Langsung ke konten utama

OPERASI MAKNA KATA [5]

Jam dinding terus berdetak,
tangan-tangan penuh darah masih siaga di atas meja operasi

daging-daging terkoyak
getir amis darah memasung tengkuk hidung
suara mesin penghitung denyut jantung itu bertabrakan dengan leluasa haluan angin 
mereka saling bertabrakan
membangkitkan lagi semangat yang sempat ingin bergegas

aku terdiam di pelosok jendela
sekujur tubuh tulisan itu, dibedah maknanya
penulis itu dikuliti rapuhnya sendiri

Purwokerto, 21 Febuari 2017

—Dinie Wicaksani


Nak, siang itu, apabila kalian ingat, kita tengah sibuk membedah naskah yang terpilih. Lakon Moksa judulnya, ia bercerita tentang sebuah negeri penuh khayalan yang sedang dilanda polemik berkepanjangan. Naskah ini ialah naskah yang cukup bersejarah bagiku, ia sempat membawaku ke Kudus dalam acara Pekan Seni Mahasiswa Daerah Jawa Tengah. Bila kalian tahu, sebuah kebanggaan yang teramat sangat dapat bersua dan bercanda dengan para penulis naskah dari masing-masing kota. Satu yang aku pelajari, perjuangan untuk menuliskan ide maupun gagasan tidak hanya serta-merta dibatasi oleh waktu. 
Menurutku, menulis juga merupakan suatu perjalanan panjang. Sama persis dengan proses yang sedang kita jalani ini. Kita tak akan pernah tahu apa yang ada di tikungan sebelum kita sampai pada tikungan itu. Kaum positivis selalu berkata bahwa penulis bebas menafsirkan apapun yang menjadi objek bagi tulisannya. Penulis mampu menciptakan suatu kebenaran tunggal akan apa yang ia tulis. Bahkan bila kalian tahu, kebenaran ini setara dengan dogma agama sekalipun. Dari sanalah aku berkata, Nak, bahwa menulis ialah bernafas. Dengan bernafas kita bisa menghidupkan sesuatu yang mati, dari sanalah kita dapat menuhankan diri kita. Setidaknya untuk tulisan dan alur cerita yang kita buat.
Roland Barthes, berkata bahwa penulis sedianya telah kehilangan nyawa ketika tulisan terlahir menjadi sebuah karya sastra. Ia mendefinisikan hal tersebut dalam bukunya The Death of Author. Dengan hal ini, pengarang akan mati dan digantikan oleh pembaca sehingga mereka bebas memafsirkan apa yang ada di dalam tulisan tersebut.
Demikianlah, apa yang aku pelajari selama ini. Barthes bahkan menjelaskan bahwa ketika penulis telah mati, teks serta seluruh kalimat yang terangkai telah terpisah oleh penulisnya. 

Dan siang itu, Nak, aku telah dibunuh oleh tulisanku sendiri. Berbagai sayatan telah habis menghujam tubuhku. Aku telah dimatikan. Naskah Lakon Moksa itu kalian hisap habis daya maknanya, kalian runtutkan menjadi satu-kesatuan makna. Tiada pandang bulu. Pada awalnya, aku cukup sangsi, haruskah pembedahan naskah dilakukan? Lalu, alasan paling jelas yang akhirnya aku dapatkan ialah kita dapat mengetahui keresahan apa yang melatar-belakangi naskah ini sehingga dibuat oleh penulis. Apakah penulis mewakilkan keresahannya dalam tokoh-tokoh yang dibuatnya? Atau bahkan ia hanya melihat adanya sisi lain dalam pembuatan alur cerita, yang biasanya hanya berisikan artistik maupun diksi yang "sok kesastraan". Itulah jawaban yang dapat aku berikan, Nak. Setidaknya selain kepentingannya adalah meramu makna, dan menjadi sebuah kesepakatan tentang isi kenaskahannya (unsur instrinsik dan eksintriknya). 

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...