Langsung ke konten utama

Postingan

Kidung Bhanu

(Ilustrasi foto oleh Sunnu Faizal) Berulang kali imaji.. Kau sapu bersih aksara.. Hisap habis hingga kerak.. Memungut jiwa yang berserak.. Umat manusia, panahan bumi astungkara Lila..lila sirna ing wengi.. Gumlathak laku lan atine.. Awujud binarung kidung Bhanu.. Ngalor ngidul mlaku njur mlayu Tumapak sinajan panguripan Seenggok cerita mengenai imajinasi serta makhluk tak kasat mata sudah pernah saya ulas dalam beberapa tulisan sebelum ini. Bila teman-teman ingat, pada tulisan saya yang berjudul Oneironaut dan juga cerpen yang berjudul Rasuk di situ banyak sekali cerita yang bertopik demikian. Entahlah, akhir-akhir ini saya selalu memikirkan hal tersebut.  Masa kanak-kanak ialah masa paling menyenangkan dalam hidup seseorang. Mereka memiliki imajinasi yang sangat lucu, energik, dan inovatif. Hal tersebut kemudian merambah pada tingkah dan juga perilaku anak tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan masa kecil Dimpi. Ya, Dimpi adalah nama panggil...

Cornelio

Meredalah.. Sesap hangat yang melenyapkan beberepa tetes kopi dalam cangkirku siang itu ialah pesan singkat yang kau kirimkan. Seperti ada yang berkobar dalam dada. Ya, ini bukan lagi perihal efek kopi yang mendebarkan setiap peminumnya.  kau tahu? Nel? Ucap maaf paling mencekam ialah ketika permintaan maaf yang telah kau berikan tetap mendiamkan lakumu sendiri.  Meredalah sejenak.. Maafkan aku belum mampu jadi peneduh. Aku hanya penyesap kopi yang tak tahu diri, mencintaimu tanpa ambang batas. Untuk Cornel, Juli kedua, 2017

OPERASI MAKNA KATA [5]

Jam dinding terus berdetak, tangan-tangan penuh darah masih siaga di atas meja operasi daging-daging terkoyak getir amis darah memasung tengkuk hidung suara mesin penghitung denyut jantung itu bertabrakan dengan leluasa haluan angin  mereka saling bertabrakan membangkitkan lagi semangat yang sempat ingin bergegas aku terdiam di pelosok jendela sekujur tubuh tulisan itu, dibedah maknanya penulis itu dikuliti rapuhnya sendiri Purwokerto, 21 Febuari 2017 —Dinie Wicaksani Nak, siang itu, apabila kalian ingat, kita tengah sibuk membedah naskah yang terpilih. Lakon Moksa judulnya, ia bercerita tentang sebuah negeri penuh khayalan yang sedang dilanda polemik berkepanjangan. Naskah ini ialah naskah yang cukup bersejarah bagiku, ia sempat membawaku ke Kudus dalam acara Pekan Seni Mahasiswa Daerah Jawa Tengah. Bila kalian tahu, sebuah kebanggaan yang teramat sangat dapat bersua dan bercanda dengan para penulis naskah dari masing-masing kota. Satu yang aku pelaja...

Cerita yang Tak Akan Pernah Usai

Ini adalah cerita yang tak akan pernah usai.. Terimakasih telah menjadikanku yang sekarang. Selalu tersenyum walaupun dilempari duka dan lara. Terimakasih telah menjadikan apa yang kau harapkan. Sejauh ini, senyummu ialah hal yang paling indah dari apa yang telah aku perjuangkan. Menatapi dengan rona pipi yang sama seperti pertama kali kita saling mengenal. Tiada yang mudah untuk sebuah penantian, bahkan untuk penantian yang tak berujung. Seperti menatapi sebuah kaca tebal yang buram, inginku berkaca namun tak terlihat seberkas bayangan pun. Namun tak apa, setidaknya aku masih dapat menjadi yang kau cari. Aku terus menikmati kerinduan ini, kerinduan yang tak sesekali berani ku ungkap. Siapakah aku di matamu? Berakhir di manakah diriku dapat berjalan? Aku bahkan seperti pengelana sejati yang berjalan tanpa tujuan. Memanggul suasana hati yang gahar ketika melihatmu dengan perempuan itu. Perempuan yang kau pilih dengan sadar. Menenggelamkan diriku pada lautan pasir yang debunya menyesa...

Freedom?

Angin berhembus menjilat kulitmu dengan resah. Kau genggam pasir sekepal, lalu kau hamburkan ke udara. Berlari-larian menapaki jalanan berpasir. Mungkin ombaknya tengah surut, dan desau angin pun sedang landai. Matahari baru saja menenggelamkan dirinya, sinarnya merefleksi apik dilautan. Kau terus berlari, kemudian menari-nari. Wajahmu kini samar-samar, hanya terlihat seperti siluet tubuh yang ramping. Dengan rambut tergerai yang indah. Kau sulut api di rokokmu yang mengacung di bibir. Asap itu menguar kemana-mana. Tetiba kau teringat akan ejekan-ejekan teman-temanmu di kampus dulu, tentang pakaianmu yang aneh ataupun gayamu yang berbeda. Kau hanya memakai kaos serba hitam, dengan bungkus rokok menyembul di kantung celanamu. Serta memakai jaket kulit warna gelap, tak lupa anting dan lipstick warna hitam. Tak ada yang salah bagimu. Kau hanya penggemar warna hitam, bukan pengikut aliran sesat yang layak untuk dihujat. Kau hanya duka memadukan warna. Asap itu terbang ke udara, berhamburan...

Batas Alegori [4]

tiada bisa dibungkus oleh sekepal tangan untuk sepenggal pengetahuan  dari kepala yang berbeda beragam rupa beragam rasa alur pendakian sebuah penerkaan dari sisi kiri hingga kanan kepala melintasi batas alegori imaji berkuasa beda kepala beda cara terka beda isi Purwokerto, 20 Febuari 2017 Mentari pagi menyambut sepasang bola mata dengan anggun. Ia memanaskan dirinya dari ujung kepalan langit. Menafkahi beberapa insan penebar rindu yang sedang sibuk memulai hari. Ada yang berbeda dengan hari ini, kicau burung menegaskan semangatnya. Berulang kali dahan-dahan melambaikan tubuhnya menyambut hari ini.  Pukul satu siang nanti, tepat pada mentari mulai meredupkan diri. Seluruh tim kepanggungan akan berkumpul bersama, mereka akan mempresentasikan apa yang telah mereka baca. Bila kalian dapat mengingat, suasana Sekre pada waktu itu sangatlah berbeda. Seperti ada gelora dari semesta yang memuncak, membuat seluruh benda yang mati ikut bersemangat barangkali untuk me...

Selintingan Isi Kepala Yang Pecah [3]

udara dingin meruah malam mulai ditumbuhi gerimis tak berkesudahan bias cahaya berwarna-warni jalanan sunyi seperti ujung kota pyar! bunyi apa itu? tak ada sesiapa.. siapa yang gaduh sekali? kepalamu sendiri malamku ditertawai angin Jalan Raya Puncak Pass, 18 Febuari 2017 Ada yang tak baik dari seluruh percakapan dalam otak ini. Sebentar lagi proses pentas ini akan dimulai, sudah kepalang janji aku kepada seluruh penduduk Lakon Moksa. Untuk mengumpulkan tubuh dan jiwanya menjadi satu pada tanggal 20 Febuari 2017. Itu berati dua hari lagi acara akan dimulai. Benar-benar ada yang salah dengan percakapan dalam kepala ini. Ia harus membebaskan dirinya dari segala rupa kecemasan. Ia harus mempersiapkan dirinya agar sanggup menghadapi apapun yang terjadi nantinya. Tidak lagi usaha tubuh yang harus selalu baik setiap saat, sehat setiap saat. Namun, pikiran pun demikian. Kau harus menjadi kepala dalam perjalanan panjang ini. Tiba-tiba sebulir air mata meneteskan dirinya, mampu...