Langsung ke konten utama

Cerita yang Tak Akan Pernah Usai

Ini adalah cerita yang tak akan pernah usai..

Terimakasih telah menjadikanku yang sekarang. Selalu tersenyum walaupun dilempari duka dan lara. Terimakasih telah menjadikan apa yang kau harapkan. Sejauh ini, senyummu ialah hal yang paling indah dari apa yang telah aku perjuangkan. Menatapi dengan rona pipi yang sama seperti pertama kali kita saling mengenal. Tiada yang mudah untuk sebuah penantian, bahkan untuk penantian yang tak berujung. Seperti menatapi sebuah kaca tebal yang buram, inginku berkaca namun tak terlihat seberkas bayangan pun. Namun tak apa, setidaknya aku masih dapat menjadi yang kau cari. Aku terus menikmati kerinduan ini, kerinduan yang tak sesekali berani ku ungkap. Siapakah aku di matamu? Berakhir di manakah diriku dapat berjalan? Aku bahkan seperti pengelana sejati yang berjalan tanpa tujuan. Memanggul suasana hati yang gahar ketika melihatmu dengan perempuan itu. Perempuan yang kau pilih dengan sadar. Menenggelamkan diriku pada lautan pasir yang debunya menyesakkan. Kemana langkahku akan ku jinjing lagi?
Barangkali, sejak awal kita dipertemukan Tuhan, kita memang diperuntukkan hanya sebatas saling menjaga dalam diam, atau barangkali pula kau tidak sama sekali. Aku sudah lelah mengejawantahkan perkara melepaskan, tiada yang mudah bagi sesuatu yang akan pergi. Tiada yang mudah pula bagiku untuk tidak lagi menemukanmu ketika pagi menyingsing, atau senja berbicara tentang wajahnya yang letih karena siang telah usai. Melepaskan bukan semata-mata harus meninggalkan atau bahkan sebaliknya. Barangkali, kau meninggalkan tapi tidak untukku. Bukan berati aku harus melepaskanmu pula, sebab aku sama sekali tak ingin tergantikan oleh siapapun atau apapun. Tiada yang sanggup terganti, sebab yang terganti akan tersingkir, lalu akan terlupa begitu saja. Biarlah kau sebutnya ini egoistik yang tinggi. Sedemikian pelik nyatanya cinta mendewasakan, seperti layaknya orang tua kita yang tak lagi berpijak pada satu atap.
Lagi, aku tak mau melepaskan. Kau tak pantas untuk dilepaskan. Biarlah ku jaga dengan baik seluruh cerita, dan akan ku doakan cerita-cerita yang akan terlahir kelak. Bila suatu saat nanti aku kelelahan, serta kelimpungan itu mengharuskan diri untuk melepas dan menghilangkan namamu dari sederet doa yang ku ucap, aku akan lakukan hal itu. Sebab barangkali itulah yang terbaik di mata Tuhan. Meskipun kepahitan menyerang tengkuk leher perempuanku dan relung pengorbanan. Kepahitan itu akan begitu menyakitkan. Nyatanya memang, kau dan aku tidak ditakdirkan menjadi yang saling mengasihi. Setidaknya bila kau tahu aku sudah sedemikian rupa menjagamu dalam diam dan sederet doa. Setidaknya pula aku pernah menjadi yang kau dekap pertama ketika kesuksesan menepuk pundakmu. Akulah perempuan itu. Tiada maksud untuk mengungkit atau membanggakan diri, upaya penyampaian mana lagi yang harusnya aku lakukan agar kau memahami bahwa aku masih mengasihi.
Impianku tak lagi dapat kujelaskan, sebab impian terbesar ialah menemanimu mencapai impian terbesarmu. Biarlah aku menepis segala roda kebahagiaan, sebab yang ku tahu kebahagiaan terbesar ialah ada pada hati yang tenang. Aku akan terus berdiam diri dalam penjagaan. Kau begitu indah, sampai-sampai relikui kata yang aku rangkai lumpuh kehilangan makna. Pesanku hanya satu, bila nanti kau terganti setidaknya aku tak akan melupakanmu.
Terimakasih menjadi inspirasi tulisan ini. 
Dinie Wicaksani,
Purwokerto, 21 Maret 2016

Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Menyala

MENYALA Berdansalah dengan nyala api yang kubawa dengan resah, Dan tiuplah dengan hingar Rayakan dengan keganasan yang menyerang tepat di dasar dahagamu  Yang juga berseberangan dengan raut keluh mendayu pada sore-sore yang gemericik Yang ada juga riuh sorak-sorai untukmu yang memilih menjauh Dalam gegas, berkemas, hingga berlayar.. Lautan tangis yang jatuh satu demi satu Larungkan satu demi satu pecahan hati,  yang terjatuh pada saat kita sedang cinta-cintanya Dengarlah dengan mantap,  Ada suara setiap malam yang gaduh dalam telingamu Berdetak dan berseru Tepat di jantungmu, yang ada aku, atau tidak? Yang dalam diam selalu ku nyanyikan doa setiap malam Atau ketika merupa kaset kusut yang tersimpan dalam laci Merekam jelas dalam remang Kala seperti sihir dua bibir kita beradu di pagi buta, Merayu anggun empat mata yang malu-malu Pipimu merah bunga sepatu Bogor, 3 September 2021

Halimun di Pelupuk Gulistan

Pusara mengaitkan kancingnya, lalu berdiri meninggalkan wanita itu. Ah, memang penjahat pembuat sarang. Lelaki biadab. Namun, lantas mengapa kau serta-merta menuduh pria itu merusak citra wanita? Bukankah sang wanita yang ingin? Jika memang tidak, tak mungkin Pusara sebejat itu. Ah. Sudah. Lupakan.          Pusara memapas bumi, ia berjalan menyusuri jalanan hutan. Sebelumnya, ia kaitkan tali sepatunya agar tak terlepas. Sungguh, kau memang sang pengelana sejati. Sesekali kau menebas rerantingan untukmu berjalan dengan belati tua kesayanganmu, yang kau dapatkan dari ayahmu. Mengibaratkan seorang raja hutan yang sedang mencari jalan mangsa ditempatnya berkuasa.  Kau berjalan menyusuri eloknya hutan. Tugasmu setiap pagi, adalah berburu. Matahari memang belum sempat memperlihatkan semburat cahayanya padamu. Kekuatan lelakianmu kini diuji, bagaimana mungkin seorang lelaki kurus dengan tubuh penuh lebam bekas penyiksaan kompeni karna...