
Semak belukar mengapit dinding halamannya yang usang, samun seperti wajahnya. Ia berjalan dengan sangat tertatih, matanya terus memicing. Sesaat kemudian kakinya terus memapas jalanan bumi, tanpa alas. Kakinya terus menapaki kerikil terjal dan berbatu, belum lagi duri-duri yang siap menancap pada telapak kakinya. Namun, ia terus tersenyum. Tersenyum walau mungkin dalam tatih. Hutan kian membelukar, sinar matahari mulai menepis. Gelap kian terasa di mata. Sosoknya yang anggun terus berjalan demi sebuah keranjang berisi kayu-kayu yang kering, tuk kobarkan api di bawah tungkunya. Lehernya berpeluh, peluh itu membulir hingga menetes ke tanah. Setelah keranjang itu penuh, ia kembali memapas bumi dengan kaki telanjangnya. Berjalan lagi dan lagi menyusuri tanah batu yang terjal serta berduri. Ia terus menjinjing keranjang itu dengan sesekali membelai-belai rambutnya yang ikal tergurai. Warnanya cokelat gelap, seperti kopi robusta sidikalang yang belakangan ia tanam di sudut pekarangannya. Tekstur rambutnya begitu lembut, seperti rambut jagung muda. Bergelombang seperti dahan simbar menjangan. Kulitnya sedikit gelap seperti batang tebu yang menua. Jemarinya lentik seperti batang teratai. Kala tengah asyik ia memapas jalanan dengan kaki telanjangnya, tetiba seekor merpati hinggap di dahan.
“Hendak kemana gerangan Sang Putri?” Tanya
merpati itu kepadanya. Sayu, tatapannya begitu sayu. Nampaknya merpati itu
kelelahan.
“Hai, merpati. Aku baru saja mencari kayu
bakar untuk memasak hidangan makan malam.” Jawabnya dengan girang. Sorot
matanya tak dapat dipungkiri, ia begitu bersemangat.
“Sayahanda mendengar kabar Putri, akan
pengalihan lahan di sekitar sini. Apakah berita itu benar?” Merpati itu kembali
bertanya dengan seksama, lalu Putri itu hanya diam. Tak menjawab sepatah katapun
lalu melanjutkan perjalanannya.
Begitu jelas rautnya yang muram, mengingat
pertanyaan merpati itu. Ini tak adil, sebab lahan yang akan dialihkan pun
termasuk area rumah serta pekarangannya yang penuh dengan bunga itu. Pegunungan
ini sudah cukup indah dengan alamnya, tak lagi harus dibuat-buat, gumamnya. Ia
terus berjalan dengan gumaman serta umpatan dirinya sendiri. Apa bagusnya bila
tempat ini akan dibangun sebuah resort dan villa? Hendak kemana lagi perginya
teman-teman binatangnya? Sungguh tidak adil. Keputusan ini benar-benar diambil
secara sepihak. Lalu, beberapa jengkal lagi rumahnya tampak oleh pandangan.
Sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang sangat indah, luas, dan asri. Tak
ada lagi kata selain alami. Semuanya seakan kembali dengan alam. Belum lagi,
cerobong asap yang bertengger tepat di atap rumah itu. Memukau mata. Pekarangan
itu berisi berbagai macam bunga. Mulai dari mawar, melati, matahari, sepatu,
hingga tulip. Beberapa lahan juga ia tanami oleh berbagai macam sayuran dan tanaman
pangan. Seperti mentimun, kacang panjang, serta tanaman kopi.
Ia letakkan keranjang berisi kayu bakar itu
tepat di samping tungku. Agaknya ia akan memasak untuk sajian makan malamnya.
Kemudian ia menari-nari sembari berjalan ke halaman rumahnya. Lalu memetik
beberapa sayuran yang akan dimasak. Namun, ia kelimpungan. Sepertinya ia lupa
membeli bumbu-bumbu yang ia butuhkan untuk memasak. Tak ada lagi yang dapat
membuat masakannya lebih sedap selain bumbu-bumbu khas itu. Ia harus membelinya
di pasar. Tetiba ia teringat oleh pesanan penjual bunga tempo hari. Lalu, ia
petik satu demi satu bebungaan yang indah itu beserta tangkainya. Bebungaan itu
merampai menjadi satu. Merampai begitu indah seperti sajian seni yang luar
biasa. Baunya sangat harum, nampak pula dengan jelas bahwa ia sangat mencintai
bebungaan itu. Bibirnya yang semerah bunga sepatu it uterus meringis gembira.
“Burung gagak!” Ia berteriak-teriak tanpa
henti.
Sesaat kemudian, seekor burung gagak yang besar datang dan
hinggap tepat di sampingnya.
“Burung Gagak,
antar aku ke pasar.”
“Baik,
Puteri.”
Pegunungan ini nampak memukau pandangan
mata, dari atas terlihatlah keindahan yang alami. Sawah yang terhampar luas,
serta lembah dan lereng gunung yang surgawi. Ia menunggangi seekor burung gagak
yang besar, apa lagi yang diinginkan oleh penguasa dengan penuh modal di
tangannya itu? Hingga dengan teganya akan merusak keindahan ini lalu mereka
investasikan dalam bentuk resort dan villa?
Rambutnya yang ikal melambai-lambai terhempas angin.
Tangannya mencengkeram erat leher burung itu. Hingga sampailah ia pada sebuah
pasar, tempat di mana ia akan membeli bumbu serta menjual bebungaannya itu.
Namun, keramaian tak dapat di sangka. Seperti ada yang salah
dengan rerumunan ini. Beberapa orang tengah sibuk menangis. Anak-anak kecil
berlarian kian kemari, sementara ibu-ibu penjual sayur berlari terbirit-birit. Apa
gerangan yang sebenarnya terjadi? Suara gemuruh tetiba terdengar menohok
telinga. Sebuah alat besar sedang asyik mengeruk bangunan-bangunan yang ada serta
membabat habis pepohonan yang ada di sekelilingnya. Pasar itu kemudian porak
poranda, seperti dihempas angin badai tempo lalu. Semua orang hanya bisa
berlari menyelamatkan diri, sedangkan ia hanya terpaku menyaksikan rakyatnya
demikian.
“Apa gerangan
yang terjadi?!” Ia terus berteriak-teriak, hingga batang tenggoroknya berdarah
dan suaranya seraya menghilang.
“Tak usah
berpura-pura tak tahu, Puteri. Kau yang memintaku untuk membangun tempat ini
agar kau bisa terus bertanam bunga-bunga itu.” Entah siapa yang menjawab, ia
tak terlihat. Yang terlihat hanyalah sebuah alat pengeruk pasir yang sangat
besar.
Tetiba, awan berhati sengit. Ia meluruhkan
hujan di seluruh pelosok negeri. Sang Puteri terus menangis, tanaman-tanamannya
luruh tertimpa air hujan. Ribuan tetesan air dari langit itu terus luruh dengan
sadisnya, seakan-akan mengerti bagaimana kesedihan sang Puteri. Gaunnya yang
indah kemudian basah oleh air hujan. Bukan hanya air hujan yang membasahi
tubuhnya, gairah serta ambisinya sendiri.
****
Detak jam terus berbunyi, tak ada lagi
suara selain hembusan nafas anakku yang telah tertidur dan akhir dari dongengku.
Selamat tidur, sayang. Lindungi dirimu dari ambisi yang berlebihan, sebab tak
baik adanya. Ayah, selalu menyayangimu.
Oleh Dinie
Wicaksani