Langsung ke konten utama

Tungkap [1]

ia tungkap, 
berwajah lesu serta bermandikan peluh di atas pelipis
bibirnya pecah-pecah
semburat gelisah menggelinjang tiap sudut datangnya arah desak
kanan dan atau kiri
pembelaan dan atau penolakan

tepuk tangan menyeruak
bingar

ia mati dalam tawa
ada yang tak disuka
ada yang bangga

penoreh harap
tiada sanggup lagi menawarkan dekap
ia tungkap
dalam diam beban panjang terhadap


Sekre Teater SiAnak, 17 Januari 2017

Ambisi atau toleransi? Tujuh jam dalam diam, aku menaruh harap supaya Pilari yang melanjutkannya. Tak ada yang bisa ku perbuat selain dirinyalah yang mengemban tanggung jawab ini. Proses panjang yang akan banyak mengorbankan sesuatu. Naskah pilihan penuh ambisi, aku presentasikan dengan baik. Ide-ide yang paling liar, ku torehkan sebagai bumbu retorika paling menjijikan. Tulisan itu tentang kebebasan seseorang dalam menginterpretasikan sesuatu, ia mampu terungkap baik melalui tindakan dan atau bagaimana caranya dalam berpendapat.
Pilari, seorang perempuan dengan wacana yang kuat. Apa yang bisa disajikan oleh orang dengan pola pemikiran paling sistematis yang pernah ia kenal? Sebuah informasi, pengetahuan, serta buah pemikiran yang brilian.

Tujuh jam kami menunggu, maka terpilihlah namaku. Menjadi sutradara, dan Pilari ku angkat sebagai tangan kananku, Asisten Sutradara.

Maka dari sanalah, izinkan aku menceritakan sedikit yang aku rasakan. Biarkan kata demi kata mengumpulkan dirinya menjadi sebuah rangkaian cerita yang tak akan lekang oleh masa, sampai pada akhirnya ia akan melelehkan air mata setiap orang yang menjadi pemeran dalam ceritanya.

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...