Apa yang terjadi dalam ruangan ini? Kami melihat ada yang berbeda dari biasanya. Lima orang masuk dengan muka yang muram. Tak ada senyumnya sama sekali. Salah seorang dari mereka memicingkan matanya lalu memaki empat yang lainnya. Ruangan ini cukup dingin, seharusnya mereka dapat saling menghangatkan. Lalu, tiba-tiba datang lagi seorang. Bertingkah sangat tegas dan beberapa kali memarahi salah seorang dari kelima orang itu karena tingkah lakunya tak sesuai dengannya.
Apa yang terjadi dengan rungan ini? Orang-orang yang biasa kami lihat di ruangan ini adalah perawakan kekar, keringat mereka menetes sembari menyimpan kami kembali ke ruangan ini. Sebagai bola, menjadi tugas kami ialah untuk dimainkan di lapangan yang sangat luas. Namun, ini sangatlah berbeda. Mereka memiliki aura yang berbeda, tak pernah kami setakut ini diam dalam ruangan ini. Ada yang sangat jahat, semena-mena serta merefleksikan sebuah kekuasaan yang tinggi. Tiga yang lainnya tunduk pada seorang yang jahat itu. Salah satu dari mereka membawa dan merawat sebuah tanaman dalam pot, menciuminya, meraba, hingga membelai-belai tanahnya. Apa yang terjadi pada mereka? Sebagai sebuah bola, pengamatan kami pada perilaku manusia sangatlah khatam. Kami dapat melihat betapa liciknya pemain yang menabrakkan diri mereka pada pemain lain hingga terjatuh, bahkan pelanggaran itu sengaja dilakukan pada kotak pinalti untuk mendapatkan kesempatan pinalti itu. Itu wajar, kami tahu mereka sedang melakukan strategi.
Kemudian kami melihat buku-buku bersebaran di ruangan ini. The art of acting? O, atau mereka sedang melakukan pendalaman karakter? Karakter untuk sebuah pentas teaterkah? Salah satu dari kami bercerita bahwa mereka telah menghilangkan karakter asli dalam dirinya kemudian digantikan dengan karakter yang diminta oleh orang yang memarahi mereka semua.
Sungguh unik! Bukankkah mereka hanya bermain peran? Malam menjinakkan dirinya, suara gesekan rantin dengan pohon dapat terdengar.
"Kalian tidur di sebelah mana?"
"Ibu mau tidur di mana? Di kasur nyaman ini? Silahkan geser kasurnya saja, tapi aku tak mau tidur di sana.."
"Mereka berdua tidak mau tidur di sebelah Darma, Bu. Kalo ibu mau, ibu boleh tidur di sebelah saya."
"Baiklah... Mari tidur aktor-aktorku!"
Malam kembali berkabung, suasana ruangan ini begitu sunyi senyap dan dingin. Kami dapat melihat dengan jelas si penguasa itu terlihat resah. Ia tak dapat diam, nafasnya juga memburu. Barangkali, ada kegelisahan yang amat sangat sedang ia rasakan. Kemudian sebuah suara terdengar..
"Darma, tidurlah! Jangan resah. Tak ada apapun di sini!
Akhirnya mereka semua tertidur. Kemudian kami para bola mulai bergerak.
****
Bersambung
Sekre Ukm Bola Fisip Unsoed,
7 Mei 2017