Langsung ke konten utama

Valentine Terakhir


Pagi yang hangat kembali menyapa alunan musik merdu yang sudah ku nyalakan dari kotak musik milikku. Hujan terus mengguyur perawakan bumi, menyisakan aroma kenangan yang terus meluluhlantakkan setiap insan yang ada. Rintiknya membiaskan kenangan serta anekdot para pelaku rindu, dinamis, serta membius setiap detik sisa aroma kenangan itu menjadikannya racun yang mematikan.
Musik yang beralun semakin beradu, ku alung-alungkan kedua tangan seiring dengan irama. Hingga berhentilah aku pada secercah kenangan yang membuatku berhenti menari, tertunduk lesu, hingga lunglai tak terbendung. Air mataku menguar tanpa perintah, sedangkan ragaku seperti lemas yang entah, degup jantungku mempercepat degupannya, serta bibirku kelu. Aku terbius racun itu. Racun kenangan yang terbias dari rintiknya hujan, memang hujan selalu dapat menghantarkan kenangan dengan baik.
Senja yang lalu, kami pernah berdiri di beranda. Melihat sejuta pixel warna yang melengkung menjadi satu, seperti kejinggaan. Berlari kian kemari, menikmati aroma tawa yang sedari dulu kami pintal tanpa henti. Persahabatan ini, semoga amerta. Kami juga pernah menyenandungkan lagu-lagu rindu kesukaan kami berdua, hingga kami tak tahu waktu. Memang, waktu seakan iri akan kehadiran canda tawa kami. Namun itu dulu. Lampau sekali.
Kini, semuanya hanya tinggal bersitan kenangan serta biasan kerinduan.
                                                            ****

Matahari belum sempat meninggi, kami berdua sudah asyik menjinjing tas sekolah kami. Berlari mengejar harapan yang kami sendiri bingung apa harapan itu, harapan yang menjadikan kami semangat, bangun pagi, mempelajari materi-materi yang tak kami pahami. Dan hari ini, hari yang sangat kami tunggu-tunggu. Menentukan keberhasilan jerih payah kami selama tiga tahun, apakah berhasil ataukah tidak. Pengumuman itu pun akhirnya datang juga.
“Gue lulus, Din.” Ucap teman-temanku.
“Selamat ya.” Ucapku pada mereka. Lalu, ku palingkan pandangan kepada orang itu. Orang yang selama ini mencuri perhatianku. Ku cari namanya dari sekumpulan barisan nama-nama murid yang dinyatakan lulus. Ada, namaku pun ada.
“Gimana? Lulus nggak?” Ucapku sembari menyenggol lengannya. Dia hanya terdiam, tak menjawab sepatah kata pun. Lalu bangkit dari duduknya, dan berjalan pergi dariku.
“Ye, ditanya malah ngeloyor pergi.” Tanyaku sembari bangkit berdiri dan mengikutinya. Dia menoleh, dan tersenyum.
            “Ikut anak-anak coret-coret baju yuk. Itu di sana. Jangan murung terus ah. YOLO babes, come on.”
“YOLO apaan?”
“You Only Life Once. Hahaha.” Jawabku dengan penuh ekspresi.
“Cewek gila.” Jawabnya dengan penuh tawa.
Ku tarik tangannya dan berlari menelusuri keramaian yang ada di depanku. Bersorak bersama hingar-bingar kebahagiaan, jerih payah kami selama ini menghasilkan sesuatu. Tawa serta ekspresi kebahagiaan bercampur menjadi satu, bersatu bersama warna-warni pilox serta spidol yang berhasil membuat lusuh seragam kami. Nama-nama serta tanda tangan teman-teman kami, menjadi kenangan yang baru. Kami menari bersama, meneriakkan yel-yel kelulusan kami sendiri. Warna pilox bertebangan di udara. Hijau, merah, biru, hingga jingga.
            “Gue jadi pindah ke Jogja, Din. Di sana ada kampus seni bagus.” Ucapnya di tengah-tengah keramaian serta warna pilox yang bertebangan kian kemari. Tetiba, wajahku lesu, bibirku pun kelu, aku berlari keluar dari keramaian itu. Seperti ada rasa kehilangan yang berlebihan. Dia mengejarku.
            “Stop.” Ucapku sembari menekuk dua lututku yang lemas.
            “Kapan lo berangkat?” Ucapku lagi.
            “Lusa.” Jawabnya singkat.
Semuanya hening, keramaian serta sorak sorai teman-temanku sedari tadi seakan lenyap. Kami diam untuk beberapa saat. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap tabah, seperti sebelum-sebelumnya, seperti saat dia bercerita bahwa dia sedang jatuh cinta pada oranglain, dan seperti saat aku melihatnya mengecup hangat kening perempuan itu. Aku mengambil spidol biru di dalam tasku, lalu mengacungkan ke arahnya.
            “Tulis nama lo di sini. Semoga bisa menjadi kenangan yang indah, good luck.” Ucapku sembari menunjuk seragam yang masih terlihat putih. Akhirnya dia menulis namanya di sana, Valentino.
            “Gue harus pulang sekarang, Din. Selamat ya buat kelulusan lo.” Ucap Valen, dia memelukku. Membelai lembut rambutku yang berantakan penuh dengan pilox. Dan berjalan pergi.
            “Selamat juga, ya, seniman hidup terbaik gue. Makasih selama ini lo udah ngajarin gue tentang hidup.”
            “Jangan lupa, lusa anterin gue ke stasiun.”
Lambaian tangan Valen seakan membuat duniaku semakin menjauh pergi.
Akhirnya hari itu pun tiba.
            “Jaga diri lo di sini, Ndut. Gue pergi ya.” Ucapan terakhir Valen sebelum masuk ke dalam salah satu gerbong. Peluit kereta mulai berbunyi, nyaringnya sama seperti suara jeritan dalam ragaku. Keramaian yang ada di stasiun ini membuatku semakin merasa sendirian, apakah mereka tersadar bahwa salah satu di antara mereka sedang kesepian karena salah satu gerbong telah membawa manusia tercintanya pergi? Dalam rentang jarak yang kelak akan memisah kita ini, Len, aku melambaikan tanganku kepada salah satu gerbong kereta.
                                                            ****

Lima tahun telah berlalu.
            “Din, ada surat buat kamu.” Ucap Ibuku.
Ku buka perlahan sepucuk surat usang namun terkesan klasik tersebut, bertuliskan sedari nama Valentino Oei Marcellino. Ini dia, surat dari Valen, kemana saja dia? Tanganku gemetaran. Dalam surat ini, ia hanya menuliskan sebuah alamat yang berada di suatu kota, Yogjakarta.
            Kemarilah bila ada waktu, Jalan Laksda Adisucipto Nomer 6 Sleman, Yogyakarta.”
Keesokan harinya, kereta membawaku ketempat itu. Dalam hati aku bertanya-tanya, tempat apakah itu? Sesampainya di sana aku menyewa taksi untuk mengantarku kesana.
            “Pak, antar saya ke tempat ini.” Ucapku pada supir taksi, serta menunjukan sepucuk kertas dari Valen.
            “Oh, ini alamat Museum Vom Art, Mbak. Mau saya antar kesana?” Tanya sang supir taksi. Aku hanya dapat menjawab dengan menganggukan kepala.
Ini dia, alamat yang ada dalam surat Valen. Ada plang bertuliskan VOM Art Gallery, VOM? Bukankah itu singkatan nama Valen? Valentino Oei Marcellino. Jantungku berdegup lebih dari biasanya, aku hanya berharap ingin bertemu dengannya kembali. Jika museum ini miliknya, pasti ia ada di sana.
Dengan langkah yang pasti aku berjalan menyusuri museum klasik sangat berseni ini, kulihatnya lukisan-lukisan yang indah. Ku raba perlahan salah satu lukisan yang memiliki warna dominan hitam, benar, hitam adalah warna kesukaan Valen. Tiba-tiba ada seorang yang menyenggol bahuku. Pria bertindik, dengan rambut gondrong menyeramkan, serta tubuh penuh tatto.
            “Valen?” Tanyaku pada pria itu.
            “Jangan panggil Valen lagi dong di sini, panggilnya sekarang Oei aja.” Katanya dengan penuh canda. Melihat orang ini berkata demikian, bahagiaku seperti tak terbendung lagi. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya yang kini berbeda, namun tatapan matanya tak pernah bisa berubah.
            “Hebat nih, udah jadi seniman beneran dong ya.” Ucapku padanya.
            “Yah..beginilah, Din. Makasih ya udah ngajarin kalo cita-cita itu harus dikejar bukan cuma dikhayalin doang.” Sahutnya padaku.
            “Oh iya, itu lukisan yang di sana judulnya kok Di Dini Hari Yang Lalu?” Tanyaku lagi. Sembari menujuk salah satu tulisan yang dipajang di ujung koridor tepat di hadapanku.
            “Oh yang itu, itu lukisan buat lo, Din. Ceritanya buat penghargaan gitu deh karna lo, gue bisa ngejar cita-cita gue seperti sekarang.” Jelasnya panjang lebar. Aku tersenyum, hanya bisa tersenyum.
            “Lo di Jogja bakal berapa hari, Din? Kita rayain ulang tahun gue di sini bareng yuk.”
            “Mungkin lusa gue balik, gue kesini sekalian ada kerjaan Len. Oh iya, besok lo ultah ya. Yang keberapa Len? Dasar Tua.” Jawabku pada Valen.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Setelah bertemunya kembali aku dengan Valen, belakangan ku ketahui dia akan segera menikah dengan teman sekampusnya dulu. Mungkin besok adalah hari kasih sayang terakhir untuk kebersamaan ku dengan Valen. Karena untuk seterusnya, ia telah ada yang menemani, untuk separuh hidupnya kedepan. Rasa sakitku tak lagi dapat dikatakan, betapa orang yang selama ini membuatku sendiri dan terus menunggu akhirnya mendapatkan jodohnya.
Di hari itu, ucapan selamat ulang tahun mengalir deras dari kerabat, teman, serta penggemar lukisan Valen. Termasuk juga dari wanita itu, wanita paling beruntung, yang dapat meraih hati Valen. Wajah Valen begitu sangat berseri, meniup lilin ditemani oleh calon istri serta sahabat masa remajanya dengan telah mencapai impiannya menjadi seorang seniman.
“Selamat ulang tahun Len, semoga bahagia terus dapat menyertaimu.” Ucapku.
“Terimakasih, masa remajaku.” Jawabnya.
                                                ****

            Tak terasa hujan telah berhenti, alunan musik yang sedari tadi aku nyalakan pun telah berhenti. Senang rasanya dapat hadir di hidupmu, mengisi ruang hidupmu, mengetahui sifat-sifatmu, membiarkanku jatuh cinta lebih dalam, menemanimu dan mendo’akanmu meraih mimpi, dan sekarang melihatmu bahagia bersama orang lain. Biarkan kisah cinta ini akan terus begini, diam dalam cinta, sunyi dalam sayang. Mungkin hingga kapanpun kau tak akan pernah tahu tentang ini, bahwa kaulah sosok yang ku aminkan bila tanganku tengadah menghadap Tuhan. Selamat menempuh hidup yang baru, masa laluku.

Aku tersadar dari lamunanku, dan mengalihkan pandangan ke arah kalender. Ah, besok masih ada hari Valentine, nyatanya.

Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.