Langsung ke konten utama

Postingan

Halimun di Pelupuk Gulistan

Pusara mengaitkan kancingnya, lalu berdiri meninggalkan wanita itu. Ah, memang penjahat pembuat sarang. Lelaki biadab. Namun, lantas mengapa kau serta-merta menuduh pria itu merusak citra wanita? Bukankah sang wanita yang ingin? Jika memang tidak, tak mungkin Pusara sebejat itu. Ah. Sudah. Lupakan.          Pusara memapas bumi, ia berjalan menyusuri jalanan hutan. Sebelumnya, ia kaitkan tali sepatunya agar tak terlepas. Sungguh, kau memang sang pengelana sejati. Sesekali kau menebas rerantingan untukmu berjalan dengan belati tua kesayanganmu, yang kau dapatkan dari ayahmu. Mengibaratkan seorang raja hutan yang sedang mencari jalan mangsa ditempatnya berkuasa.  Kau berjalan menyusuri eloknya hutan. Tugasmu setiap pagi, adalah berburu. Matahari memang belum sempat memperlihatkan semburat cahayanya padamu. Kekuatan lelakianmu kini diuji, bagaimana mungkin seorang lelaki kurus dengan tubuh penuh lebam bekas penyiksaan kompeni karna...

Bilur

Matanya terbelalak. Giginya berdesit, gerahamnya mengatuk-ngatuk. Salamah menjinjing roknya. Ia berlari menyusuri keramaian, mencari anaknya yang tertinggal di pasar.  Lembayung senja telah memayungi, semburat jingganya sudah ayu, matahari siap menggantung di bawah permukaan bumi. Salamah berlari, keramaian tak ia hiraukan. Ia berlari lagi, mencari-cari lalu menerka-nerka dimana anaknya. Semerbak aroma pasar ikan di pesisir pantai benar-benar memabukkan. Namun baginya, itu hidupnya. Menjadi seorang nelayan perempuan mungkin telah menjadi kesetiaan hidup. Ia tak lagi berpikir tentang bagaimana ajakan pemerintah kota, orang-orang berseragam coklat muda itu selalu menyuruhnya untuk tidak menangkap ikan semaunya. Lalu soal LSM yang katanya ingin cinta lingkungan namun tak perduli nasib orang sepertinya.  O, apa lagi para anggota DPR yang sibuk mempertahankan kepentingan politiknya yang kadang timpang? Mungkin jauh di tengah laut, Salamah tak lagi mengerti soal itu. Hei, lal...

Valentine Terakhir

Pagi yang hangat kembali menyapa alunan musik merdu yang sudah ku nyalakan dari kotak musik milikku. Hujan terus mengguyur perawakan bumi, menyisakan aroma kenangan yang terus meluluhlantakkan setiap insan yang ada. Rintiknya membiaskan kenangan serta anekdot para pelaku rindu, dinamis, serta membius setiap detik sisa aroma kenangan itu menjadikannya racun yang mematikan. Musik yang beralun semakin beradu, ku alung-alungkan kedua tangan seiring dengan irama. Hingga berhentilah aku pada secercah kenangan yang membuatku berhenti menari, tertunduk lesu, hingga lunglai tak terbendung. Air mataku menguar tanpa perintah, sedangkan ragaku seperti lemas yang entah, degup jantungku mempercepat degupannya, serta bibirku kelu. Aku terbius racun itu. Racun kenangan yang terbias dari rintiknya hujan, memang hujan selalu dapat menghantarkan kenangan dengan baik. Senja yang lalu, kami pernah berdiri di beranda. Melihat sejuta pixel warna yang melengkung menjadi satu, seperti kejinggaan. Berlar...

Aku Obesitas...

“ Aku Obesitas….”             Begitulah seringkali orang menyebutku, karena memang berat badanku lebih dari seratus kilogram pada saat ini. Obesitas itu jelek, obesitas itu nggak sehat, obesitas itu aneh, obesitas itu langka, obesitas itu penyakit, obesitas itu gaya hidup berlebihan. Perkataan-perkataan itulah yang sering ku dengar. Bahkan menjadi makanan batinku sehari-hari. Mulai dari kelas lima sekolah dasar, masa pertama kali aku mengenal istilah ini dari guruku. Waktu itu aku mendapatkan nilai yang buruk untuk mata pelajaran matematika, lalu sang guru pun menghukumku untuk skotjam dua puluh kali.             “Skotjam dua puluh kali, sambil pegangan meja. Obesitas kayak kamu kan tulangnya rawan, loncat-loncat nanti patah. Hahaha.” Bukan hanya guru itu yang menertawakanku habis-habisan, sekelas pun. Aku malu, tanpa tahu apa itu obesitas. Entah pada saat itu memang ...