kau tampakkan ke permukaan. 
Ia seperti menjadi budaya yang dengan mudah diwariskan pada anak cucu yang tak tahu apa-apa. Mendarah daging serta sulit dilepaskan. Mereka hanya mampu meniru tanpa menimbang, atau barangkali sesekali memikirkan baik atau buruknya. Namun, sebaik-baik kebiasaan adalah apa yang telah dilakukan berulangkali. kau selalu berujar bahwa jangan menjadi manusia yang sok kritis. Keresahan akan menghampiri orang-orang yang tak mau menjalankan aturan. Itu normatif sekali. Selalu begitu. Jangan-jangan kau diajarkan ketika membela diri ketika tidak bersalah adalah perilaku tercela. Orang tua macam apa yang mengajarkan anaknya untuk tidak memiliki hak jawab atas dirinya sendiri? Tubuhnya saja yang tua, namun tidak dengan pemikirannya. 

Bak seorang bayi mungil yang terlahir tanpa dusta, seseorang berjalan sempoyongan dan sekenanya. Seperti tak memiliki kumpulan dosa yang harus siap sedia digantikan pada saat sudah tiada. Bayi mungil itu hanya merespon sesuatu dengan tangisan. Bukan dengan ceracau atau umpatan kasar seperti ayahnya ketika kakinya terpelatuk kaki meja. Bayi mungil itu hanya menangis. Barangkali ia hanya dapat melakukan demikian. Ia belum mampu bereaksi, atau melawan diri. Ataukah juga meluangkan sedikit tenaga untuk memperjuangkan hak jawab atas dirinya. Kemudian hal itu mengajarkanku sesuatu, bahwa sebuah ketidakberdayaan ada ketika memang kita tahu kita tak mampu melakukannya. Bukan berati tidak ada kesempatan sama sekali, tetapi tak mau untuk mencoba. Sebuah permasalahan yang klasik. 
Siapa lagi yang akan membela kita jikalau bukan kita sendiri?
Bayi mungil pun memiliki suara, dalam tangisnya.

Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.