Langsung ke konten utama

Postingan

Ampun, Tuhan!

Tuhan sejagad raya, bersediakah Kau mendengarkan kesah ini?  Sedikit saja. Biar semua keluar dari dada yang sesak ini, biar air mata itu membebaskan dirinya dari kengkang nafas yang tersengal-sengal, biar pedih bibir ini menyeruak setelah rakus digigiti oleh kawanan gigi.  Tuhan sejagad raya, masihkah engkau mendengarku?  Apa Kau mulai jengah sebab kubawa hanyalah kemarahan serta kekecewaan yang kian menggunung? Demi Engkau Tuhan sejagad raya, barisan kata-kata ini bagiku ialah sudut paling sepi. Tidak lagi ada yang tahu betapa riuhnya kepala ini selain semayamku di hadapan Engkau.  Tuhan?  Apa Kau masih di sana?  Sebab dari tadi aku tak mendengar balasanmu. Aku seperti keledai buta yang jatuh dalam lubang berisi air kotoranku sendiri. Meski tak terlihat, lubang ini dangkal sekali. Aku bisa lolos, tapi aku tak melihatnya. Sebab aku buta, Tuhan. Di mataku semuanya begitu tiada. Begitu gelap. Apakah Engkau juga akan menyalahi keberadaanku?  Tuhan sejagad...

Pungguk Biru

Sudah sepantasnya pungguk tak boleh diterima Ia harus dicaci dan dilecehkan Tak boleh dibela apalagi didengar suaranya Ia hanya boleh menangis diam-diam serta mendongak menunggu kepit ketiak langit Ia hanya boleh membiru,  Karam, hingga sirna bukan kepalang Lalu, ia mati tanpa ada satu yang tahu jasadnya ada di mana : ia sudah lama pergi, jauh sekali. Sebelum lukanya kering, ia sudah sering menghilang. Tubuhnya hanya ketetapan yang sementara. Mungkin, ia sedang menikmati kepahitan. Ucapnya lirih.  —Dinie Wicaksani

pungguk buruk rupa

Baiklah, mulai dari sekarang pungguk tak boleh merindukan naungan langit. Jangankan untuk mendapatkan perhatian dari bulan, setidaknya ia masih mempunyai dirinya sendiri. Untuk mencintai dan dicintai. Pungguk tak boleh mengadu, ia tetap harus menjaga dirinya sendiri. Sebab ia buruk rupanya, tak berharga tahtanya. Goblok pula tingkahnya. Tak mampu menjadi yang bisa diandalkan, pantas saja langit memusuhi. Jangankan bulan. Pungguk, sesekali menangislah di depan cermin. Barangkali bayanganmu akan membuatmu tertawa.  Pesanku, jangan buang-buang air mata. Sembuhkan saja lukamu, kalau ia belum kering jangan mau dipaksa pulang ke hadapan langit. Namun, jangan takut dihujani sebab bisa jadi air matamu akan tersamar. Belajarlah menyerap cahaya matahari, supaya kau sirna dalam penerangan. Sesekali menghilanglah.. tak apa, kau sudah biasa menghilang dalam kerumun. —Dinie Wicaksani

Monolog: Makhluk dari Neraka

Genjrengan pertama, Apa benar yang kutemukan adalah ketenangan.. genjerengan kedua, Apa benar yang kutemukan adalah kedamaian.. Gigil tersudut sepi pada temaram senjakala, sedangkan ini masih pagi dan belum tentu semuanya bahagia. Sebab mentari sudah tiba namun luka belum sepenuhnya binasa. Ada aku dan gitarku yang tak punya senar satu. Bisa jadi pagi tidak lagi biru, serta malam tidak lagi kelabu. Sebab seluruhnya baru tak seperti asal mula kau dahulu. Dan kemudian aku disebutnya perempuan dari neraka, sebab aku tak pernah ikut-ikutan berjejer dan bersujud di hadapan Tuhannya. Padahal aku selalu mengindahkan kasih sayang sesuai dengan ajarannya, tapi tetap saja aku adalah perempuan dari neraka. Yang tidak menutup tubuhnya dengan kain perca sebab aku perempuan dari neraka. Kemudian mereka menyandingkan aku dengan seluruh makhluk berdosa yang siap disiksa sampai binasa. Ya, ya, ya, ingat bahwa aku adalah makhluk dari neraka. O, Tuhan! Sungguh! aku tak hendak mangkir dariMu tapi ...

Yaje Buana

Denting jam terus berbunyi. Suara bising itu melengang. Deru mesin tik yang terus berbunyi kian lama kian mereda. Lembaran kertas usang berserakan di atas meja. Lenguh suara nafasnya mulai menderu. Ada raut kegelisahan pada air mukanya. Perlahan-lahan coretan demi coretan itu terus terseka pada kertas itu, semakin lama semakin penuh. Tak lama, ia berjingkat dari kursi kantornya. Kemudian berputar arah. Dari sudut yang lain, datang seorang perempuan menghampirinya. “Strategi pemulihan kota? Hahahaha!” Ucapnya sembari menjumput selembar dari kertas yang bersebaran itu. Tampak pada raut wajahnya sebuah ekspresi geli namun ada sedikit rasa iba pada sudut matanya. “Tak habis pikir, Pusara Wanta, seorang Kepala Bagian Perumusan Kerakyatan negara ini mulai kebingungan mencari cara.” Perempuan itu menghampirinya selangkah demi selangkah. Menyandingkan dirinya pada tubuh kekar berkemeja yang mulai lusuh itu. Pusara yang tengah membawa segelas kopi arabika membalikkan tubuhnya pad...
Menafsirkan ialah merancang ulang pemikiran. Dalam uaran asap kretekmu, aku memahami. Ada yang tak bisa disatukan. Lebih mengganjal dibandingkan kertas yang terlipat di bawah lemari yang miring dan oglek.  Di sana sudut mataku mengunci, pura-pura diam namun tetap memperhatikan. Setiap bara yang kau isap ialah kesepian. Dan aku bukanlah perempuan yang kau hisap sepinya.
"Kamu belum boleh menangis sebelum aku memalingkan wajah, jangan anggap lantas aku tega meninggalkanmu secepat ini." Secarik kertas itu terlipat rapi di atas buku-buku yang beserak. Di ruang kerja itu, ia bisa menapak tilas seluruh yang dipelajarinya hari ini. Maka tak segan ku tinggalkan di sana. Semula aku mengerti, pergi ialah bukan pilihan terbaik. Namun, apalagi yang dapat dilakukan oleh seorang yang disorientasi keputusan? Seperti jelaga yang diuarkan oleh kobar api para petani yang membakar batang-batang padi, mereka menguar pada lapisan bumi paling jauh. Tidak ada lagi pilihan selain pergi, dan berlari.  Lantas aku akan berhenti untuk mencintai, sebagai Putri Padi aku tetap mencintai seorang petani. Sayangnya, aku tak mampu memantaskan diri. Surat itu bertengger manis di atas sebuah buku yang pernah kita baca bersama. Manakala hujan begitu deras mengguyur kota, serta mata yang tak hendak terpejam kala temaram mulai menggenggam mentari yang padam. Buku itu syara...