Langsung ke konten utama

Laku Sebongkah Tubuh [2]

waktu saling bertaut
ambisi besar umat manusia
berlaku paling handal 
tanpa tahu diri

menanjak terus
hingga lupa jalan turun

sampai-sampai ia terpelanting jauh
hingga parit paling keruh


Bogor, 23 Januari 2017


Sebenarnya apa yang paling membosankan dari sebuah perjalanan panjang?
Akankah dalam berkendara kita tahu seberapa banyak lagi rintangan yang akan menghadang sampai kita sampai pada tujuan? Lalu bagaimana caranya agar rintangan itu dapat terlampaui begitu saja?
Jawabannya adalah melaluinya.
Mungkin ini adalah caraku membabat habis seluruh ketakutan-ketakutan yang dihasilkan oleh penafasiran receh tadi, hingga pada eksekusinya biarlah angin membawa segala rupa peristiwa.

Angin menuhankan dirinya, ia kemudian membawa segala rupa peristiwa dalam laku hidup manusia. Persis seperti apa yang aku pelajari saat itu. Drama ialah kualitas komunikasi yang dilakonkan oleh seseorang hingga memunculkan tragedi, ketegangan, serta alur cerita kepada komunikan. Sedangkan teater ialah sebuah peristiwa hidup manusia yang dipentaskan melalui sebuah panggung, boleh diiringi dengan musik suasana serta artistik sebagai tambahan penafsiran visual yang baik. Dirancang dengan naskah (hasil dari seni kesusasteraan) serta dilakonkan oleh pemain atau aktor yang dirias sesuai dengan karakter yang dimainkan.
Entahlah,
aku sedang hidup dalam teater?
atau teater yang sedang menghidupkan hidupku?
Perjalanan panjang itu baru saja dimulai..


Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...