Langsung ke konten utama

Percintaan atau Kemanusiaan?



"Tulisanmu kok tentang cinta-cinta terus sih Din?"

Beberapa hari ini kepala saya disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan menggelikan. Di antara teman-teman yang seringkali membaca tulisan saya, pasti mengira sajak-sajaknya hanya tentang keputus-asaan, ketidakberdayaan, penolakan, atau bahkan kepatahan hati. Lalu selalu menghubungkan konten yang ditulis dengan kepribadian saya dalam proses kepenulisan. Memanglah, dalam psikoanalisis sastra menjelaskan bagaimana keterwakilan penulis dalam eksperimen peristiwa yang ada dalam tulisannya. Hal inilah yang membuat tulisan saya cenderung mellow-romance. Kecenderungan ini sebetulnya yang tidak dapat dihindarkan dari subjektifitas penulis terhadap tema suatu karya yang dihasilkan. Bisa saja penilaian tersebut didapatkan sebab pembaca mengenali kepribadian penulis secara dekat. Hal inilah yang tadi saya bilang subjektifitas penulis terkadang tidak dapat dihindarkan dari tema tulisannya. Walaupun sebagian orang juga menegaskan bahwa hal tersebut dapat dianggap sebagai ciri khas penulis. Berbicara soal subjektifitas penulis terhadap tulisannya, sastra memiliki unsur-unsur yang di dalamnya mengedepankan psikologi penulis terhadap keberlangsungan pembaca dalam menelaah karyanya. Hubungan tersebut juga menghasilkan telaah-telaah yang berbeda. Dalam hal ini, saya meneguhkan diri bahwa setiap karya yang telah saya publish ialah murni menjadi asumsi para pembaca. Melalui definisi sastra sendiri, keterwakilan penulis dalam memandang peristiwa secara objektif sudah dapat dikatakan berhasil. Bila teman-teman tahu, fungsi sastra ialah sebagai ungkapan rasa atau ekspresi dalam bentuk tulisan-tulisan yang mengandung kata dan makna. Perbedaan sudut pandang, paradigma, maupun latar belakang yang melandasi pemahaman pembaca terhadap bahasan pada sebuah karya sastra menjadi salah satu titik balik bahwa penulis bukan merupakan masyarakat majemuk yang luas. Dalam menuliskan gagasan seorang penulis cenderung akan secara subjektif memandang sebuah peristiwa. Setelah itu terjadilah sebuah proses berpikir sebelum kemudian dituliskan menjadi sebuah karya. Hal inilah yang terkadang membuat pesan yang disampaikan cenderung tidak tersampaikan dengan baik kepada para pembaca. 
Maka untuk mengatasinya, penulis haruslah memiliki referensi isu dan diksi yang lebih luas lagi. 

Hahahahaha!
Menjawab pertanyaan-pertanyaan menggelikan yang berkata bahwa tulisan saya ialah hanya sekedar percintaan saja. Sebetulnya, tidak dipungkiri bahwa percintaan menjadi salah satu genre yang digemari oleh kaum remaja. Apalagi dalam hal ini, ranah yang saya gunakan untuk berkarya ialah dunia cyber. Cyber sastra menjadi salah satu tempat untuk menyalurkan hasil dari sebuah karya sastra, baik melalui puisi, cerpen, bahkan cerita-cerita lainnya. Kemudahan mengaksesnya serta cenderung lebih interaktif kepada penulisnya sendiri, pembaca langsung dapat berinteraksi dengan penulis untuk mendiskusikan ide atau gagasan yang ada dalam tulisan tersebut. Namun, pada lain sisi beberapa orang menganggap bahwa cyber sastra justru melecehkan definisi sastra sendiri. Selain itu juga kualitas karya sastra yang di publish dianggap kurang baik karena hanya sebagai limpahan rasa dan menghindarkan estetika penulisan yang baik. Hm..sungguh polemik yang menarik.

Di samping itu, selain karena ranah cyber menjadi tujuan utama saya dalam menyebarkan karya pada pembaca. Pasar pertama untuk seluruh tulisan yang saya ciptakan ialah tentunya kalangan remaja dan intelek lainnya. Dalam hal ini, memang referensi isu maupun kewacanaan menjadi makanan pokok dalam pembedahan setiap tulisan saya. Begitu pula, bahasa maupun tanda yang saya gunakan juga mengikuti alur perkembangan jaman. Pembahasan mengenai semiotik ini cukup beragam di era mileneal ini. Pembaca awam cenderung hanya menjadikan tanda yang ada di akhir kalimat sebagai penanda kalimat. Padahal apabila ditelaah lebih dalam, semiotik ini bukan hanya terletak pada bagiamana tanda sebagai pelengkap sebuah kalimat. Tetapi juga menjadi tanda bagaimana emosi, intonasi, maupun makna dalam sebuah kalimat.
Penggunaan bahasa juga merupakan salah satu referensi kepenulisan yang baik, menurut saya, kunci wacanatik yang baik bagi seorang penulis ialah wawasan diksi yang luas. Baik yang digunakan sehari-hari maupun yang bersifat akademis-ilmiah. Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan makanan pokok bagi seorang penulis dalam pendalaman diksi serta makna terhadap kata. Bila teman-teman membaca cerpen saya yang berjudul Bilur ataupun Halimun di Pelupuk Gulistan, ada perbedaan diksi yang saya gunakan terhadap puisi-puisi kontemporer lainnya dalam blog ini. Kedua cerpen tersebut merujuk pada penggunaan diksi melayu yang mendayu. Dalam cerpen ini, terdapat beberapa kata yang menjadi ciri diksi lama. Seperti "hatta" serta "karamunting", dua kata tersebut menjadi ciri khas yang unik bagi tulisan saya dalam penggunaan diksi melayu klasik. Sungguh seksi!

Setelahnya, tema percintaan menjadi metode penyampaian gagasan paling ringan untuk sebuah isu kemanusiaan. Pemaknaan perihal percintaan seringkali dipersempit hanya sekedar pertemuan rasa antara lawan jenis. Padahal, masalah percintaan menjadi salah satu isu general kemanusiaan yang menghadirkan pembahasan horisontal seperti cinta pada sesama, lingkungan, keluarga, maupun yang lainnya. Misalnya cinta akan lingkungan, hal ini bisa dikaitkan dengan isu turunan lainnya seperti agraria. Apabila teman-teman membaca cerpen saya yang berjudul Perempuan Tak Kasat Mata, ini adalah salah satu karya dengan isu lingkungan yang didalamnya muncul isu perempuan serta ekofeminisme.
Dengan begitu pemaknaan ditimbulkan melalui paradigma si pemakna. Jadi, tidak menutup kemungkinan bila kalimat "ia telah patah tertusuk duri tajam" dalam sayap-sayap patahnya Kahlil Gibran bukan hanya merujuk pada kepatahan hati oleh cinta pada lawan jenisnya. 


Intinya, saya masih harus dan akan belajar lagi. 

"Nilailah aku sesuka hati. Bila yang kau pandang buruknya saja apalah jadinya."




Dinie Wicaksani,




Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.