Langsung ke konten utama

Sasakala Ibu

Anakku! 
Jangan menceracau..
serta liar dalam derai hujan

Akan aku dongengkan hikayat Putri Jembawati yang didua suami
Pada seorang perempuan jelita yang lakunya tak tahu diri
Hancurlah hati jadi berkeping sejadinya

Dan anakku!
Sasakala menelisik sunyi pada tubuh tertahan kalang hangat 
Serta sela jemari yang hangat saling terpaut oleh dua lengan lalu terkapai-kapai 

Berbudilah!
Jadilah perempuan muda yang tak takut mati
Walau dunia ripuhnya bukan kepalang
Ada ibu dalam ruang usang
Menunggumu pulang,
duduk bersama rantang berisi ikan cakalang setengah matang
Yang dimasak dengan api peraduan senang

Tak apa! 
Seekor krustasea yang ku pancing telah aku buang
Musabab hidupnya ialah teman nasi untuk makan siang penguasa jalang
Seharusnya mereka peduli pada bumi yang kian kerontang
Habis dihisap para pialang
Mereka ialah suruhan para penguasa berang yang dengan gentar ingin merauk segala macam hasil tambang
Sehingga hutan-hutan meragang
Kisruh pemberontak datang 
Sampai-sampai rakyat gamang


Tidurlah tidur, Nimas Ayu!
Dengkur damai dalam perutku..
Nafas paling ditunggu setiap ibu



Purwokerto, 2017

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...