“Aku Obesitas….”
Begitulah seringkali orang
menyebutku, karena memang berat badanku lebih dari seratus kilogram pada saat
ini.
Obesitas itu
jelek, obesitas itu nggak sehat, obesitas itu aneh, obesitas itu langka,
obesitas itu penyakit, obesitas itu gaya hidup berlebihan. Perkataan-perkataan
itulah yang sering ku dengar. Bahkan menjadi makanan batinku sehari-hari. Mulai
dari kelas lima sekolah dasar, masa pertama kali aku mengenal istilah ini dari
guruku. Waktu itu aku mendapatkan nilai yang buruk untuk mata pelajaran
matematika, lalu sang guru pun menghukumku untuk skotjam dua puluh kali.
“Skotjam dua puluh kali, sambil
pegangan meja. Obesitas kayak kamu kan tulangnya rawan, loncat-loncat nanti
patah. Hahaha.”
Bukan
hanya guru itu yang menertawakanku habis-habisan, sekelas pun. Aku malu, tanpa
tahu apa itu obesitas. Entah pada saat itu memang karena aku ini bodoh atau
rasa malu itu membutakan semuanya. Betul, obesitas adalah kondisi dimana berat
badan melebihi batas normal bahkan melampaui standar berat badan usia si
penderita.
Aku
tak habis pikir dengan orang-orang yang selalu membeda-bedakan fisik seseorang
dengan orang yang lain. Apakah itu penting? Kalau iya, kenapa Tuhan tidak
menciptakan seluruh manusia itu sama? Sama-sama cantik dan ganteng, maksudnya.
Sama-sama bertubuh ideal juga. Apa kesalahanku? Gaya hidupku yang berlebihan?
Kaum obesitas sepertiku banyak mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari
lingkungan sosial. Entah karena aku berbeda atau aku jelek, entahlah. Ejekan,
bully, menjadi makanan sehari-hariku. Memang aku bukanlah seseorang yang bisa
menyembunyikan perasaan sedih dari semua ejekan itu. Seringkali, ada duka yang
mendalam saat orang-orang itu mengolok-olokku sekenanya, namun entah apa lagi
yang harus aku perbuat untuk menghibur diri. Jika, aku ingin menangis pun, apa
gunanya? Mungkin, dimata orang yang telah lama mengenalku, aku adalah sosok
yang periang. Ya, aku berusaha semampuku agar tetap menghidupkan suasana. Aku
berusaha mengerti, aku berusaha berpikir positif terhadap apa yang mereka
ucapkan padaku. Mengingat tubuhku yang tak biasa ini, terkadang aku pun tak
ingin melihatnya di cermin. Bahkan diriku sendiri pun merasa aneh, apalagi
orang yang lain. Kalian tahu? Betapa menyakitkannya menjadi seseorang yang
hampir setiap hari mendapatkan cemoohan ataupun pandangan yang aneh dari orang
lain, seakan-akan kita ini alien yang begitu saja datang dari planet lain.
Setiap orang, hampir setiap orang maksudku. Hingga kini aku terbiasa
melihatnya, aku balas dengan senyuman. Menyakitkan sekali, membuat otak busukku
kembali hadir dan membuat semua ini salah Tuhan. Aku menyalahkan Tuhan lagi.
Mungkin aku harus merubah sikapku yang terlalu memikirkan omongan orang.
Memang. Namun, aku tetaplah manusia. Aku sanggup mencerna bagaimana kata-kata
mereka mengiris kupingku sendiri.
Ada suatu cerita tentang diriku yang
tak pernah bisa aku lupakan, ketika temanku sendiri berkata kenapa harus aku
yang jadi teman baiknya. Kenapa harus aku yang bisa mengertinya dan ada
untuknya ketika bahkan dunia harus meninggalkannya, kenapa harus orang seperti
aku? Dia malu, katanya. Namun, aku tetap berusaha baik padanya. Bahkan sampai
sekarang pun aku tetap menjadi teman baiknya, aku berusaha untuk memberi
pengertian padanya bahwa sebuah pertemanan tak butuh untuk diberi imbalan. Jika
kalian tahu, betapa kalimatnya seaakan mengiris kalimatku. Kalian juga harus
tahu, jika ketika aku harus menulis paragaf ini air mataku mengalir deras di
dagu. Ada satu cerita lagi, ketika hidup baru membuatku harus beradaptasi
dengan lingkungan baru. Dengar dari cerita seorang teman sekelasku, dia
mengatakan first impressionnya. Dan betapa mengejutkannya, setega itu dia
berdoa pada Tuhan supaya aku tak menjadi bagian dari kelas itu. Merusak
pandangan katanya. Menyakitkan. Sungguh.
Apa separah itu pandangan kalian
tentang seorang obesitas? Di samping masalah kesehatan yang harus kami hadapi.
Di samping penyakit jantung yang kapan
saja bisa merenggut nyawa kami, kalian masih saja menyepelekan kami. Apa tak
ada seinchi pun tempat untuk kami di mata kalian? Hei, jika kami diberikan
pilihan kami lebih memilih mati daripada hidup hanya sebagai cacian kehidupan
sosial kami sendiri. Belum lagi aku adalah seorang perempuan. Ingin rasanya aku
tampil sempurna seperti perempuan-perempuan lainnya. Memakai dress-dress yang
lucu, berlenggak-lenggok kian kemari menggunakan heels yang cantik, serta
memeperlihatkan bagian tubuh yang mereka anggap bagus. Sedangkan aku? Hanya
dapat berkutat dengan kaos oblong polos dengan sesekali celana jeans Boss
dengan ukuran tambahan yang harus pesan terlebih dahulu. Aku butuh percaya
diri? Ya, semuanya butuh percaya diri. Bukan hanya aku. Bukan hanya seorang
kaum obesitas saja. Apa jadinya seseorang bila tanpa percaya diri. Jika diriku
tak percaya pada diriku sendiri, mana mungkin aku berani menulis cerita ini.
Diet?
Segala sesuatu membutuhkan proses dan usaha untuk memperolehnya. Begitu juga
dengan aku. Mulai dari akupuntur. Hei, pernah tidak kalian membayangkan betapa
mengerikannya belasan jarum sepanjang sedotan harus menembus perut buncitku
dengan aliran listrik voltase rendah yang tertancap pada jarum-jarum itu. Biasa
saja? Bagaimana jika yang harus merasakan itu adalah anak kelas enam sekolah
dasar, tiga kali seminggu? Bahkan untuk mengingatnya pun, entah mengapa perutku
terasa ngilu. Lalu, harus berapa juta rupiah yang harus orangtuaku keluarkan
untuk membeli alat-alat penurun berat badan yang ada di tv. Berapa juta lagi
untuk membeli obat penurun berat badan itu? Namun hasilnya nihil.
Sampai
pada akhirnya, karena pengalaman menyakitkan yang berbagai macam tersebut, aku
bertekad untuk melakukan diet yang sedang trendy pada saat itu. Dengan cara
membatasi jam makan, dengan waktu-waktu tertentu. Serta berjam-jam aku habiskan
ditempat fitness dan berapa liter keringat pembakaran kalori yang aku habiskan
untuk itu. Memang berhasil. Namun,
setelah itu aku harus absen ke sekolah karena lambungku luka. Pernahkah kalian
membayangkan betapa menyebalkannya melihat orang yang makan makanan kesukaan
kalian sedangkan kalian sendiri tidak boleh memakannya? Pernahkah kalian
tertunduk diam mendengarkan omelan dokter? Pernahkah kalian berputar-putar mall
untuk mencari baju yang muat ditubuh kalian? Pernahkah kalian menjadi pusat
perhatian orang ditempat ramai, sedangkan sebagian orang hanya menertawaimu
serta memandang aneh tubuhmu? Itulah setiap hari yang kami rasakan. aku
tersadar, bahwa inilah aku. Inilah Dini yang Tuhan ciptakan memang seperti ini.
Bahwa yang Tuhan gariskan adalah Dini yang gendut, bukan yang lain. Dini yang
selalu menerima cemoohan, dan tertawa akan cemoohan itu untuk menghidupkan
suasana lingkungan sekitarnya walaupun dirinya sendiri tersakiti. Mungkin jika
suatu saat nanti aku dapat mencapai tubuh yang ideal, aku bukanlah aku yang
sekarang. Bukankah semua yang Tuhan gariskan telah menjadi yang terbaik? Yah,
setidaknya karna-Nya aku masih dapat tersenyum itulah yang terbaik bagiku.