Langsung ke konten utama

Perempuan Pembawa Pot Bunga

Diam.
Meliuk-liuk.
Ia menari-nari di bawah anyaman rotan.
Serta tanaman anggur yang menjalar dengan rapih.
Kebayanya tersingkap.
Semilir angin menerbangkan sebagian kainnya,
Lalu, ia menendang-nendang pasir yang lembut.
Ia meniupi pasir putih yang ada digenggamannya.

Separuh rambutnya tergerai kusut.
Terbang tak jelas menuju kemilau awan yang biru.
Tak lama kemudian, diambilnya sebuah cawan.
Berisi air anggur yang sedikit memabukkan.
Lalu perlahan ia menengguknya.
Terlihat urat lehernya membusung.
Kurus.
Menggoda.
Secawan anggur itu tinggal separuh.
Lalu ia mendengar suara parau. 
Perlahan tapi pasti.
Keras. Semakin keras.
Teriak. Gaduh. 

Sesaat, suara ombak mendamaikan.
Oh. Tidak. Mensunyikan.
Ia menari lagi.
Menyusuri ombak dan karang yang siap menghempaskannya.
Tak lupa sebuah pot ia jinjing.
Ini hidupku, katanya.
Anakku tertanam di sini, batinnya.
Bukan.
Anaknya mati tertelan ombak. Terbujur kaku.

Ini tanah dari kuburan anakku.
Namun liat, ia telah hidup kembali. Melalui sebuah bunga kecubung berwarna putih susu.

Sungguh.
Anggur ini memabukkan, teriaknya pada ombak.
Ada beribu pertanyaan yang hadir dikepalanya yang kosong.
Mengapa kau telan anakku?

Lalu. Petir menyambar.
Turunlah hujan,
Bunga kecubung itu basah bukan kepalang.
Tanahnya becek.
Minumlah.
Minumlah sepuasmu nak, teriaknya.
Aku sendiri bersama bayang di raga kecubungmu.

Ah. Pikiran macam apa?
Aku memang gila.
Dunia memang gila.
Lalu, ia berlari ke sebuah tunggul-tunggul di sebelah saungnya.
Lusuh.
Tak beraroma.

Suara parau itu terdengar lagi.
Ibu.
Ia menoleh.
Mencari-cari dimana suara itu.
ibu.
Lagi.
Suara itu lagi.
Ia bergegas mengambil pot bunga itu.
Ditaruhnya lagi.
Diambilnya lagi, kemudian ia tempelkan tepat di telinganya.
Anakku, batinnya.

Ah...otakku mengacau.
Kehilangan membuat semuanya begitu lucu.
Dunia, kemiskinan, roda, dan jari.
Semuanya bohong.
Lalu, ia tertidur bersama pot bunga dipelukannya.




-DN-

Postingan populer dari blog ini

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

Oneironaut

Batas antara fana dan nyata tiada lagi berguna. Ia tipis seperti kertas usang di atas meja. Seharusnya, yang fana tentunya tak nyata, dan yang nyata barangkali hanya sementara.  Namun, beberapa hari ini imajinasi mengurungkan niat untuk menyetujui pernyataan itu.  "Yang fana akan nyata." Berawal dari keinginan diri untuk belajar menulis. Inspirasi mengumpulkan dirinya untuk merangkai peristiwa-peristiwa yang saya tulis. Salah satunya tentu imajinasi. Imajinasi ialah suatu bentuk khayalan berupa kejadian maupun rangkaian rupa yang berkenaan dengan panca indera. Seringkali, tulisan-tulisan ini berpacu pada (barangkali) keahlian saya dalam berimajinasi. Tentunya imajinasi ini tercipta dalam kesadaran penuh otak hingga terangkai menjadi alur sebuah cerita. Menjadi seorang penulis merupakan harapan lama bagi saya yang entah kapan dan di mana saya dinobatkan demikian. Saya tetap sedang belajar menulis. Dalam hal ini, penciptaan alur sebuah cerita memerlukan intensitas imajinasi yan...

Monolog Orang Waras

Hahahaahahaahahaha! Ya..ya...ya! Tunggu sebentar!  Aku akan segera kesana! Tunggu saja barang sebentar! Kata orang-orang waras, aku ini gila. Tingkahku aneh-aneh. Aku berlari-larian bebas kemana saja yang aku mau. Bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Apapun yang aku miliki ialah mutlak menjadi milikku.  Hahahahaha! Tunggu sebentar! Sebentar lagi! Sudah ku bilang sebentar lagi! Aku pasti akan kesana! Yayaya..orang-orang waras itu menertawaiku karena aku membuka semua bajuku tanpa menyisakan sehelai kain pun pada tubuhku. Padahal aku sangat kepanasan. Matahari di negri ini sungguh terik sekali. Mereka bilang aku gila, padahal pada kenyataanya mereka yang lebih gila. Tidak gila bagaimana? Lha wong ada rakyatnya yang memasung kakinya dengan semen tapi pemerintahnya melempar permasalahan domestikasi. Yayaya, mereka menyebutku gila. Karena aku tertawa dan menari di jalanan sembari membawa gitar tua dan plastik berisi nasi basi yang aku cari dari sampah. Aku tidak lagi memikirkan cicil...