Langsung ke konten utama

Suara Lejar



       Senyum Reza berbinar. Menyaksikan keramaian serta alunan musik yang bertalu. Kau mengayun-ayunkan tanganmu, dengan gelas kaca berisi lemon squash yang siap untuk menyegarkan tenggorokanmu yang kering. Kau berdiri di tengah rerimbun manusia, lalu lalang kehidupan yang belum pernah kau rasakan, kau seperti sendirian. Ah. Apa ini yang dinamakan mahasiswa? Kau terlalu sibuk memikirkan tugas-tugas pemberian dosen, terlalu sibuk juga mengartikan jurnal-jurnal bahasa asing sejak awal kau entri kartu rencana studimu. Sedang kau lupa, di sisi lain duniamu orang-orang berpesta tanpamu. Aku juga mau, hati Reza bergeming. Kau sibak kedua slayer rumbai yang kenakan, lalu kau berjalan menyusuri koridor, kau ingin berteriak kencang. Entah bagaimana Reza harus marah atas dirinya sendiri. Kemana saja kau? Kemana saja selama ini? Alunan musik membuatmu ingin berdansa, di depan panggung di mana lampu-lampu tumblr menghiasi lantaian dansa, serta alunan musik lebih memabukkan daripada anggur sekalipun. Kau kelimpungan. Maka, kau sungguh bingung dengan apa yang menimpamu. Bukan lagi kiprahmu di kelas yang selalu kritis untuk bertanya, ini tentang konsep hidupmu. Kau mencari-cari di mana wanita itu, di mana seorang wanita yang telah kau kagumi dengan sisi luar dalamnya yang sahaja. Yang menjadikan dirimu seperti sampah yang siap didaur ulang karena kekagumanmu padanya. Ah. Malam masih begitu panjang, untuk apa aku harus mencari wanita itu. Tetiba ada yang menyenggol bahumu.
            “Sudah mengerjakan tugas yang lalu, Za?”
Kau hanya diam, kau hanya menatap seseorang itu dan menengguk minuman yang ada di tanganmu tanpa menghiraukan sesiapa yang ada di sebelahmu. Bangsat, aku hanya ingin menikmati acara pada malam ini, tanpa sedikit pun memikirkan tugas-tugas. Seperti halnya kau umpat dirimu sendiri, kau seperti ingin mengujut orang yang ada di sebelahmu. Karenanya kau menjadi ingat betapa tugas itu sama sekali belum kau sentuh. Dan lagi, alunan musik begitu kuasar yang mampu menarikmu bak sumber elektromagnetik, yang sewaktu-waktu dapat membuat jiwamu ingin berdansa.
Kau pergi meninggalkan orang itu, melewati banyak panitia konsumsi yang sedang asyik menyajikan berbagai snack andalan mereka. Melewati banyak panitia alat transportasi dan perlengkapan sibuk memindah-mindahkan alat musik. Kau kembali kelimpungan, kau berhasil merasakan bagaimana anak muda jaman sekarang menghabiskan masa mudanya. Ah, ini hanya sesekali saja. Apa salahnya? Kau pandangi selasar tempat acara, semua memiliki gaya pakaian yang unik. Dengan berbagai rumbaian menghiasi raut matamu di mana-mana. Kau kesal, kenapa tak dari dulu? Kau baca banner panggung itu dengan seksama, Appreciation Night Hi-ppies Spread The Peace, batinmu. Ini soal mengapresiasi, kau ingin terlebih dahulu mengapresiasi hatimu. Reza, kau kesal, kau capai. Seperti Wiji Thukul yang kehilangan suaranya dalam puisinya, yang menganggap bahwa kekuasaanlah yang selalu bisa bersuara. Ah, benar. Seperti pertanyaan kritismu pada dosen tentang teori realism itu. Kau ini, benar-benar bintang kelas.
Lantangkan suaramu, Reza. Jangan lelah untuk berucap. Ada kalanya keseimbangan dalam hidup betul-betul membuatmu tercengang. Kau ini butuh, semua orang butuh, apresiasi dirimu sendiri dengan gayamu sendiri. Hibur dirimu sendiri dengan caramu sendiri. Nikmati hidupmu sesukamu, selagi positif itu tak masalah.
Janganlah sampai kau lejar dalam bersuara, Reza. Bangsa ini terlalu banyak kehilangan suara.
            Kau menikmati pesta malam itu dengan caramu sendiri, lalu hingga kau tertidur di panggung. Tak masalah. Lejarmu, terkadang kau sendiri yang tahu. Ini tentang sudut pandang. Reza, keluarkan suaramu.



 Sebuah cerpen oleh Dinie W. Wicaksani

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...