Langsung ke konten utama

Puteri Gunung




Semak belukar mengapit dinding halamannya yang usang, samun seperti wajahnya. Ia berjalan dengan sangat tertatih, matanya terus memicing. Sesaat kemudian kakinya terus memapas jalanan bumi, tanpa alas. Kakinya terus menapaki kerikil terjal dan berbatu, belum lagi duri-duri yang siap menancap pada telapak kakinya. Namun, ia terus tersenyum. Tersenyum walau mungkin dalam tatih. Hutan kian membelukar, sinar matahari mulai menepis. Gelap kian terasa di mata. Sosoknya yang anggun terus berjalan demi sebuah keranjang berisi kayu-kayu yang kering, tuk kobarkan api di bawah tungkunya. Lehernya berpeluh, peluh itu membulir hingga menetes ke tanah. Setelah keranjang itu penuh, ia kembali memapas bumi dengan kaki telanjangnya. Berjalan lagi dan lagi menyusuri tanah batu yang terjal serta berduri. Ia terus menjinjing keranjang itu dengan sesekali membelai-belai rambutnya yang ikal tergurai. Warnanya cokelat gelap, seperti kopi robusta sidikalang yang belakangan ia tanam di sudut pekarangannya. Tekstur rambutnya begitu lembut, seperti rambut jagung muda. Bergelombang seperti dahan simbar menjangan. Kulitnya sedikit gelap seperti batang tebu yang menua. Jemarinya lentik seperti batang teratai. Kala tengah asyik ia memapas jalanan dengan kaki telanjangnya, tetiba seekor merpati hinggap di dahan.
“Hendak kemana gerangan Sang Putri?” Tanya merpati itu kepadanya. Sayu, tatapannya begitu sayu. Nampaknya merpati itu kelelahan.
“Hai, merpati. Aku baru saja mencari kayu bakar untuk memasak hidangan makan malam.” Jawabnya dengan girang. Sorot matanya tak dapat dipungkiri, ia begitu bersemangat.
“Sayahanda mendengar kabar Putri, akan pengalihan lahan di sekitar sini. Apakah berita itu benar?” Merpati itu kembali bertanya dengan seksama, lalu Putri itu hanya diam. Tak menjawab sepatah katapun lalu melanjutkan perjalanannya.
Begitu jelas rautnya yang muram, mengingat pertanyaan merpati itu. Ini tak adil, sebab lahan yang akan dialihkan pun termasuk area rumah serta pekarangannya yang penuh dengan bunga itu. Pegunungan ini sudah cukup indah dengan alamnya, tak lagi harus dibuat-buat, gumamnya. Ia terus berjalan dengan gumaman serta umpatan dirinya sendiri. Apa bagusnya bila tempat ini akan dibangun sebuah resort dan villa? Hendak kemana lagi perginya teman-teman binatangnya? Sungguh tidak adil. Keputusan ini benar-benar diambil secara sepihak. Lalu, beberapa jengkal lagi rumahnya tampak oleh pandangan. Sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang sangat indah, luas, dan asri. Tak ada lagi kata selain alami. Semuanya seakan kembali dengan alam. Belum lagi, cerobong asap yang bertengger tepat di atap rumah itu. Memukau mata. Pekarangan itu berisi berbagai macam bunga. Mulai dari mawar, melati, matahari, sepatu, hingga tulip. Beberapa lahan juga ia tanami oleh berbagai macam sayuran dan tanaman pangan. Seperti mentimun, kacang panjang, serta tanaman kopi.
Ia letakkan keranjang berisi kayu bakar itu tepat di samping tungku. Agaknya ia akan memasak untuk sajian makan malamnya. Kemudian ia menari-nari sembari berjalan ke halaman rumahnya. Lalu memetik beberapa sayuran yang akan dimasak. Namun, ia kelimpungan. Sepertinya ia lupa membeli bumbu-bumbu yang ia butuhkan untuk memasak. Tak ada lagi yang dapat membuat masakannya lebih sedap selain bumbu-bumbu khas itu. Ia harus membelinya di pasar. Tetiba ia teringat oleh pesanan penjual bunga tempo hari. Lalu, ia petik satu demi satu bebungaan yang indah itu beserta tangkainya. Bebungaan itu merampai menjadi satu. Merampai begitu indah seperti sajian seni yang luar biasa. Baunya sangat harum, nampak pula dengan jelas bahwa ia sangat mencintai bebungaan itu. Bibirnya yang semerah bunga sepatu it uterus meringis gembira.
“Burung gagak!” Ia berteriak-teriak tanpa henti.
Sesaat kemudian, seekor burung gagak yang besar datang dan hinggap tepat di sampingnya.
         “Burung Gagak, antar aku ke pasar.”
         “Baik, Puteri.”
Pegunungan ini nampak memukau pandangan mata, dari atas terlihatlah keindahan yang alami. Sawah yang terhampar luas, serta lembah dan lereng gunung yang surgawi. Ia menunggangi seekor burung gagak yang besar, apa lagi yang diinginkan oleh penguasa dengan penuh modal di tangannya itu? Hingga dengan teganya akan merusak keindahan ini lalu mereka investasikan dalam bentuk resort dan villa?
Rambutnya yang ikal melambai-lambai terhempas angin. Tangannya mencengkeram erat leher burung itu. Hingga sampailah ia pada sebuah pasar, tempat di mana ia akan membeli bumbu serta menjual bebungaannya itu.
Namun, keramaian tak dapat di sangka. Seperti ada yang salah dengan rerumunan ini. Beberapa orang tengah sibuk menangis. Anak-anak kecil berlarian kian kemari, sementara ibu-ibu penjual sayur berlari terbirit-birit. Apa gerangan yang sebenarnya terjadi? Suara gemuruh tetiba terdengar menohok telinga. Sebuah alat besar sedang asyik mengeruk bangunan-bangunan yang ada serta membabat habis pepohonan yang ada di sekelilingnya. Pasar itu kemudian porak poranda, seperti dihempas angin badai tempo lalu. Semua orang hanya bisa berlari menyelamatkan diri, sedangkan ia hanya terpaku menyaksikan rakyatnya demikian.
         “Apa gerangan yang terjadi?!” Ia terus berteriak-teriak, hingga batang tenggoroknya berdarah dan suaranya seraya menghilang.
         “Tak usah berpura-pura tak tahu, Puteri. Kau yang memintaku untuk membangun tempat ini agar kau bisa terus bertanam bunga-bunga itu.” Entah siapa yang menjawab, ia tak terlihat. Yang terlihat hanyalah sebuah alat pengeruk pasir yang sangat besar.
Tetiba, awan berhati sengit. Ia meluruhkan hujan di seluruh pelosok negeri. Sang Puteri terus menangis, tanaman-tanamannya luruh tertimpa air hujan. Ribuan tetesan air dari langit itu terus luruh dengan sadisnya, seakan-akan mengerti bagaimana kesedihan sang Puteri. Gaunnya yang indah kemudian basah oleh air hujan. Bukan hanya air hujan yang membasahi tubuhnya, gairah serta ambisinya sendiri.

                  ****
Detak jam terus berbunyi, tak ada lagi suara selain hembusan nafas anakku yang telah tertidur dan akhir dari dongengku. Selamat tidur, sayang. Lindungi dirimu dari ambisi yang berlebihan, sebab tak baik adanya. Ayah, selalu menyayangimu.



Oleh Dinie Wicaksani


Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.