Langsung ke konten utama

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha!
Ya..ya...ya! Tunggu sebentar! 
Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar!
Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku. 
Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana!
Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicilan motor, ataupun mencairkan surat-surat berhaga. Sedangkan orang-orang waras itu rela mengantri hingga berpuluhan demi membeli makanan siap saji. Lucu! Lucu sekali! Aku membebaskan diriku sendiri, menertawai diriku sendiri. Berjalan kemanapun yang aku mau tanpa ada tuntutan yang membelenggu tubuhku. Tubuhku seringan kapas. Tiada lagi peran-peran atau kelas-kelas yang dimainkan, privatisasi atau hak milik yang diciptakan atas kekuasaan yang dimiliki. Yang ada hanyalah, diriku dengan diriku dengan diriku dengan diriku...dengan..
Ah....Yayaya! Aku akan segera masuk ke ambulan! Antar aku ke rumah sakit jiwa! Atau aku yang akan mengantar kalian kerumah sakit jiwa. Yang sakit jiwa sebenarnya siapa? Aku atau kalian? Sedikit-sedikit mengeluh soal hidup yang rumit, sedikit-sedikit mengeluh soal ini soal itu.. 
Hahahahaha.. 
Sebentar-sebentar, aku belum siap diantarkan kerumah sakit jiwa. 
Seperti sedianya orang gila, aku harus main dengan kapal-kapalku ini. Kasian sekali mereka! Badainya pasti berlalu. Buruhnya pasti kelaparan, upahnya terlalu minim! Sebentar! Dasar orang waras yang tidak berperikemanusia-gilaan! Aku sudah paham, aku gila! Bahkan celotehku pun aku tak mengerti. Hahahahaahahahaha! Tunggu sebentar, orang-orang waras! Aku akan segera ke ambulans! Ya! Sekarang juga, ini aku sedang berjalan kesana. Aku tak mau tahu, jangan ada lagi kekerasan kepada sesama. Penindasan atau bahkan penyalah-gunaan kewenangan! 
Berisik sekali orang waras ini!
Aku akan segera kesana!
Lihat! Kakiku sudah jauh melangkah!
Lho-lho, jangan tembak aku! Ini sebuah pisang, bentuknya seperti pipa besar yang bolong tengahnya. Bila aku tusukkan pisang ini pada perut kalian, pastilah getahnya muncrat kemana-mana. Hahahahahahah! Jangan tembak aku! Ini hanya sebuah pisang.
*Dooooooooor!!!!







Purwokerto, 06 April 2017

Postingan populer dari blog ini

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...

Matahari Mati Lampu

Di antara setapak demi setapak jalanku menuju pangkalan ojek. Jantungku bergelantungan, ia berderap tak pelan menggantung di kolong dada. Kalau seperti ini terus, jantungku bisa jatuh menggelinding, pikirku. Terik saling berjatuhan dari kolong langit, panas membelenggu kulit, cahaya matahari menyala terang. Aku berdiri menunggu ojek. Peluh berjatuhan seperti rintik tadi pagi, sedangkan siang berubah menjadi buih pada ombak yang melayur ke daratan. Menerjang rasa gemas dan letih setiap pekerja di pinggiran kota. Rok span hitam kusingkap tinggi, perlahan udara menerjang pahaku dengan sergap. Cukup sejuk. Kusapu seluruh pandangan di depan mata, bunga-bunga, mobil-mobil yang melaju, aspal yang bersih, pohon-pohon rindang, serta garis-garis kuning dalam aspal.  Tiba-tiba, ponselku berdering. Dalam sengal nafas yang masih berderap, aku membaca namamu. "Dini, maaf aku udah punya pacar. Kita masih bisa berteman kalau kamu nggak manggil sayang-sayang gitu" . Ucapmu dari balik pesan it...

Cerbung: Dark Explosion Part 3

Bising dalam kepala itu kembali hadir, makin lama makin menyeruak. Di dalam kepalaku, Sayangku, Baran Engkau masih mentari Perlahan-lahan ia membakar tubuhku Mentari itu gelap sekali, Ia meledak lagi Kepergianmu, Ialah riuh dan diam yang saling menyahut             “Sebelum jasad Baran kita kebumikan, tiada lagi salah teratasnya. Mari lapangkan maaf bagi anak Tuhan yang berpulang ini.” Ucap Romo Sangkir dengan tenang.