Langsung ke konten utama

Karantina Diri [Part 1]

Apa yang terjadi dalam ruangan ini? Kami  melihat ada yang berbeda dari biasanya. Lima orang masuk dengan muka yang muram. Tak ada senyumnya sama sekali. Salah seorang dari mereka memicingkan matanya lalu memaki empat yang lainnya. Ruangan ini cukup dingin, seharusnya mereka dapat saling menghangatkan. Lalu, tiba-tiba datang lagi seorang. Bertingkah sangat tegas dan beberapa kali memarahi salah seorang dari kelima orang itu karena tingkah lakunya tak sesuai dengannya. 
Apa yang terjadi dengan rungan ini? Orang-orang yang biasa kami lihat di ruangan ini adalah perawakan kekar, keringat mereka menetes sembari menyimpan kami kembali ke ruangan ini. Sebagai bola, menjadi tugas kami ialah untuk dimainkan di lapangan yang sangat luas. Namun, ini sangatlah berbeda. Mereka memiliki aura yang berbeda, tak pernah kami setakut ini diam dalam ruangan ini. Ada yang sangat jahat, semena-mena serta merefleksikan sebuah kekuasaan yang tinggi. Tiga yang lainnya tunduk pada seorang yang jahat itu. Salah satu dari mereka membawa dan merawat sebuah tanaman dalam pot, menciuminya, meraba, hingga membelai-belai tanahnya. Apa yang terjadi pada mereka? Sebagai sebuah bola, pengamatan kami pada perilaku manusia sangatlah khatam. Kami dapat melihat betapa liciknya pemain yang menabrakkan diri mereka pada pemain lain hingga terjatuh, bahkan pelanggaran itu sengaja dilakukan pada kotak pinalti untuk mendapatkan kesempatan pinalti itu. Itu wajar, kami tahu mereka sedang melakukan strategi. 
Kemudian kami melihat buku-buku bersebaran di ruangan ini. The art of acting? O, atau mereka sedang melakukan pendalaman karakter? Karakter untuk sebuah pentas teaterkah? Salah satu dari kami bercerita bahwa mereka telah menghilangkan karakter asli dalam dirinya kemudian digantikan dengan karakter yang diminta oleh orang yang memarahi mereka semua. 
Sungguh unik! Bukankkah mereka hanya bermain peran? Malam menjinakkan dirinya, suara gesekan rantin dengan pohon dapat terdengar. 

"Kalian tidur di sebelah mana?"
"Ibu mau tidur di mana? Di kasur nyaman ini? Silahkan geser kasurnya saja, tapi aku tak mau tidur di sana.."
"Mereka berdua tidak mau tidur di sebelah Darma, Bu. Kalo ibu mau, ibu boleh tidur di sebelah saya."

"Baiklah... Mari tidur aktor-aktorku!"


Malam kembali berkabung, suasana ruangan ini begitu sunyi senyap dan dingin. Kami dapat melihat dengan jelas si penguasa itu terlihat resah. Ia tak dapat diam, nafasnya juga memburu. Barangkali, ada kegelisahan yang amat sangat sedang ia rasakan. Kemudian sebuah suara terdengar..

"Darma, tidurlah! Jangan resah. Tak ada apapun di sini!

Akhirnya mereka semua tertidur. Kemudian kami para bola mulai bergerak.

****
Bersambung




Sekre Ukm Bola Fisip Unsoed, 
7 Mei 2017






Postingan populer dari blog ini

The Pages

  FROM THE PAGES THAT TORN OUT BY; #1 CODEPENDENCE It's always be an empty paper, isn't it? Like an author fooled by her stories It must be codependence and special,  But it feels like, s he woke up sweaten and look up to the leak roof While heavy rain drenched her garden #2 SHINING ARMOR Same dresses and perfumes on  She keeps bleeding on to lived the pages grow She might be scares to torn apart anyhow These pages was brag in a cold resintment The tint, the stories, the memories, still  fooled on by "This pages was shining armor", she said #3 NEW MOON She ended up and forget the pages "It is strange to think, I haven't see it for months" , she sighed "Look at my eyes! Look at my face! I am happy to see the new moon!", she said twice Wildly and constantly Her books dropped and all the paper scattered out "New moon! Sunsets! Sunrises!" She smitten to dance

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Menyala

MENYALA Berdansalah dengan nyala api yang kubawa dengan resah, Dan tiuplah dengan hingar Rayakan dengan keganasan yang menyerang tepat di dasar dahagamu  Yang juga berseberangan dengan raut keluh mendayu pada sore-sore yang gemericik Yang ada juga riuh sorak-sorai untukmu yang memilih menjauh Dalam gegas, berkemas, hingga berlayar.. Lautan tangis yang jatuh satu demi satu Larungkan satu demi satu pecahan hati,  yang terjatuh pada saat kita sedang cinta-cintanya Dengarlah dengan mantap,  Ada suara setiap malam yang gaduh dalam telingamu Berdetak dan berseru Tepat di jantungmu, yang ada aku, atau tidak? Yang dalam diam selalu ku nyanyikan doa setiap malam Atau ketika merupa kaset kusut yang tersimpan dalam laci Merekam jelas dalam remang Kala seperti sihir dua bibir kita beradu di pagi buta, Merayu anggun empat mata yang malu-malu Pipimu merah bunga sepatu Bogor, 3 September 2021