Langsung ke konten utama

Postingan

Puteri Gunung

Semak belukar mengapit dinding halamannya yang usang, samun seperti wajahnya. Ia berjalan dengan sangat tertatih, matanya terus memicing. Sesaat kemudian kakinya terus memapas jalanan bumi, tanpa alas. Kakinya terus menapaki kerikil terjal dan berbatu, belum lagi duri-duri yang siap menancap pada telapak kakinya. Namun, ia terus tersenyum. Tersenyum walau mungkin dalam tatih. Hutan kian membelukar, sinar matahari mulai menepis. Gelap kian terasa di mata. Sosoknya yang anggun terus berjalan demi sebuah keranjang berisi kayu-kayu yang kering, tuk kobarkan api di bawah tungkunya. Lehernya berpeluh, peluh itu membulir hingga menetes ke tanah. Setelah keranjang itu penuh, ia kembali memapas bumi dengan kaki telanjangnya. Berjalan lagi dan lagi menyusuri tanah batu yang terjal serta berduri. Ia terus menjinjing keranjang itu dengan sesekali membelai-belai rambutnya yang ikal tergurai. Warnanya cokelat gelap, seperti kopi robusta sidikalang yang belakangan ia tanam di sudut pekarangannya...
Keindahan ragawi sanggup butakan insani Sebab keindahan yang terlihat ialah sisa-sisa apa yang terlihat sebelumnya Relatifitas tiada henti

Titik-titik

Ketakutan ini kembali hadir. Sebab diriku terlampau silau dalam kenyamanan, dan tiba saatnya aku harus melangkah sendirian, aku harus terjerembab dalam ketakutan. Mungkin tak ada yang bisa ku jelaskan lagi perihal rasa, ada kecemburuan menguar dengan bijaksana.  Entahlah,  mungkin kau tak akan pernah membaca ini. Namun yang ku tahu kau tak akan pernah lagi menempatkan namaku pada urutan pertama perempuan terdekatmu, sebab yang ku rasa ialah yang terbaik. Yang bisa mengisi dengan indah hari-hari dalam sendumu.  Aku akan tetap menjadi yang kau butuhkan, aku akan tetap menjadi orang yang selalu kamu datangi. Lelucon kita akan tetap sama. Aku akan terus menertawai apa yang kau sebut lucu. Aku sedang merasa sedikit kehilangan sosokmu yang selalu ada, yang selalu dapat ku andalkan tanpa harus aku minta. Permintaanku terwujud lucu, sebab kembali ku ingat saat-saat awal kita menamai diri sebagai sahabat baik. Aku mengerti pasti kan ada hal yang tak kit...

Patung Sentini

Ilustrated put on google. Tubuhku diremas-remah. Sejadinya. Nafasku terengah-engah seperti terhimpit sebuah benda yang berat. Tangannya terus menepuk-nepuk tubuhku. Sesekali sebuah belati tajam menggoreskan lurik yang indah di atas tubuhku. Tangannya seperti becek dan basah, beberapa tetes lumpur mengalir hebat dari tangannya. Sebuah patung sepertiku tak layak untuk berucap. Tugasku hanya menikmati perlakuan majikanku sebagaimana ia akan membentuk tubuhku. Seperti sedianya patung yang lain, kami para patung ingin sekali berucap. Berteriak. Menangis. Namun, kami tak bisa. Jangankan untuk menangis, untuk berucap pun kami harus menunggu majikan kami membuatkan mulut. Tangannya terus bergerilya menyusuri tiap jengkal yang ada di tubuhku. Tonjolan dada yang indah, serta pahaku yang sintal. Sebuah patung perempuan agaknya ku akan dibuatnya. Percikan-percikan air membasahi dinding tubuhku. Tangannya terus mengaduk-aduk campuran gypsum dan semen itu lalu menumpuknya tepat di atas t...

Goresan Tak Selesai

Penantianku mungkin akan berujung sebuah entah. Dari berjuta bias kata-kata, mungkin aku akan menang. Menang untuk diriku sendiri. Aku terus belajar, dan menikmati kebodohanku. Menjadi yang terus bodoh hingga merasa aku harus tahu. Jutaan kata dan teori masih sempat aku pelajari. Aku menikmati segalanya. Pada awalnya, aku menulis hanya untuk mengerti seberapa besar kebodohanku. Seberapa penting tulisan itu mengubah seseorang. Dan kini, aku mulai mengerti. Seberapa berartikah diriku atas diriku sendiri? Aku terperanjak.. Saat bahasa melilit tubuhku. Memaksaku untuk mengerti tanpa pernah ku ingini Penantian itu berujung akan jawaban.  Namun, langkahku terseok. Aku tergelincir akan kebingunganku sendiri.  Jemariku mengudara. Tanganku menari-nari sekenanya. Entah berapa juta orang menertawakan kebodohanku itu. Aku tak peduli. Mereka mungkin tak akan pernah tahu, seberapa berharganya tulisan itu dimataku. Yang mereka tahu hanyalah kegagalanku menjadikannya sebuah buku. Sungguh, beg...

Perempuan Tak Kasat Mata

Ilustrasi foto oleh Azzah Zulfa Maula Kakimu yang jenjang terus menapaki hutan. Berjalan kian kemari dengan membawa sebuah pot bunga kesayanganmu. Salamah mengerlipkan matanya yang ayu ketika melihat sebuah kupu-kupu yang terbang di dekatnya. Bilur dalam hatinya mungkin masih jelas terlihat. Namun, tidak dengan senyumnya yang manis. Kupu-kupu itu hinggap tepat di atas jari telunjukmu. Kau tiupi perlahan dan serangga cantik itu terbang meninggalkanmu. Raut wajahmu tak lagi menggigil ketakutan. Seperti ketika kau menyeringai karena anakmu tertelan ombak itu, atau ketika kau tahu bahwa suamimu hilang di tengah laut. Kau hanya ingin menikmati alam. Itu sebabnya kau menjajakan tubuhmu di sana. Kau memilih untuk menemani pohon kecubung itu tumbuh dengan baik. Kau mengerti pot kecil itu tak sanggup lagi untuk menampung pohon kecubung yang kau tanam. Kau ini tidak gila, kau hanya ingin mengasihi pohon kecubung itu layaknya anakmu sendiri. Sebab dulu kau ambil tanah kuburan anakmu ya...