Langsung ke konten utama

Butiran Kesadaran Manusia Bebas

"Orang ini sadar nggak sih, Mbak?" tanya adikku saat kembali kami membaca berita hangat akhir-akhir ini. Masif, seorang gadis mengirimkan sate beracun hingga menewaskan seorang balita. Miris ya, sate yang enak jadi tidak menggugah selera. Hahaha! Namun, pikiran saya kemudian nyangkut pada pertanyaan adik yang itu, orang ini sadar ataukah tidak..

Sedikit menyintas pada rentang waktu beberapa tahun lalu yaitu pada masa pertengahan kuliah, saya membuka diri untuk mempelajari filsafat Barat. Ya, saat itu rak buku saya didominasi oleh buku-buku Jean Paul Sartre dan juga kekasih non-legalnya, Simon de Beauvoir. Sembari menilik kilas menarik dalam kisah cinta mereka, saya menelusuri kekayaan pikir Sartre dan coba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tedeng alih, membawa ilmu pengetahuan dalam ranah fungsi aksiologisnya dan ternyata saya menemukan hal-hal yang ternyata bersifat adaptif. Tidak seluruhnya dapat dipraktikkan. Pandangan mengenai filsafat Barat yang enggan menyatu dengan Tuhan, malah saya temukan dalam eksistensialisme. Saya merasa menemukan arti kehidupan dan fungsi keteraturan yang diciptakan oleh agama yang pernah saya gamangkan. 
Eksitensialisme yang berkembang pada abad ke-20  di Perancis dan juga Jerman, bukan lahir hanya berdasarkan pemikiran brilian Sartre namun juga rusaknya keteraturan di dunia Barat. Salah satu faktornya tentu meletusnya perang dunia pertama telah meleburkan keyakinan spiritual pada masa itu. Bukan hanya itu, namun justru munculnya kesangsian masyarakat terhadap kemajuan, kebenaran, dan juga kebebasan. Dalam hal ini, saya menilai bahwa salah satu faktor lainnya ialah rusaknya struktural makro seperti kondisi politik, atau juga hilangnya legitimasi atas kekuasaan yang berlaku. Sudah barang tentu bahwa individu akan berkuasa atas dirinya sendiri. Kondisi tersebut yang kemudian membuat para eksistensialis merasa kembali pada diri manusia sebagai pusat filsafat yang sebenarnya. 
Pada tahap perkembangannya, eksistensialisme jelas mengacu pada fenomena-fenomena kemanusiaan. Seakan menyetujui dan juga memberikan implememtasi pemikiran Descartes mengenai Cogito Ergo Sm, misalnya. "Saya berpikir maka saya ada", hal inilah yang kemudian munculnya rasionalitas yang terbalik dalam eksistensialisme yang mengatakan bahwa "saya ada, maka saya berpikir". Hal ini yang kemudian mendorong saya untuk mengerti dan menyadari bahwa subjektivitas melebihi objektivitas. Seperti yang diketahui bahwa filsafat Timur memberikan inti mengenai Ketuhanan yang menciptakan manusia sebagai khalifah yang "satu". Misalnya saja, Muhammad Iqbal (1877-1938) yang hampir memiliki kesamaan latar belakang misalnya pada saat melawan neoplatonisme Islam dan juga rasionalisme Yunani yang diadopsi kaum Mu'tajilah. Dalam kutipan yang saya temukan, Iqbal menyeret umat dalam sufisme panteistik (Ketuhanan). Dalam hal ini, yang saya temukan tidak lain baha individualitas merpakan persona yang lahir karena adanya realitas. Dengan begitu pula, korelasi antara bayangan filsafat Timur dalam pendalaman pada pemahaman saya mengenai eksistensialisme memberikan pengaruh yang cukup konkret. Pabila Tuhan menciptakan manusia sebagai subyek, maka kesempatan manusia dalam menghadapi hirup dan pikuk dunia lebih terbuka. Tentu, manusia memiliki kebebasan yang penuh untuk mengatur kehidupannya sendiri.  Seperti yang saya ulas dalam tulisan sebelumnya, pencapaian saya terhadap healing therapy juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran ini. Wow! Saya menyadari penuh, bahwa dengan adanya saya di dunia ini maka menjadikan peluang besar bagi saya untuk menentukan pilihan saya. Dan sebagai manusia biasa, yang dipilihkan Tuhan untuk menjadi khalifah yang mengejar kebahagiaan.

Satu indikator baru dalam kehidupan manusia, terlepas dari kebebasan ialah kebahagiaan. Eksistensialisme bukan sekedar suatu sistem yang khusus namun juga mengalami perkembangannya. Istilah ini juga merebak pada beberapa lini dan sektor di luar filsafat namun juga diterapkan pada beberapa lini seperti seni, sastra, dan bahkan seperti contoh "healing therapy" dan manusia sebagai khalifah, yaitu secara psikologi. Adanya perkembangan inilah yang menyudutkan pikir saya bahwa para eksistensialis menganggap bahwa eksistensialime menjadi tantangan bagi filsafat tradisional dengan segala bentuknya, hal inilah yang kemudian menjadikann "wujud" dan prinsip dasar sebagai hal yang penting. kemudian juga, eksitensialisme merambah sebagai protes terhadap adanya konsep-konsep "akal dan alam", yang bermunculan pada abad ke-18 misalnya. Dengan hal ini sangat dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme merupakan filsafat penerimaan yang hakikatnya belum sepenuhnya diartikan oleh manusia. Dengan adanya penerimaan inilah, yang kemudian mendekatkan manusia pada arti dari pengakuan. Seperti misalnya, pertanyaan-pertanyaan yang mendorong untuk kembali menanyakan mengapa manusia diciptakan? atau apa yang harus dilakukan manusia setelah mereka diciptakan? 

Konsep pengakuan inilah yang kemudian menjelaskan arti pentingnya manusia sebagai subyek yang memiliki eksitensi. Dapat diukur pada kesadaran yang tinggi dan memiliki ciri-ciri yang lainnya. Kesadaran yang kita temukan selalu menemui jarak antara kesadaran dan diri itu sendiri. Kesadaran merupakan suatu hal yang fundamental dalam proses penerimaan diri ini, dengan memiliki ciri sadar maka senantiasa kita akan merasa "berada dalam diri". Hal inilah yang cukup membolak-balikan pemikiran saya terhadap sejauh mana kesadaran yang dibangun, dan sejauh mana manusia bisa mengontrol kesadaran. Dalam keadaan kegamangan seperti ini, manusia akan berusaha membebaskan diri dari kecemasan dan mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terlontar dalam celah pikirnya. Dari sinilah kemudian, manusia akan menjadi hadir dalam esensinya, yaitu menciptakan pikir. Manusia merasa cemas akan kehidupannya sehari-hari sudah barang tentu karena urusan sehari-hari. Hal tersebut sangatlah reflektif, karena satu manusia tidak dapat dibandingkan seberapa cemasnya mereka dengan manusia lainnya.  Kemudian pada saat manusia mampu mengisi kekosongan atau jawaban pada pertanyaan-pertanyaannya atau juga mengalahkan kecemasannya inilah, maka manusia mendapatkan kebebasan untuk menjalankan dirinya.  Dalam arti, manusia yang bebas akan mengatur, memilih, dan juga yang terpenting adalah memberi makna dengan sadar akan realitas yang dijalaninya. Dari sinilah muncul suatu indikator baru, yaitu terhindar dari kecemasan, atau telah menemui ketenangan (kebahagiaan).
Namun apakah dengan menjadi bebas manusia telah serta merta mendapatkan kebahagiaan? Tentu saja tidak. Kebebasan yang diperoleh manusia justru menjadi konflik yang vertikal sejalan dengan eksistensinya. Manusia yang bebas justru dituntut menjadi bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Sehingga manusia menciptakan aturan, hukum, perjanjian, konvensi, dan juga keterikatan. Hal ini menciptakan terjadinya konsep deterministik yang kemudian sealur dengan pola sebab akibatnya. Namun, aturan dan hukum dalam hal ini digunakan sebagai bentuk tanggungjawab manusia dalam menciptakan keteraturan (chaos and order concept).

Seperti sedianya lautan tanpa garis,
biar susut akan ada pantai juga..

Dalam uraian di atas, maka sekelumit pikir saya mengenai konsep yang saya pelajari pada masa perkuliahan ini cukup memberikan dampak yang baik dalam proses internalisasi diri saya. Pula dalam hubungan cinta dan kasih manusia pastilah menemui konflik, kendatipun demikian manusia sadar adalah manusia yang bertanggung jawab dan memikirkan masa depan. Baik untuk dirinya sendiri maupun bagi kelangsungan manusia lainnya. Ketika manusia telah mampu bertanggungjawab kepada dirinya sendiri, sudah barang tentu kepada umat manusia dan juga alam semesta. Menulis esai ini, saya jadi mengingat sebuah cuitan lama yang saya tulis pada laman twitter. 
Kiranya begini,

"Anarki mengajarkan kita bahwa manusia merupakan makhluk yang berbahaya. Tetapi makhluk yang paling berbahaya adalah manusia yang tidak memiliki kesadaran".



Dinie Wicaksani, 
Masih pagi sekali.
Bogor, 7 Mei 2021

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...