Langsung ke konten utama

Tips saat influenza

Sudah terlampau lebih dari dua hari pada saat-saat malam hingga mentari berujung pada penerbitan dirinya, lampu tetap menyala. Ia tetap terjaga. Bukan seperti malam-malam lainnya, yang harus gelap. Ya, kamar ini harus gelap di malam hari. Jikalau tidak, lagi dan lagi aku tak bisa memejamkan diri. Namun, berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Ya, aku tidur terang-terangan. Tidak! Bukan karena ada "sesuatu" yang sedang singgah dan bercerita. Tetapi, nasib tubuh sedang gentar dari virus influenza. Ya Tuhan!!! Aku pilek! Ya, tak jadi apa memang karena layaknya musim pancaroba serta dal penghujung hari-hari ujian akademis. Entah kenapa sedari dulu pada minggu terakhir ujian, tubuh ini selalu kalah pertahanannya. Ujian apapun. Duh! Kebetulan memang minggu ini ialah minggu terakhir ujian tengah semester. Hm.. Pada awalnya, terasa sangat gatal pada hidung sebelah kanan. Entahlah, aku juga bingung ke apa harus sebelah kanan. Padahal aku tak bisa belok kanan jikalau mengendarai sepeda motor. Hahahaha. Gatal pada hidung itu berlangsung hingga dua hari berturut-turut, lalu meranjak pada dunia bersin-bersin hingga lelah. Hahahahah! Pernahkah kalian merasa lelah pada sesuatu hal yang harus kalian kerjakan berulang kali, bahkan tanpa kalian inginkan? Nah! Demikian rasa lelahnya bersin berulang kali. Yang paling menyebalkan adalah ketika demam sudah mendera seluruh tubuh. Suhu tubuh yang aneh. Rasa yang dingin namun tubuh dengan suhu yang panas. Sungguh menyebalkan! Gejala-gejala ini ialah tanda bahwa tubuh harus diistirahatkan. Banyak yang bilang bahwa Dini selalu "gabut", hal itu yang menyebabkan jam tidurnya bermasalah. Padahal perihal tidur di malam hari sudah  mulai membaik, hingga aku mengorbankan beberapa pekerjaan freelance writer-ku untuk memperbaikinya. Namun, tetap saja kebiasaan memiliki waktu yang cukup lama untuk dirubah. So sad! 

Oh ya, yang paling menyebalkan dari keadaan demam ialah halusinasinya. Hahahahaha! Ya, pernahkah kalian tiba-tiba melihat ikan-ikan sedang berenang di depan mata kalian? Hahaha. Ya, halusinasi seringkali terjadi ketika kondisi suhu tubuh di atas 40 derajat celcius. Dan kalian tahu apa, suhu yang tinggi menyebabkan beberapa hal seperti dehidrasi serta panas dalam. Itulah kenapa pada saat kalian demam dalam waktu beberapa hari, kulit serta bibir cenderung lebih kering dari biasanya. Hal ini dikarenakan asupan air dalam tubuh kurang karena suhu tubuh yang tinggi. Maka, sekarang-sekarang ini aku harus mampu menelan air putih lebih banyak daripada sedang baik-baik saja. Hahahaha. Entah kenapa terpikir sapi gelonggongan. Salfok! Ya, lanjut! 
Bukan hanya air putih yang harus aku tambah tapi ada beberapa hal yang sudah pasti aku lakukan ketika influenza menyerang. 
Yang pertama, influenza sendiri ialah salah satu penyakit menular legendaris dalam kehidupan manusia. Duh ileh! Bahasa gue- Medium penularannya sangatlah beragam dari mulai air liur, keringat, hingga udara. Sungguh menakutkan bukan? Udara men? Fasilitas umum! Berkah Tuhan! Sebenarnya virus ini akan mati pada lapisan ketiga kulit manusia setelah melawan sistem imunitas. Namun, sayangnya sistem imunitas dalam tubuh manusia juga tidak selalu prima setiap saat. Sistem imunitas ini terkadang melemah dengan sendirinya, seperti ketika pada suhu udara yang dingin kemudian kita minum es. Maka, yang paling pertama yang harus aku lakukan untuk memusnahkan influenza tersebut ialah siap sedia pemusnah virusnya. Yak, antibiotik serta obat flu dan batuk. Sejujur nya, dengan minum satu kapsul saja obat flu aku rasa tak mempan loh. Jadi, seringkali aku menelan dua kapsul obat flu ini satu persatu dalam jarak dua jam sekali. Efeknya memang langsung tertidur dan tepar. Namun setelahnya, demam sedikit mereda. Satu hal lagi yang harus dihindari ialah menjauhi makanan yang membuat gejala influenza makin parah. Seperti minum air dingin, air dingin membuat virus dan bakteri tambah kebal bahkan efeknya melebihi kekebalan antibiotik yang diresepkan dokter. Selanjutnya, jangan makan dan minum yang manis dan pedas. Sungguh menyebalkan! Seringkali pada proses penyembuhannya selera makan kemudian sedikit meningkat karena respon tubuh yang sebelumnya termetabolis lebih banyak karena mencerna obat. Maka seringkali makanan manis dan pedas tentunya sungguh menggoda. Namun, sayangnya makanan dengan rasa ini menimbulkan efek yang kering pada tenggorokan maka memicu batuk yang lebih parah. Apabila kalian sedang influenza bahkan disertai dengan batuk mendingan jauhi dulu makanan pedas dan manis. Hidung tersumbat serta batuk membuat kalian merasa tersiksa dan setelahnya pasti badmood seharian. Hm.. Padahal kan seblak super pedes sangat enak diminum dengan es teh tarik burjo. 

Yang kedua, jangan memanjakan tubuh yang sedang sakit. Pernahkah kalian tahu apabila tubuh manusia ialah sistem paling teratur dari yang pernah ada. Tubuh manusia akan membiasakan diri dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya adalah jam tidur dan jam makan. Dalam dua hari apabila kalian melalukan kegiatan tersebut berulang kali, maka pada hari ketiga tubuh akan secara otomatis menagih kegiatan tersebut. Misalnya, kalian terbiasa makan pada jam 8 pagi maka pada jam 7 pagi kalian sudah merasa lapar. Begitupula pada saat tubuh sedang sakit. Tubuh akan cenderung lebih manja apabila kalian terus di atas tempat tidur sepanjang hari. Eh tunggu! Hal ini bukan berati pada saat pilek kita tak butuh istirahat ya! Tapi cobalah untuk terus melakukan aktifitas hingga tubuh sedikit berkeringat. Keringat adalah hasil pembakaran kalori di mana dalam prosesnya juga menambah daya juang sistem imun dalam melawan bakteri maupun virus. 

Yang ketiga, dalam pemulihannya pastikan jaga serta kontrol asupan gizi dalam tubuh agar virus tidak menyerang kembali. 

Yang keempat, pastikan bahwa anda tidak sedang rindu dengan ibu. Kerinduan pada ibu memudarkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu penyakit menyerang. 


:((((

TERSERAH LO DIN

Dn, 24 oktober 2017




Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.