Langsung ke konten utama

Postingan

Butiran Kesadaran Manusia Bebas

"Orang ini sadar nggak sih, Mbak?" tanya adikku saat kembali kami membaca berita hangat akhir-akhir ini. Masif, seorang gadis mengirimkan sate beracun hingga menewaskan seorang balita. Miris ya, sate yang enak jadi tidak menggugah selera. Hahaha! Namun, pikiran saya kemudian nyangkut pada pertanyaan adik yang itu, orang ini sadar ataukah tidak.. Sedikit menyintas pada rentang waktu beberapa tahun lalu yaitu pada masa pertengahan kuliah, saya membuka diri untuk mempelajari filsafat Barat. Ya, saat itu rak buku saya didominasi oleh buku-buku Jean Paul Sartre dan juga kekasih non-legalnya, Simon de Beauvoir. Sembari menilik kilas menarik dalam kisah cinta mereka, saya menelusuri kekayaan pikir Sartre dan coba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tedeng alih, membawa ilmu pengetahuan dalam ranah fungsi aksiologisnya dan ternyata saya menemukan hal-hal yang ternyata bersifat adaptif. Tidak seluruhnya dapat dipraktikkan. Pandangan mengenai filsafat Barat yang enggan m...

Menulis untuk Diri Sendiri Part. 1

Hm, sudah lama aku tidak menulis kepada diri sendiri. Setelah berjibaku dengan "words counts" pada klien yang kadangkala enggan bersahabat tutur bicaranya. Kemudian malam ini, barangkali akan menjadi gantinya. Sahut dan menyahut yang ada di kepala, kutumpahkan dalam tulisan ini. Lagipula blog ini juga sudah jarang dikunjungi oleh sesiapa. Wajar saja menjadi sepi. Banyak hal yang terjadi dalam hidupku. Signifikansi mood dan perasaan yang mewarnai setiap puing peristiwa yang terjadi. Tidak terasa aku telah menyisihkan diri ke dalam diam yang terlalu panjang. Dua tahun lalu, misalnya. Aku divonis serangan panik. Gejala-gejala ini sebenarnya memuncak karena banyaknya problematika waktu itu. Mengalami kekecewaan yang teramat mendalam pada ibuku sendiri, dua minggu aku nangis terus. Menutup mulut. Kemudian menyendiri. Entahlah, selalu ada tangis yang kusembunyikan dari balik tawa bersama orang-orang sekitar. Sampai-sampai aku menyadari bahwa ada yang salah dengan diriku. Sakit kepa...

Oneironaut #2

 Yang pasti, terlalu banyak cerita yang dibuat oleh kepalaku sendiri. Berbagai cara sudah sering kulakukan untuk menghapus cerita-cerita itu. Kuhitung jari-jemariku, Kucubit lenganku, Dan.. ku pikirkan sebuah pintu. Namun tetap saja, Hasilnya sama.  Aku tidak sedang bermimpi. Sama seperti malam-malam panjang yang kutempuh dengan mimpi sadar yang elok alurnya, pikir sadarku juga. Entah seperti, selalu aktif. Berbelit-belit. Seperti benang-benang berutas-utas yang saling terlilit. 

Taman Bunga Impian

Kepada kecup pertama di bulan September; Seperti peraduan kata-kata yang lainnya, kini usai sudah cerita yang lama tidak diselesaikan itu. Terus berlanjut dan mangkrak enggan berkesudahan. Akhirnya ia melenyapkan diri, meski ada sisanya; engkau masih bisa disentuh dalam panjaitan doa yang lain. Namun, cerita tentangmu sudah benar-benar diselesaikan. Ingin rasanya, separuh hati yang tersisa melompat keluar dari dada.  Binar dan tawa masih tersudut hingga ketika malam itu bergemuruh menemui tanggal satu, aku dijatuhkan lagi. Sedia jatuh dalam cinta, pun telah bersiap untuk menjatuhkan kecewa. Manis dan halus tuturmu. Hangat dan penuh dekap. Satir dan penuh sindir. Saat itu, aku benar-benar melihat diriku dari versi yang berbeda. Engkau selalu ngesah tentang keberanian, bahkan dari sejak percakapan pertama kita lima tahun lalu ada dari bagian telingaku yang membisik bahwa engkau akan hadir mengisi hari-hari. Dan pada saat kali pertama engkau menyalami, aku sudah hilang termakan buai. ...

Ampun, Tuhan!

Tuhan sejagad raya, bersediakah Kau mendengarkan kesah ini?  Sedikit saja. Biar semua keluar dari dada yang sesak ini, biar air mata itu membebaskan dirinya dari kengkang nafas yang tersengal-sengal, biar pedih bibir ini menyeruak setelah rakus digigiti oleh kawanan gigi.  Tuhan sejagad raya, masihkah engkau mendengarku?  Apa Kau mulai jengah sebab kubawa hanyalah kemarahan serta kekecewaan yang kian menggunung? Demi Engkau Tuhan sejagad raya, barisan kata-kata ini bagiku ialah sudut paling sepi. Tidak lagi ada yang tahu betapa riuhnya kepala ini selain semayamku di hadapan Engkau.  Tuhan?  Apa Kau masih di sana?  Sebab dari tadi aku tak mendengar balasanmu. Aku seperti keledai buta yang jatuh dalam lubang berisi air kotoranku sendiri. Meski tak terlihat, lubang ini dangkal sekali. Aku bisa lolos, tapi aku tak melihatnya. Sebab aku buta, Tuhan. Di mataku semuanya begitu tiada. Begitu gelap. Apakah Engkau juga akan menyalahi keberadaanku?  Tuhan sejagad...

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani