Langsung ke konten utama

Postingan

"Kamu belum boleh menangis sebelum aku memalingkan wajah, jangan anggap lantas aku tega meninggalkanmu secepat ini." Secarik kertas itu terlipat rapi di atas buku-buku yang beserak. Di ruang kerja itu, ia bisa menapak tilas seluruh yang dipelajarinya hari ini. Maka tak segan ku tinggalkan di sana. Semula aku mengerti, pergi ialah bukan pilihan terbaik. Namun, apalagi yang dapat dilakukan oleh seorang yang disorientasi keputusan? Seperti jelaga yang diuarkan oleh kobar api para petani yang membakar batang-batang padi, mereka menguar pada lapisan bumi paling jauh. Tidak ada lagi pilihan selain pergi, dan berlari.  Lantas aku akan berhenti untuk mencintai, sebagai Putri Padi aku tetap mencintai seorang petani. Sayangnya, aku tak mampu memantaskan diri. Surat itu bertengger manis di atas sebuah buku yang pernah kita baca bersama. Manakala hujan begitu deras mengguyur kota, serta mata yang tak hendak terpejam kala temaram mulai menggenggam mentari yang padam. Buku itu syara...

Tegur Sapa #1

Hallo, anak-anak Ibu Peri! Semoga kesehatan merengkuh tubuh kalian semua ya. Semoga kesadaran juga tenga berada dalam benak dan mengungkap pikiran kita semua, sehingga kebaikan terus menghampiri. Lalu masih adakah yang mengganjal dalam hati kalian? Bulan puasa suda tiba-tiba nih, betapa cepatnya waktu bergulir dihadapan kita ya? Dengan begitu, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kawan-kawan yang menjalankan. Dan juga, saya ucapkan banyak terimakasih bagi kawan-kawan yang masih membaca dan menjadi pemirsa rutin blog ini.  Antusiasme itu memberikan kekuatan yang telak bagi saya untuk terus berbagi perihal keseharian saya. Nah, dalam postingan kali ini sebenarnya hanya untuk   menyapa para pengunjung blog. Masih ada beberapa cerita pendek yang akan diposting setelah ini, semoga cepat selesai, ya. Akhir-akhir ini jadwal menulis lepas agak padat hingga membuat semua daftar tulis mendadak tergeser, kemudian bukan lagi garapan sesuai dengan urutan pad...

Surat dari Kakak pada Adiknya

Teruntuk adik-adik perempuanku,  semoga kalian membaca surel ini dari rumah.. Berpuluh-puluh kilometer jarak tangan ini kembali berpelukan dengan udara Jarak yang jauh, serta rindu yang semakin riuh Sengaja ku kirimkan sebuah tulisan hangat dari jemari yang giat mengetik ini kepada kedua adikku yang jauh di pelupuk mata  Dari sana, Dik, aku mengerti betapa kelam dunia di perantauan. Ingin sedikitnya aku bercerita, ketika kelam malam membasuh tubuh ini. Seringkali aku kelimpungan dan seperti hendak jatuh. Ada kuasa dalam diriku yang seperti tidak mau dipaksakan untuk tenang dan diam.  Tepatnya adalah hati. Ia seperti gaduh dan hendak copot. Seringkali pula pada siang hari, aku merasa sendiri dalam keramaian. Sendiri dalam butiran peluh setiap kali aku hendak menyebrangi batas diriku sendiri. Aku seperti kelimpungan dan kehilangan arah. Tidak ada pedoman, maupun acuan yang jelas bagaimana dayaku harus berpijak. Sebab aku sendiri di sini, tanpa du...

Simposium Kereta: Putri Padi dan Petani

"Plaak!" Telapak tangan hangat yang selalu kurindukan itu menghantam pipi kiriku. Lantas ia mengepal. Seperti ada raut sesal dari pendar punggung tangannya. Diam dan menciut. Redam namun membara. Dalam sela-sela penyesalan itu, ada berjuta ladang padi yang terhisap habis oleh kemarau. Memberangus dengan perlahan, tak sejuk lagi. Wajahku. Dengan sisa sakit tamparan itu, aku diam memandanginya dengan geram. Gulita bersemayam. Aku tak kuasa, air mata itu kemuncak lepas meleleh. Berharap sesaat air mata mencoba menyejukkan ladang padi yang tandus itu. "Aku benar-benar sudah tak mengenalimu." Isak mulai cair, ludah yang kutelan mulai terasa pahit. Gelap dan tandus. Ia meraih tubuhku, berusaha mencari celah untuk mendekap. Pendar sesal itu ikut meluap dalam bibirnya. Seperti luberan air yang membludak keluar dari dalam belanga yang penuh. Ia kwalahan, ladang padi itu sudah berubah menjadi hamparan tanah yang kering dan retak.  "Maafkan aku." Ia te...

Teruntuk yang lalu

Adakah kau mengingat ketika kita saling dipertemukan oleh waktu?  Tawa dan canda seolah berseteru dengan masa waktu yang terus mempersempit sisanya. Kau pernah berkata, jika senyumku ialah debar candu yang menelusup seperti kupu-kupu yang menggelikan perutmu. Ada debar yang menyenangkan sebelum terlumat habis oleh kerisauan, jikalau tak bertemu seberapa lama hujan menggenangkan. Tersebut rindu serta toreh sendu seujung kuku dalam kalbu. Kau pun pernah berkata, jikalau kecupku ialah cannabie paling sadar. Melayangkan diri semacam embun udara pagi serta debu tengah hari.  Sementara itu,  katamu,  kenangan tentangku ialah materi paling sulit dari segala macam ujian yang ada. Sebab tiada yang mudah bagi rasa yang masih ada untuk meleburkannya begitu saja. Tanpa pandang bulu, seharusnya kau tinggalkan aku sejak dulu. Kini kau menangis pilu di samping sembilu. 

Bak Bayi Mungil

Berulang kali imaji, berulang kali perilaku sudah kau tampakkan ke permukaan.  Ia seperti menjadi budaya yang dengan mudah diwariskan pada anak cucu yang tak tahu apa-apa. Mendarah daging serta sulit dilepaskan. Mereka hanya mampu meniru tanpa menimbang, atau barangkali sesekali memikirkan baik atau buruknya. Namun, sebaik-baik kebiasaan adalah apa yang telah dilakukan berulangkali. kau selalu berujar bahwa jangan menjadi manusia yang sok kritis. Keresahan akan menghampiri orang-orang yang tak mau menjalankan aturan. Itu normatif sekali. Selalu begitu. Jangan-jangan kau diajarkan ketika membela diri ketika tidak bersalah adalah perilaku tercela. Orang tua macam apa yang mengajarkan anaknya untuk tidak memiliki hak jawab atas dirinya sendiri? Tubuhnya saja yang tua, namun tidak dengan pemikirannya.  Bak seorang bayi mungil yang terlahir tanpa dusta, seseorang berjalan sempoyongan dan sekenanya. Seperti tak memiliki kumpulan dosa yang harus siap sedia digantikan pada sa...

Tips saat influenza

Sudah terlampau lebih dari dua hari pada saat-saat malam hingga mentari berujung pada penerbitan dirinya, lampu tetap menyala. Ia tetap terjaga. Bukan seperti malam-malam lainnya, yang harus gelap. Ya, kamar ini harus gelap di malam hari. Jikalau tidak, lagi dan lagi aku tak bisa memejamkan diri. Namun, berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Ya, aku tidur terang-terangan. Tidak! Bukan karena ada "sesuatu" yang sedang singgah dan bercerita. Tetapi, nasib tubuh sedang gentar dari virus influenza. Ya Tuhan!!! Aku pilek! Ya, tak jadi apa memang karena layaknya musim pancaroba serta dal penghujung hari-hari ujian akademis. Entah kenapa sedari dulu pada minggu terakhir ujian, tubuh ini selalu kalah pertahanannya. Ujian apapun. Duh! Kebetulan memang minggu ini ialah minggu terakhir ujian tengah semester. Hm.. Pada awalnya, terasa sangat gatal pada hidung sebelah kanan. Entahlah, aku juga bingung ke apa harus sebelah kanan. Padahal aku tak bisa belok kanan jikalau mengendarai s...