Langsung ke konten utama

Postingan

Freedom?

Angin berhembus menjilat kulitmu dengan resah. Kau genggam pasir sekepal, lalu kau hamburkan ke udara. Berlari-larian menapaki jalanan berpasir. Mungkin ombaknya tengah surut, dan desau angin pun sedang landai. Matahari baru saja menenggelamkan dirinya, sinarnya merefleksi apik dilautan. Kau terus berlari, kemudian menari-nari. Wajahmu kini samar-samar, hanya terlihat seperti siluet tubuh yang ramping. Dengan rambut tergerai yang indah. Kau sulut api di rokokmu yang mengacung di bibir. Asap itu menguar kemana-mana. Tetiba kau teringat akan ejekan-ejekan teman-temanmu di kampus dulu, tentang pakaianmu yang aneh ataupun gayamu yang berbeda. Kau hanya memakai kaos serba hitam, dengan bungkus rokok menyembul di kantung celanamu. Serta memakai jaket kulit warna gelap, tak lupa anting dan lipstick warna hitam. Tak ada yang salah bagimu. Kau hanya penggemar warna hitam, bukan pengikut aliran sesat yang layak untuk dihujat. Kau hanya duka memadukan warna. Asap itu terbang ke udara, berhamburan...

Batas Alegori [4]

tiada bisa dibungkus oleh sekepal tangan untuk sepenggal pengetahuan  dari kepala yang berbeda beragam rupa beragam rasa alur pendakian sebuah penerkaan dari sisi kiri hingga kanan kepala melintasi batas alegori imaji berkuasa beda kepala beda cara terka beda isi Purwokerto, 20 Febuari 2017 Mentari pagi menyambut sepasang bola mata dengan anggun. Ia memanaskan dirinya dari ujung kepalan langit. Menafkahi beberapa insan penebar rindu yang sedang sibuk memulai hari. Ada yang berbeda dengan hari ini, kicau burung menegaskan semangatnya. Berulang kali dahan-dahan melambaikan tubuhnya menyambut hari ini.  Pukul satu siang nanti, tepat pada mentari mulai meredupkan diri. Seluruh tim kepanggungan akan berkumpul bersama, mereka akan mempresentasikan apa yang telah mereka baca. Bila kalian dapat mengingat, suasana Sekre pada waktu itu sangatlah berbeda. Seperti ada gelora dari semesta yang memuncak, membuat seluruh benda yang mati ikut bersemangat barangkali untuk me...

Selintingan Isi Kepala Yang Pecah [3]

udara dingin meruah malam mulai ditumbuhi gerimis tak berkesudahan bias cahaya berwarna-warni jalanan sunyi seperti ujung kota pyar! bunyi apa itu? tak ada sesiapa.. siapa yang gaduh sekali? kepalamu sendiri malamku ditertawai angin Jalan Raya Puncak Pass, 18 Febuari 2017 Ada yang tak baik dari seluruh percakapan dalam otak ini. Sebentar lagi proses pentas ini akan dimulai, sudah kepalang janji aku kepada seluruh penduduk Lakon Moksa. Untuk mengumpulkan tubuh dan jiwanya menjadi satu pada tanggal 20 Febuari 2017. Itu berati dua hari lagi acara akan dimulai. Benar-benar ada yang salah dengan percakapan dalam kepala ini. Ia harus membebaskan dirinya dari segala rupa kecemasan. Ia harus mempersiapkan dirinya agar sanggup menghadapi apapun yang terjadi nantinya. Tidak lagi usaha tubuh yang harus selalu baik setiap saat, sehat setiap saat. Namun, pikiran pun demikian. Kau harus menjadi kepala dalam perjalanan panjang ini. Tiba-tiba sebulir air mata meneteskan dirinya, mampu...

Laku Sebongkah Tubuh [2]

waktu saling bertaut ambisi besar umat manusia berlaku paling handal  tanpa tahu diri menanjak terus hingga lupa jalan turun sampai-sampai ia terpelanting jauh hingga parit paling keruh Bogor, 23 Januari 2017 Sebenarnya apa yang paling membosankan dari sebuah perjalanan panjang? Akankah dalam berkendara kita tahu seberapa banyak lagi rintangan yang akan menghadang sampai kita sampai pada tujuan? Lalu bagaimana caranya agar rintangan itu dapat terlampaui begitu saja? Jawabannya adalah melaluinya. Mungkin ini adalah caraku membabat habis seluruh ketakutan-ketakutan yang dihasilkan oleh penafasiran receh tadi, hingga pada eksekusinya biarlah angin membawa segala rupa peristiwa. Angin menuhankan dirinya, ia kemudian membawa segala rupa peristiwa dalam laku hidup manusia. Persis seperti apa yang aku pelajari saat itu. Drama ialah kualitas komunikasi yang dilakonkan oleh seseorang hingga memunculkan tragedi, ketegangan, serta alur cerita kepada komunikan. Sedangkan te...

Tungkap [1]

ia tungkap,  berwajah lesu serta bermandikan peluh di atas pelipis bibirnya pecah-pecah semburat gelisah menggelinjang tiap sudut datangnya arah desak kanan dan atau kiri pembelaan dan atau penolakan tepuk tangan menyeruak bingar ia mati dalam tawa ada yang tak disuka ada yang bangga penoreh harap tiada sanggup lagi menawarkan dekap ia tungkap dalam diam beban panjang terhadap Sekre Teater SiAnak, 17 Januari 2017 Ambisi atau toleransi? Tujuh jam dalam diam, aku menaruh harap supaya Pilari yang melanjutkannya. Tak ada yang bisa ku perbuat selain dirinyalah yang mengemban tanggung jawab ini. Proses panjang yang akan banyak mengorbankan sesuatu. Naskah pilihan penuh ambisi, aku presentasikan dengan baik. Ide-ide yang paling liar, ku torehkan sebagai bumbu retorika paling menjijikan. Tulisan itu tentang kebebasan seseorang dalam menginterpretasikan sesuatu, ia mampu terungkap baik melalui tindakan dan atau bagaimana caranya dalam berpendapat. Pilari, seorang pere...

Karantina Diri [Part 1]

Apa yang terjadi dalam ruangan ini? Kami  melihat ada yang berbeda dari biasanya. Lima orang masuk dengan muka yang muram. Tak ada senyumnya sama sekali. Salah seorang dari mereka memicingkan matanya lalu memaki empat yang lainnya. Ruangan ini cukup dingin, seharusnya mereka dapat saling menghangatkan. Lalu, tiba-tiba datang lagi seorang. Bertingkah sangat tegas dan beberapa kali memarahi salah seorang dari kelima orang itu karena tingkah lakunya tak sesuai dengannya.  Apa yang terjadi dengan rungan ini? Orang-orang yang biasa kami lihat di ruangan ini adalah perawakan kekar, keringat mereka menetes sembari menyimpan kami kembali ke ruangan ini. Sebagai bola, menjadi tugas kami ialah untuk dimainkan di lapangan yang sangat luas. Namun, ini sangatlah berbeda. Mereka memiliki aura yang berbeda, tak pernah kami setakut ini diam dalam ruangan ini. Ada yang sangat jahat, semena-mena serta merefleksikan sebuah kekuasaan yang tinggi. Tiga yang lainnya tunduk pada seorang yang jahat i...

Pada Sebuah Simpangan Jalan

Asap-asap menghambur ke udara Sebuah rokok yang tinggal separuh terhimpit pada jemari.. Dua kaleng bir pahit Serta lalu lalang orang berkepentingan Aku mematung Orang-orang berlarian  Entah apa yang mereka kejar Ketepatan waktu Atau tujuan-tujuan yang belum dicapai Bugis Street, Singapura 11 April 2017